ISRA’ DAN MI’RAJ: As-Siddiq VS Al-Kaddzab

JAKARTA, kiprahkita.com Rasulullah Muhammad SAW setelah selesai Isra’ dan Mir’raj duduk sedikit bermenung, memikirkan langkah taktis untuk memberitahukan kepada masyarakat, tentang peristiwa yang baru saja beliau alami. Dalam kejauhan Abu Jahal datang menghampiri beliau dan bertanya, apalagi gerangan yang akan disampaikan kepada public hari ini ya Muhammad sembari ngeledek, dan merendahkan. Rasul tetap melayani dan menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj dari awal sampai akhir.


Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta)


ISRA’ DAN MI’RAJ: As-Siddiq VS Al-Kaddzab

Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta)


Rasul mengatakan kepada Abu Jahal, bahwa beliau diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan berbagai peristiwa yang dialami; pengawalan Malaikat, kendaraan yang digunakan, dipertemukan dengan Roh Nabi-Nabi sebelumnya, sampai pada akhirnya bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha untuk sebuah perintah utama, mensyariatkan pelaksanaan Shalat sebanyak lima waktu sehari-semalam; Subuh, Dzhuhur, Ashar, Magrib dan Isya. 

Sontak Abu Jahal ketawa mengekeh dan terbersit dalam pikirannya bahwa memang sudah sempurna kegilaan Muhammad, ilusinya sudah mengalami tingkat tinggi, dia dapat berimajinasi dengan sempurna itu. Maka dengan kegilaan pemikiran yang ada pada sel-sel sharafnya, menantang Rasulullah, apakah kamu berani menyampaikan ini kepada segenap masyarakat?  Sontak Rasul menjawab iya saya akan mencari momentum untuk menyampaikan ini ke tengah-tengah masyarakat, maka Abu Jahal menantang sekarang saya yang mengumpulkan masyarakat hari ini di depan Ka’bah, kamu yang menceritakan peristiwa konyol ini kepada mereka.

Abu Jahal berpikir maka hari ini tamatlah perjalanan karir Muhammad. Setelah ditinggal istri tercinta Khadijah, ditinggal advokasi ulung Abu Thalib, maka hari ini momentum strategis Abu Jahal untuk mempermalukan Muhammad dihadapan segenap masyarakat. Ia memfasilitas pertemuan, beliau langsung menjadi event organizer pertemuan tersebut, menyiapkan segala hal untuk kebutuhan pertemuan dimaksud. 

Orang pertama yang langsung di provokasi Abu Jahal adalah Abu Bakar. Beliau berpikir kalau Abu Bakar sudah ia dapatkan, maka semua kekuatan Muhammad akan hilang. Beliau ditinggal sahabat dan rekan perjuangannya. Ia tinggal sendirian dalam sebuah ilusi dan sensasi spiritual yang konyol dan tidak masuk akal tersebut. Dengan memilih narasi terbaik ia sampaikan kepada Abu Bakar bahwa Muhammad telah kerasukan, menggigau sekarang berhalusinasi, beliau mengatakan melakukan Isra’ dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha dan langsung mi’raj ke Sidratul Muntaha.

Dengan tegas Abu Bakar mengatakan kalau Muhammad benar menyampaikan hal itu, atas kehendak Allah SWT saya yakin sepenuhnya. Inilah sikap orang As-Siddiq, membenarkan secara totalitas hal yang menyangkut transendentalitas, yang tidak bisa ditarik dalam dunia empiric, tetapi diyakini secara spiritualitas bahwa kekuasaan Allah SWT mutlak, tidak terbatas, tidak terukur, dan tidak terasionalisasikan dalam alur dan kerangka keilmuan. 

Di sinilah letak pertentangan, perlawanan, dan antagonistik antara As-Siddiq dengan Al-Kiddzib. Sang Al-Kaddzab ingin menjadikan hal ini sebagai momentum strategis memprovokasi, memfintah dan melakukan character assassination terhadap diri sang Rasulullah Muhammad SAW yang baru saja ditinggal oleh Istri tercinta dan Paman Terhormat, Khadijah dan Abu Thalib. Sekarang kekuasaan sudah beralih secara de facta dari Abu Thalib kepada Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, popoler disebut dengan Abu Lahab. Momentum ini akan dimanfaatkan untuk mempermalukan Muhammad di hadapan para pengikutnya. 

Abu Lahab berpikir bahwa perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dilakukan dengan tunggangan kuda yang sangat kencang memerlukan durasai waktu selama dua bulan perjalanan, jaraknya lebih kurang 1.300 KM (seribu tiga ratus kilo meter), kafilah berkuda dan berunta pada waktu itu memerlukan waktu 40 (empat puluh hari), itu kafilah yang sudah professional, dengan cuaca yang sudah baik. Sangatlah tidak masuk akal dilakukan oleh Muhammad hanya dalam waktu satu malam, apalagi sampai ke langit ke tujuh, Sidratul Muntaha, hal ini sempurna imajinasi dan halusinasinya, tegas beliau dengan penuh keyakinan.

Demikianlah hujjah yang disampaikan oleh kaum al-Kaddzab, menolak segala kebenaran yang hakiki diberikan Allah SWT, semua dicoba untuk dirasionalisasikan dikembangkan dalam tabulasi data empiric, proposisi dan narasi yang rasional dan argumentative. 

Abu Bakar mewakili kaum As-Siddiq berkeyakinan bahwa atas kehendak Allah SWT tidak ada yang mustahil, Allah Maha Besar, Maha Sempurna, Maha Awal, Tidak ada Akhir, Kekal selamanya dan tidak memiliki keterbatasan serta tidak mengenal ukuran dan perbandingan. Peristiwa Isra dan Mi’raj jelas perwujudan dari kemahasucian Allah SWT, inilah konteks subhanallazi. Kemahasucian digabungkan dengan proaktif Allah SWT, memperjalankan (asra).

Berangkat dari keinginan Allah SWT, bukan keinginan Rasulullah. Allah SWT berikeinginan untuk memperjalankan hambanya, Muhammad SAW secara utuh dan sempurna, bukan dalam bentuk mimpi, hanya roh saja, tetapi lengkap dengan physically, Rohani dan jasmani dalam kemasan yang sudah sangat sempurna, menembus tiga dimensi; alam makhluk, alam malakut dan lahut, bertemu langsung dengan Allah SWT; segala penghormatan, doa dan kebaikan hanyalah milik Allah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, beserta Rahmat Allah dan keberkahan-Nya. 

Provokasi, propaganda, dan character assassination yang dilakukan oleh Abu Jahal, jelas tidak memiliki hasil yang memuaskan bagi abu Jahal, tetapi bagi sang Rasul mendapatkan momentum strategis memberikan penjelasan ditambah dengan berbagai bukti penjelasan Rasul dari berbagai khafilah yang tengah berjalan dari Palestina menuju Makkah yang dapat dilihat dan dijelaskan oleh Rasul perjalanan mereka di malam yang sama dengan Rasul melakukan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqha. Misi utama Abu Jahal tidak berhasil mempermalukan Rasulullah SAW atas pertolongan dan hidayah Allah SWT kepada segenap kaum Muslimin dan mukminin. Keimanan kaum mukminin semakin bertambah dan kebencian kaum kaddzibiin terus meningkat. 

Refleksi Isra dan Mi’raj terhadap Keberlangsungan Bumi

Isra’ dan Mi’raj jelas peristiwa teologis yang diperingati dalam bentuk refleksi keimanan bahwa Allah SWT maha segalanya, sebuah zat yang tidak membutuhkan pemikiran terhadap eksistensinya, yang perlu dipikirkan adalah ayat yang telah diturunkan melalui para Rasul-Nya dan ayat-ayat yang ada di tengah kehidupan kita dalam bentuk fenomenologis, yang perlu diinterpretasikan sehingga menjadi data, konsep dan teori dikaji dalam system keilmuan.  

Allah SWT semenjak awal kerasulan Muhammad SWT memperingati manusia bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir. Berakhir secara personal dengan setiap manusia memiliki ajal. Apabila ajal telah tiba, roh berpisah dengan badan, badan di kuburkan ke tanah sebagai bentuk kausalitas, manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah, sementara roh dikumpulkan Allah dalam bentuk server yang belum terdeteksi oleh ilmuwan manapun, tapi akan dikembalikan lagi ke jasadnya.

Demikian juga alam raya ini Allah, menggariskan “apabila langit telah terbelah. Dan apanila Bintang-bintang telah jatuh berserakan. Dan apabila lautan telah meluap-luap. Dan apabila kuburan telah dibongkar. Mengetahui jiwa apa yang telah pernah dikerjakannya dahulu dan dia kerjakan kemudian” (Qs Al-Infithaar [82]:[1-5]).  

Berakhirnya kehidupan telah digambarkan Allah dalam bentuk diksi yang sangat rapi, elok dan enak tersebut. Berawal dari kerusakan atmosfier, anomaly benda-benda langit yang berdampak pada anomaly cuaca yang menghasilkan berbagai ekstrimitas; badai ekstrim, cuaca esktrim, lautan mengalami gelombang ekstrim. Maka hari yang dijanjikan tersebut Allah kembali mempertemukan antara roh dengan jasad yang sudah terkubur; baik di tanah, di laut, maupun berserakan di udara. Namun sebelum itu terjadai, jika bumi ini mengalami kerusakan secara equilibrium, niscaya akan berdampak terhadap ketidak nyamanan segenap makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini. 

Pemanasan global yang sudah hampir 1,60C yang sudah menimbulkan berbagai dampak; peningkatan intensitas bencana; longsor, banjir, peningkatan bencana hidrometeorologi. Krisis air bersih akibat kekeringan dan intrusi air laut. Ketahanan pangan yang rentan, karena gagal panen dan penurunan hasil pertanian yang sangat signifikan. Penyebaran penyakit lebih cepat (DBD, Malaria, dan heat stress). Kemiskinan dan pengangguran akibat rusaknya sektor pertanian dan perikanan. Konflik social dan konflik regional akibat perebutan sumber energi, seperti yang tengah dihadapi sekarang.

IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) sebuah badan ilmiah dibawah PBB berdiri tahu 1988 menyatakan bahwa untuk keamanan bumi dari pemanasan global membutuhkan kerja sama semua negara untuk melakukan berbagai kebijakan penurunan pemanasan global tidak melampau 1,50C.   

Bagi kalangan As-Siddiq berpandangan bahwa kiamat sebuah kepastian, dan keseimbangan alam, equilibrium sebuah keniscayaan untuk menciptakan kenyamanan kehidupan segenap makhluk ciptaan Allah, altruism. Tetapi bagi golongan al-Kiddzib berpandangan bahwa alam adalah kuasa manusia dan symbol kejayaan dan kedigdayaan dalam penguasaan sumber daya alam, muncullah pemahaman anthropocentrism, manusia pusat dan ukuran utama dalam alam semesta, alam dianggap bernilai sejauh memberi manfaat bagi manusia.

Manusia untuk mengeruk kekayaan yang melimpah, diperkenankan untuk mengekploitasi alam, karena alam akan menetralisasikan dirinya secara alamiah, tanpa butuh treatment dan rekayasa. Pandangan al-Kiddzib ini menciptakan suasana yang tengah dihadapi dunia, bencana muncul sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia agar bertaubat, tetapi manusia tuna ekologis itu telah pekak, tuli, buta dan bebal peringatan, merasa benar dan sombong. 

Isra’ dan Mi’raj perlu dijadikan wahana instrospeksi diri bahwa manusia dan semua makhluk ciptaan Allah semua diciptakan dalam ketaraturan yang sangat rapi, dan sangat seimbang. Manusia wajib menjaga segenap ciptaan Allah ini, agar semua yang menempati memiliki kenyamanan dalam melangsungkan kehidupan, dan berubudiyah kepada-Nya. Kematian itu pasti, tetapi manusia diwajibkan untuk menjaga kesehatan, agar lebih produktif, dan pro aktif berubudiyah kepada-Nya. 

Alam pasti akan berakhir dengan kiamat yang sudah ditetapkan Allah, tetapi sebelum itu, keseimbangan alam, equilibrium, keberlangsungan, sustainable perlu diperhatikan dan dipastikan tercipta, agar segenap makhluk ciptaan Allah mendapatkan kehidupan yang nyaman. Anthropocentrism dan eco-centrism perlu bertransformasi menjadi eco-theology, menempatkan kelestarian alam sebagai bagian dari tanggungjawab iman dan spiritual. Manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah wajib memelihara equilibrium dan sustainable agar alam nyaman ditempati oleh semua.*

Posting Komentar

0 Komentar