Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta)
JAKARTA, kiprahkita.com –Konsep Teo Ecology tengah di gadang-gadang oleh berbagai pihak sebagai alternative dari kegagalan konsep sebelumnya, anthropocentrism yang lebih menekankan peran dominasi manusia terhadap alam. Manusia merasakan bahwa alam ciptaan Allah SWT diberikan kepada manusia untuk kesejahteraan manusia, tanpa menghiraukan, memperhatikan dan peduli dengan keseimbangan alam (equilibrium system) dan keberlangsungan alam secara berkelanjutan (sustainability).
Manusia berusaha melakukan exploration, dalam rangka mengkaji dan memetakan berbagai sumber daya alam yang potensial dalam memberikan kesejahteraan manusia, terutama koorporasi dan negara. Setelah menemukan titik dan jenis yang akan memberikan keuntungan, dengan segala kekuatan manusia menggali, exploitation menjadikan sebagai sumber ekonomi yang memberikan keuntungan dan kekayaan untuk pribadi, koorporasi, komunitas dan negara. Alam sebagai ekosistem ciptaan yang maha kuasa memberikan kehidupan kepada segenap makluk ciptaan-Nya nyaris tidak diperhatikan, manusia tertutup mata, telingan dan pendengaran demi keuntungan yang diraih, lebih tepat diosebut dengan tuna ekologi.
Sekian banyak manusia yang
bergelimang dengan kesenangan dan kekayaan yang bersumber dari alam, tetapi
masih ada sebagian manusia yang menghidupkan nurani, menyalakan indra
ekologisnya, mereka merintih, berteriak dan berontak terhadap perilaku manusia
yang tuna ekologis tersebut, tetapi mereka tidak punya kuasa untuk menghentikan
perilaku buruk itu. Dengan segala konsistensi mereka tetap bersuara dan
mengajak dengan bijak, sekalipun di tengah sabana moralitas yang kacau dan
hingar bingar kepentingan.
Keprihatinan yang mendalam
terhadap kerusakan ekologi, menimbulkan usaha untuk merehabilitasi, merestorasi
dan meminimalisasi kerusakan ekologis atas ekploitasi alam akibat kepentingan ekonomi
dan pembangunan. Kesadaran inilah yang menghasilkan ecocentrism dalam
pemahaman hubungan baik manusia dengan alam. Manusia tidak boleh mengekploitasi
berlebih-lebihan alam untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan, tetapi semua
diperhatikan aspek keberlangsungan dan keseimbangan alam dalam bentuk analisis
terhadap dampak lingkungan atas tindakan manusia yang berhububngan dengan alam.
Pembangunan tempat tinggal, pengembangan proyek, pembuatan jalan dan berbagai
kegiatan manusia yang berhubungan dengan alam sebagai ekosistem, harus
dilakukan analisis mendalam dampaknya terhadapa ekosistem.
Manusia tersadar dari tidur pulas
selama ini, bahwa bumi sudah mengalami rintihan yang dalam, pemanasan muncul,
rata-rata suhu bumi mengalami peningkatan melebihi 1,5 derajat pasca revolusi
insdustri, hal ini memiliki dampak yang sangat significan terhadap anomaly
cuaca. Bumi yang penuh keteraturan, keseimbangan, musim yang terjadwal,
mengalami perubahan yang significan. Nyaris tidak dapat diprediksi jadwal musim
hujan dan musim panas, di tengah panas terjadi hujan besar, di tengah musim
hujan terjadi panas tinggi. Jadwal melaut dan jadwal bertanam tidak memiliki
kepastian, sehingga para nelayan banyak yang tidak dapat melaut dan petani
gagal panen akibat cuaca yang tidak beraturan.
Eco-Theologi Manusia
Sekitar 84-85% penduduk dunia
memeluk agama, sementara sisanya tidak beragama atau ateis, tetapi nyaris
ketika berhadapan dengan kepentingan, agama sebagai ideologi terabaikan,
manusia lebih mengedepankan kepentingan, dengan dalih nanti suatu saat masih
bisa bertaubat. Agama lebih digunakan pada momentum keagamaan, dalam urusan
keduniaan agama tidak begitu di kedepankan. Maka saatnya agama sebagai role
of life, agama bukan hanya untuk ritualitas, tetapi agama memberikan
pengayoman dalam kehidupan manusia dalam segenap aktifitas; privasi, interaksi,
transaksi, administrasi, legalitas, politik dan kenegaraan.
Agama sangat berkontribusi
terhadap manusia dalam membimbing berhubungan dengan alam, karena alam
diciptakan Allah SWT Tuhan yang maha kuasa, bukan hanya untuk manusia, tetapi
untuk segenap makhluk yang bernyawa yang Ia ciptakan, semua makhluk memiliki
keterkaitan satu dengan yang lainnya dalam satu system yang disebut dengan
ekosistem. Semua makhluk bertasbih, memuja, berzikir, dan memnsucikan Allah SWT
tunduk dibawah aturan dan perintah-Nya, maka manusia sebagai makhluk ciptaan
Allah SWT yang memiliki kesempurnaan, ditugaskan Allah SWT untuk memelihara,
mengatur, dan menjaga semua ciptaan Allah SWT di tengah ancaman orang-orang
yang tidak mengakui eksistensi Allah SWT.
Keimanan kepada Allah SWT
berdampak langsung terhadap sikap, komitmen dan kepedulian manusia terhadap
alam. Orang yang beriman menyadari bahwa ia adalah petugas Allah untuk
memuliaan alam dan lingkungan sebagai rumah bersama dalam menjalankan kehidupan
dan beribadah kepada Allah. Perilaku berbai-baik dengan lingkungan perwujudan keihsanan,
kebaikan dan akhlak manusia yang telah digariskan oleh Allah SWT. Melakukan
kebaikan, inovasi terhadap berbagai hal terkait dengan lingkungan merupakan
perwujudan dari ibadah kepada Allah SWT dan kebaikan terhadap segenap
ciptaan-Nya.
Konsep eco-teologi lebih
menyentuh aspek spiritual manusia dalam berhubungan dengan alam. Kebaikan
manusia terhadap alam, lingkungan dan ekologi dibawah pengawasan dan penilaian
Allah SWT. Kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk keshalehan, amal shaleh yang
dinilai Allah SWT sebagai ubudiyah kepada-Nya. Kreativitas untuk menciptakan
lingkungan yang lebih baik, inovasi yang dikembangkan untuk perbaikan
lingkungan, kemaslahatan makhluk ciptaan Ilahi merupakan perjuangan di jalan
Allah SWT, jihadul bi’ah.
Ramadhan
1447
Pada tanggal 18 Februari 2025
diyakini oleh penganut paham astronomis sebagai awal Ramadhan 1447 dan pada
tanggal 19 Februari 2025 sebagai penganut ru’yatul hilal, boleh berbeda tetapi
tujuan utamanya tetap melaksanakan ibadah yang disyariahkan Allah SWT kepada
Nabi dan Rasul-Nya semenjak dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW tetapi
kaifiyatnya yang berbeda. Bagi ummat Nabi Muhammad SAW kaifiyatnya setelah
meyakini bahwa Ramadhan masuk maka diwajibkan untuk menahan diri dari makan,
minum dan berhubungan biologis semenjak dari terbit fajar sampai dengan
terbenamnya matahari.
Esensi puasa menahan, imsak dari
proses biologis; makan, minum dan berhubungan badan dalam durasi terbit fajar hingga
terbenam matahari lebih kurang tiga belas jam tiga puluh menit tiga puluh
detik. Dilakukan secara kontinyuitas selama satu bulan lebih kurang dua puluh
sembilkan hari, dua belas jam, empat puluh empat menit, dua koma delapan detik.
Durasi itu manusia ditempa, dilatih, dibina, dan membiasakan diri untuk tetap
menghadirikan Allah dalam kehidupan, manusia yang berpuasa jujur dengan
dirinya, karena menyadari bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi, keihsanan
secara real of life dipraktekkan manusia selama satu bulan penuh.
Bulan inilah yang sangat
strategis memberikan penguatan terhadap eco-theology manusia, keimanan
bukan hanya sebagai konsepsi tetapi melekat dalam kehidupan dan menjadi jati
diri kaum yang tengah berpuasa. Eco-Theology secara implementatif
dimanifestasikan dalam iman, ilmu dan amal. Dalam keimanan melekat pada
pelaksanaan ibadah puasa, pelaksanaannya di dorong oleh iman untuk menggapai
taqwa, buah keimanan dalam kehidupan, berupa terbentuknya spiritualitas,
integritas, moralitas, dan personalitas.
Keilmuan menghasilkan inovasi,
karya ilmiah, kreativitas yang bernuasa akhlaqul kharimah, buah pemikiran,
literasi yang membimbing manusia untuk bersahabat dengan alam, untuk mewujudkan
kedekatan dengan Allah SWT. Berbuat baik, ihsan terhadap alam ciptaan Allah SWT
merupakan ubudiyah kepada pencipta, ibadah kepada Allah SWT. Kreativitas,
inovasi terhadap lingkungan dan sumber daya alam bagian dari ibadah kepada
Allah SWT, wajib dilakukan dalam bentuk komunitas dan sunnat muakkad dilakukan
oleh personal yang sudah beribadah mahdah (khusus); shalat dan puasa.
Amal kebaikan yang dilakukan
manusia, bukan hanya bersedekah kepada manusia yang lain, tetapi amal kebaikan
itu termasuk di dalamnya adalah berbuat baik terhadap lingkungan. Menjauhi
perbuatan penistaan terhadap lingkungan; haram bagi manusia untuk melakukan kesewenangan
terhadap alam, membuang sampah di Sungai, Danau dan laut, termasuk juga
menebang pohon dengan semena-mena yang akan menggangu ekosistem.
0 Komentar