JAKARTA, kiprahkita.com –Seorang profesor nutrisi berusia 89 tahun berbagi prinsip-prinsip makan yang telah ia pegang sepanjang hidupnya, yang menurutnya menjadi kunci menjaga kesehatan dan vitalitas di usia senja.
![]() |
Ia mengatakan bahwa ia jarang makan sarapan pada jam biasa, dan sering kali baru makan pertama kali sekitar pukul 11 siang atau lebih. Baginya, yang terpenting bukanlah waktu makan, tetapi kualitas makanan dan bagaimana tubuh meresponsnya. Ia percaya orang sebaiknya makan hanya saat benar-benar merasa lapar, bukan berdasarkan kebiasaan atau aturan yang kaku.
Dalam pola makan sehari-harinya, Profesor Nestle memilih makanan yang sederhana dan segar. Menu hariannya biasanya meliputi sereal minimal proses yang dipadukan dengan buah, sandwich atau salad sayuran untuk makan siang, dan makan malam yang ringan namun bergizi. Ia juga lebih sering memasak sendiri agar bisa mengontrol jumlah lemak, garam, dan gula dalam makanan.
Prinsip utamanya adalah:nMenghindari makanan ultra-olahan yang tinggi bahan buatan. Memprioritaskan makanan nabati segar seperti buah, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Mengonsumsi segala sesuatu dalam jumlah sedang, tanpa larangan ketat, tetapi menjaga porsi agar tidak berlebihan.
Ia juga memilih camilan sehat seperti buah atau kacang, dan tetap bersantai menikmati sesekali makanan favoritnya seperti es krim vanila, asalkan tetap dalam batas yang sehat.
Di luar pola makan, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki sehari-hari juga menjadi bagian gaya hidup sehatnya, membantu menjaga kebugaran meskipun tanpa rutinitas gym yang berat.
“Makan Sesuai Tubuhmu”: Etika Makan Seorang Profesor Usia 89 Tahun
Di tengah era wellness culture yang penuh klaim bombastis dan diet mode yang silih berganti, suara seorang ahli sejati sering tenggelam di antara seruan tren. Namun, ketika Marion Nestle, seorang profesor nutrisi 89 tahun, berbicara tentang prinsip makan hidupnya, suaranya tidak hanya relevan — ia berfungsi sebagai cermin tajam atas cara kita memaknai makanan hari ini.
Apa yang mengejutkan dari kisah Nestle bukan sekadar usianya, melainkan fundamentalisme sederhana yang dia pegang: makanlah sederhana, secukupnya, dan yang terpenting — dengarkan tubuhmu. Dalam budaya yang sering memuja kuantitas — lebih banyak protein, lebih banyak superfood, lebih banyak sepanjang waktu — Nestle justru menyarankan sesuatu yang konter-intuitif: hanya makan ketika benar-benar lapar, bahkan jika itu berarti melewatkan sarapan tradisional.
Prinsip ini tampaknya kecil, tetapi justru itu kuncinya: ia memindahkan fokus dari aturan eksternal — “sarapan adalah kewajiban”, “dua porsi protein di setiap piring” — kepada hubungan sadar antara tubuh dan makanan. Banyak panduan kesehatan global menekankan pola makan teratur dan struktur waktu makan yang kaku; Nestle justru mengembalikan otoritas itu kepada individu. Báo Ä‘iện tá» Dân TrÃ
Lebih dari sekadar waktu makan, profesor ini berpegang pada pilihan makanan yang minim diproses, berasal dari tumbuhan, dan diolah dengan cara sederhana. Ia tidak hanya menghindari “junk food”; ia menyadari bahwa tubuh manusia bukanlah tempat pembuangan bahan tambahan dan formulasi industri makanan, tetapi sebuah sistem kompleks yang lebih baik disokong oleh makanan utuh.
Namun di sinilah kritik tajam terhadap kultur diet modern muncul: banyak panduan gizi komersial yang memadukan ilmu dengan kepentingan industri. Ide bahwa sarapan adalah “makanan terpenting hari ini”, misalnya, sering diduga berasal dari narasi yang didukung oleh industri sereal — bukan kajian ilmiah independen. Nestle secara implisit menyerang narasi semacam itu dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Lebih jauh lagi, Nestle menunjukkan bahwa ketidakteraturan jam makan tidak selalu buruk, selama keputusan itu diinformasikan oleh kebutuhan tubuh — sebuah ide yang menantang banyak rekomendasi gizi yang menekankan rutinitas ekstrem seperti intermiten puasa atau jendela makan yang sangat kaku. Ia justru menekankan kualitas makanan, bukan waktu makan yang seragam.
Dalam praktiknya, gaya hidup Nestle bukanlah dogma berat. Ia tetap makan di luar, tetap menikmati makanan favoritnya, tetapi dengan kontrol porsi dan kesadaran penuh — bukan karena larangan moral, tetapi karena memahami efek makanan pada tubuh. Ini adalah bentuk etika makan yang matang, di mana makanan adalah nutrien sekaligus pengalaman yang dihargai, bukan sekadar angka atau aturan.
Pada akhirnya, pelajaran dari profesor berusia 89 tahun ini bukan hanya tentang apa yang harus dimakan, tetapi bagaimana kita memaknai makan itu sendiri: sebagai dialog antara tubuh dan dunia, bukan sebagai proyek performatif di bawah pantauan tren. Dalam era di mana suara-suara gizi mudah dimanfaatkan oleh industri, prinsip makan sederhana dan sadar ini adalah kritik paling tajam terhadap konsumsi tanpa renungan — dan sekaligus, petunjuk bijak untuk hidup lebih sehat. vietnam.vn*

0 Komentar