Catatan MUSRIADI MUSANIF
(Wartawan Utama/Sekretaris PWI Kabupaten Tanah Datar)
OPINI, kiprahkita.com - Hamka sangat bangga menjadi anak Minangkabau, sebagai bagian integral dari kelompok besar bernama Melayu. Beliau punya keyakinan kuat, Melayu takkan berarti sama sekali tanpa Islam.
“Tak ada Melayu tanpa Islam, di balik Melayu adalah Islam. Melayu tanpa Islam, maka hilanglah me-nya, maka layulah ia. Minangkabau tanpa Islam, maka hilanglah minangnya, tinggallah kerbau,” terang Hamka suatu ketika, sebagaimana dikutip Rusydi Hamka dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, terbitan Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983.
Satu hal yang kini mulai jarang dibicarakan orang, Melayu memiliki saham yang amat besar dalam Bahasa Indonesia. Bagi penulis-penulis asal Minangkabau, Medan merupakan titik sentral Bahasa Melayu tersebut.
Di dalam Bahasa Melayu, pengaruh Islam dan Bahasa Arab sangatlah kental. Ini pulalah alasan lain, kenapa Hamka sangat mencintai bahasa tersebut.
Dalam pidatonya pada salah satu sidang Konstituante membahas tentang Bahasa Indonesia, Hamka tegas-tegas menyatakan, lidah Melayu yang telah menerima Islam sejak abad-abad pertama tahun hijriyah, tidak asing lagi dengan istilah Arab bahasa agamanya. Oleh sebab itu, Bahasa Arab dapat memperkaya Bahasa Indonesia.
Pada tahun 1959, setelah lama meninggalkan Medan (1945), Hamka kembali ke kota itu dalam kapasitas sebagai seorang pemakalah pada Seminar Bahasa Indonesia. Seminar tersebut diikuti pula utusan dari Semenanjung Tanah Melayu yang diketuai oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Malaya Tun Abdul Razak. Tun beberapa waktu kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia.
BACA JUGA
- Medan Kota Hamka Mengawali Sukses Sebagai Wartawan
- Hamka, Islam, dan Minangkabau
- Nan Tertinggal dalam Film Buya Hamka
Kongres yang menyepakati Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang diperkaya oleh bahasa-bahasa daerah itu, cukup memuaskan Hamka. Pasalnya peserta kongres sepaham dengan gagasan yang beliau usung, yakni Bahasa Arab memiliki peranan penting dalam Bahasa Melayu, dan oleh karenanya, Bahasa Arab diakui pula menjadi salah satu sumber perbendaharaan Bahasa Indonesia.
Ariny Rahmawati Sugiarto, dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dalam karya tulisnya bertajuk Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi dan Media Integritas Bangsa Indonesia juga menegaskan betapa pentingnya peranan Bahasa Melayu.
Sayangnya, Ariny tidak merujuk sedikit pun pernyataan-pernyataan Hamka dalam literaturnya. “Dari sudut intern linguistik, Bahasa Indonesia merupakan salah satu varian historis, varian sosial, maupun varian regional dari Bahasa Melayu. Dikatakan varian historis, karena Bahasa Indonesia merupakan kelanjutan dari Bahasa Melayu, bukan dari bahasa lain di Asia Tenggara ini," katanya.
"Dikatakan varian sosial, karena Bahasa Indonesia dipergunakan oleh sekelompok masyarakat yang menamakan diri bangsa Indonesia yang tidak sama dengan bangsa Malaysia atau bangsa Brunei yang mempergunakan varian Bahasa Melayu lain. Dikatakan carian regional, karena Bahasa Indonesia dipergunakan di wilayah yang sekarang disebut Republik Indonesia,” sebut Ariny.
Dalam sebuah makalah yang kemudian diterbitkan sebagai artikel di surat kabar Utusan Malaysia edisi 30 April 2001, Prof. Datuk Dr. Siddik Fadzil membeberkan panjang lebar tentang betapa Hamka memiliki komitmen kuat terhadap peranan penting Melayu dalam peradaban dunia.
Sebagai ilmuwan, terangnya dalam tulisan berjudul Martabat Umat Melayu Menurut Hamka itu, pemikiran Hamka telah memberikan perhatian serius terhadap isu-isu kemelayuan dan keislaman. Roh Islam dan semangat kemelayuan, ibarat dua sisi mata uang dalam diri Hamka. Tak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya.
Datuk Siddik nampaknya amat meyakini, Hamka sangat mencintai seluruh bumi Melayu, bukan hanya sekedar bahasanya saja. Hamka tidak membedakan antara Sumatera dengan tanah Melayu lain, termasuk Malaysia.
Hamka menjadi sangat terharu ketika Malaysia sebagai salah satu Tanah Melayu berhasil mencapai kemerdekaan pada tahun 1957.
Melayu, menurut Hamka, adalah orang yang berbahasa Melayu, berfikir, merasa, menangis, tertawa, tidur dan bangun dalam Bahasa Melayu. Bahasa Melayu, tambah Hamka sebagai dibeberkan Siddiq, terbukti berhasil mempersatukan ribuan pulau dan dialek yang dihuni bangsa-bangsa Melayu di dunia ini. Bahasa Melayu yang murni itu adalah adalah bahasa yang belum terkontaminasi Bahasa Jawa dan Sanskerta.
“Bertolak daripada hakikat itulah Hamka memperjuangkan Bahasa Melayu dan memelihara kemurniannya dengan penuh rasa cemburu. Bukan beliau tidak menyadari bahwa bahasa harus dinamik, maju dan berkembang, dan untuk itu ia harus bersedia meminjam dan menyerap kata-kata asing seperlunya. Yang beliau tentang ialah keinginan untuk mencabut bahasa Indonesia dari akarnya iaitu Bahasa Melayu,” terang Prof. Siddik.
Selain bahasa, Hamka menekankan, ciri kemelayuan lainnya adalah Islam, tanpa mengabaikan pandangan bahwa memang ada bangsa Melayu yang beragama selain dari Islam. Satu hal yang perlu diperhatikan, sebut Siddik, Melayu memang tidak dapaat dipisahkan dari Islam.
“Keislaman umat Melayu Muslim itulah yang selamanya menjadi tumpuan perhatian dan keprihatinan Hamka. Baginya, Islamlah yang menjadi teras kekuatan mereka, dan sekaligus menjadi faktor pemersatu yang mendasari semangat kebangsaan," terang Siddiq.
Hamka, imbuhnya, adalah ilmuwan pemikir Melayu yang menyaksikan gelora kebangkitan umat menentang penjajahan, merebut kemerdekaan dan membangun kemajuan. Hamka jelas ikut terhimbau lalu berusaha menanganinya dalam konteks umat Melayu.***

0 Komentar