Eco Teologi In Ramadhan 1447 H

Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta)


JAKARTA, kiprahkita.com Konsep Teo Ecology tengah di gadang-gadang oleh berbagai pihak sebagai alternative dari kegagalan konsep sebelumnya, anthropocentrism yang lebih menekankan peran dominasi manusia terhadap alam. Manusia merasakan bahwa alam ciptaan Allah SWT diberikan kepada manusia untuk kesejahteraan manusia, tanpa menghiraukan, memperhatikan dan peduli dengan keseimbangan alam (equilibrium system) dan keberlangsungan alam secara berkelanjutan (sustainability).


Manusia berusaha melakukan exploration, dalam rangka mengkaji dan memetakan berbagai sumber daya alam yang potensial dalam memberikan kesejahteraan manusia, terutama koorporasi dan negara. Setelah menemukan titik dan jenis yang akan memberikan keuntungan, dengan segala kekuatan manusia menggali, exploitation menjadikan sebagai sumber ekonomi yang memberikan keuntungan dan kekayaan untuk pribadi, koorporasi, komunitas dan negara. Alam sebagai ekosistem ciptaan yang maha kuasa memberikan kehidupan kepada segenap makluk ciptaan-Nya nyaris tidak diperhatikan, manusia tertutup mata, telingan dan pendengaran demi keuntungan yang diraih, lebih tepat diosebut dengan tuna ekologi.     


Sekian banyak manusia yang bergelimang dengan kesenangan dan kekayaan yang bersumber dari alam, tetapi masih ada sebagian manusia yang menghidupkan nurani, menyalakan indra ekologisnya, mereka merintih, berteriak dan berontak terhadap perilaku manusia yang tuna ekologis tersebut, tetapi mereka tidak punya kuasa untuk menghentikan perilaku buruk itu. Dengan segala konsistensi mereka tetap bersuara dan mengajak dengan bijak, sekalipun di tengah sabana moralitas yang kacau dan hingar bingar kepentingan.


Keprihatinan yang mendalam terhadap kerusakan ekologi, menimbulkan usaha untuk merehabilitasi, merestorasi dan meminimalisasi kerusakan ekologis atas ekploitasi alam akibat kepentingan ekonomi dan pembangunan. Kesadaran inilah yang menghasilkan ecocentrism dalam pemahaman hubungan baik manusia dengan alam. Manusia tidak boleh mengekploitasi berlebih-lebihan alam untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan, tetapi semua diperhatikan aspek keberlangsungan dan keseimbangan alam dalam bentuk analisis terhadap dampak lingkungan atas tindakan manusia yang berhububngan dengan alam. Pembangunan tempat tinggal, pengembangan proyek, pembuatan jalan dan berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan alam sebagai ekosistem, harus dilakukan analisis mendalam dampaknya terhadapa ekosistem. 


Manusia tersadar dari tidur pulas selama ini, bahwa bumi sudah mengalami rintihan yang dalam, pemanasan muncul, rata-rata suhu bumi mengalami peningkatan melebihi 1,5 derajat pasca revolusi insdustri, hal ini memiliki dampak yang sangat significan terhadap anomaly cuaca. Bumi yang penuh keteraturan, keseimbangan, musim yang terjadwal, mengalami perubahan yang significan. Nyaris tidak dapat diprediksi jadwal musim hujan dan musim panas, di tengah panas terjadi hujan besar, di tengah musim hujan terjadi panas tinggi. Jadwal melaut dan jadwal bertanam tidak memiliki kepastian, sehingga para nelayan banyak yang tidak dapat melaut dan petani gagal panen akibat cuaca yang tidak beraturan.


Eco-Theologi Manusia

Sekitar 84-85% penduduk dunia memeluk agama, sementara sisanya tidak beragama atau ateis, tetapi nyaris ketika berhadapan dengan kepentingan, agama sebagai ideologi terabaikan, manusia lebih mengedepankan kepentingan, dengan dalih nanti suatu saat masih bisa bertaubat. Agama lebih digunakan pada momentum keagamaan, dalam urusan keduniaan agama tidak begitu di kedepankan. Maka saatnya agama sebagai role of life, agama bukan hanya untuk ritualitas, tetapi agama memberikan pengayoman dalam kehidupan manusia dalam segenap aktifitas; privasi, interaksi, transaksi, administrasi, legalitas, politik dan kenegaraan.  


Agama sangat berkontribusi terhadap manusia dalam membimbing berhubungan dengan alam, karena alam diciptakan Allah SWT Tuhan yang maha kuasa, bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk segenap makhluk yang bernyawa yang Ia ciptakan, semua makhluk memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya dalam satu system yang disebut dengan ekosistem. Semua makhluk bertasbih, memuja, berzikir, dan memnsucikan Allah SWT tunduk dibawah aturan dan perintah-Nya, maka manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki kesempurnaan, ditugaskan Allah SWT untuk memelihara, mengatur, dan menjaga semua ciptaan Allah SWT di tengah ancaman orang-orang yang tidak mengakui eksistensi Allah SWT.


Keimanan kepada Allah SWT berdampak langsung terhadap sikap, komitmen dan kepedulian manusia terhadap alam. Orang yang beriman menyadari bahwa ia adalah petugas Allah untuk memuliaan alam dan lingkungan sebagai rumah bersama dalam menjalankan kehidupan dan beribadah kepada Allah. Perilaku berbai-baik dengan lingkungan perwujudan keihsanan, kebaikan dan akhlak manusia yang telah digariskan oleh Allah SWT. Melakukan kebaikan, inovasi terhadap berbagai hal terkait dengan lingkungan merupakan perwujudan dari ibadah kepada Allah SWT dan kebaikan terhadap segenap ciptaan-Nya.


Konsep eco-teologi lebih menyentuh aspek spiritual manusia dalam berhubungan dengan alam. Kebaikan manusia terhadap alam, lingkungan dan ekologi dibawah pengawasan dan penilaian Allah SWT. Kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk keshalehan, amal shaleh yang dinilai Allah SWT sebagai ubudiyah kepada-Nya. Kreativitas untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, inovasi yang dikembangkan untuk perbaikan lingkungan, kemaslahatan makhluk ciptaan Ilahi merupakan perjuangan di jalan Allah SWT, jihadul bi’ah.


Ramadhan 1447

Pada tanggal 18 Februari 2025 diyakini oleh penganut paham astronomis sebagai awal Ramadhan 1447 dan pada tanggal 19 Februari 2025 sebagai penganut ru’yatul hilal, boleh berbeda tetapi tujuan utamanya tetap melaksanakan ibadah yang disyariahkan Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya semenjak dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW tetapi kaifiyatnya yang berbeda. Bagi ummat Nabi Muhammad SAW kaifiyatnya setelah meyakini bahwa Ramadhan masuk maka diwajibkan untuk menahan diri dari makan, minum dan berhubungan biologis semenjak dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari.  


Esensi puasa menahan, imsak dari proses biologis; makan, minum dan berhubungan badan dalam durasi terbit fajar hingga terbenam matahari lebih kurang tiga belas jam tiga puluh menit tiga puluh detik. Dilakukan secara kontinyuitas selama satu bulan lebih kurang dua puluh sembilkan hari, dua belas jam, empat puluh empat menit, dua koma delapan detik. Durasi itu manusia ditempa, dilatih, dibina, dan membiasakan diri untuk tetap menghadirikan Allah dalam kehidupan, manusia yang berpuasa jujur dengan dirinya, karena menyadari bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi, keihsanan secara real of life dipraktekkan manusia selama satu bulan penuh.


Bulan inilah yang sangat strategis memberikan penguatan terhadap eco-theology manusia, keimanan bukan hanya sebagai konsepsi tetapi melekat dalam kehidupan dan menjadi jati diri kaum yang tengah berpuasa. Eco-Theology secara implementatif dimanifestasikan dalam iman, ilmu dan amal. Dalam keimanan melekat pada pelaksanaan ibadah puasa, pelaksanaannya di dorong oleh iman untuk menggapai taqwa, buah keimanan dalam kehidupan, berupa terbentuknya spiritualitas, integritas, moralitas, dan personalitas.


Keilmuan menghasilkan inovasi, karya ilmiah, kreativitas yang bernuasa akhlaqul kharimah, buah pemikiran, literasi yang membimbing manusia untuk bersahabat dengan alam, untuk mewujudkan kedekatan dengan Allah SWT. Berbuat baik, ihsan terhadap alam ciptaan Allah SWT merupakan ubudiyah kepada pencipta, ibadah kepada Allah SWT. Kreativitas, inovasi terhadap lingkungan dan sumber daya alam bagian dari ibadah kepada Allah SWT, wajib dilakukan dalam bentuk komunitas dan sunnat muakkad dilakukan oleh personal yang sudah beribadah mahdah (khusus); shalat dan puasa.


Amal kebaikan yang dilakukan manusia, bukan hanya bersedekah kepada manusia yang lain, tetapi amal kebaikan itu termasuk di dalamnya adalah berbuat baik terhadap lingkungan. Menjauhi perbuatan penistaan terhadap lingkungan; haram bagi manusia untuk melakukan kesewenangan terhadap alam, membuang sampah di Sungai, Danau dan laut, termasuk juga menebang pohon dengan semena-mena yang akan menggangu ekosistem.


Dalam menjalanlkan ibadah Ramadhan sebagai perwujudan eco-theology, dapat diimplementasikan secara pribadi, keluarga dan komunitas dalam bentuk gerakan eco-Ramadhan, berpuasalah dengan tidak berlebih-lebihan dalam berbuka. Puasa menahan diri, termasuk menahan keinginan untuk berlebih-lebihan dalam konsumerisme, menghindari penggunaan benda-benda yang menimbulkan sampah (waste). Berusaha untuk mengolah dan mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, sehingga tidak menimbulkan penambahan sampah pada pembuangan akhir. Wallahu ‘alam. 
Suhardin*

Posting Komentar

0 Komentar