Perkembangan Kronologi Penemuan Pesawat ATR di Sulawesi Selatan

SULAWESI SELATAN, kiprahkita.com Sabtu, 17 Januari 2026, sebuah pesawat ATR 42‑500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang membawa 11 orang dalam misi pengawasan udara dari Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat tersebut sewaan untuk Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, bukan penerbangan komersial biasa.

Kontak terakhir terjadi saat pesawat sedang melakukan maneuver pendekatan ke Bandara Sultan Hasanuddin. Komunikasi dengan air traffic control terputus mendadak, tanpa konfirmasi mengenai keadaan darurat dari pilot.

Sejurus setelah hilangnya kontak, tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan instansi daerah segera diterjunkan. Pencarian pertama fokus di kawasan karst pegunungan Leang‑Leang dan lereng Gunung Bulusaraung yang terkenal bermedan ekstrem dan berkabut – yang kemudian menjadi lokasi pencarian utama. 

Cuaca dan topografi yang buruk memperlambat operasi. Tim udara melaporkan kabut tebal, sementara tim darat harus bertindak hati‑hati menyusuri kontur lereng tajam, jurang di kanan kiri, dan vegetasi yang tebal.

Pencarian yang berlangsung sejak pagi hari 18 Januari 2026 akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 07.46 WITA, tim menemukan serpihan kecil jendela pesawat di sisi lereng curam daerah Maros, yang kemudian dilaporkan ke pos komando SAR. Temuan ini menjadi indikasi pertama kuat titik kecelakaan. 

Hanya tiga menit setelah itu, tim menemukan serpihan besar tubuh pesawat termasuk badan utama yang hancur. Lokasi serpihan itu berada pada lereng puncak Gunung Bulusaraung yang sangat sulit diakses, dikelilingi jurang dan kabut tebal.

Basarnas dan tim SAR pun kemudian memastikan bahwa bagian‑bagian pesawat yang ditemukan berasal dari ATR 42‑500 IAT yang hilang kontak sehari sebelumnya. Fuselage, bagian ekor, dan potongan lain dilaporkan berserakan – menandakan pesawat mengalami tumbukan keras dengan medan. 

Pendaki dan saksi lokal juga melaporkan pernah mendengar suara ledakan kuat sebelum ditemukannya serpihan di lereng Gunung Bulusaraung. Kejadian ini terjadi saat pesawat memasuki fase akhir penerbangan, menjelang pendaratan di Makassar.

Menurut pernyataan awal KNKT, kecelakaan ini kemungkinan besar dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT) — pesawat yang masih secara normal terbang namun tanpa sengaja mengenai permukaan tanah/relief medan karena navigasi atau orientasi yang salah. Hal ini diperkuat oleh kontur medan ekstrem di lokasi kejadian. 

Peristiwa ini menegaskan dua hal penting:

Pertama, meski pesawat sudah layak terbang saat take‑off dan prosedur operasi dilakukan, faktor medan dan kemungkinan kesalahan orientasi saat pendekatan di wilayah pegunungan bisa mengakibatkan tragedi fatal. detiknews

Kedua, pencarian dan evakuasi di medan ekstrem membutuhkan keterpaduan sumber daya manusia dan teknologi untuk mempercepat proses bantuan dan investigasi. Sementara itu, keluarga korban dan publik menunggu penjelasan rinci dari otoritas keselamatan penerbangan. https://www.metrotvnews.com

Kronologi penemuan pesawat ATR di Sulawesi Selatan bukan sekadar laporan penemuan serpihan, tetapi cerita panjang perjalanan pencarian di medan ekstrem, koordinasi lintas instansi, dan tantangan besar dalam upaya menemukan kebenaran di balik tragedi. Temuan di lereng Gunung Bulusaraung memberikan titik terang awal untuk penyelidikan yang lebih mendalam dan menjadi cerminan pentingnya kesiapsiagaan serta mitigasi risiko di kawasan penerbangan Indonesia yang geografisnya kompleks.  IDN Times Sulsel*

Posting Komentar

0 Komentar