JAKARTA, kiprahkita.com –SEJARAH selalu berulang dengan wajah yang berbeda. Dahulu di masa Rasulullah saw, dunia terbelah antara dua kekuatan besar, Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia.
Hari ini, peta itu berubah rupa, tetapi logikanya tetap sama, yaitu pertarungan hegemoni di Timur Tengah, antara Israel dan Amerika Serikat di satu sisi, dan Iran di sisi lain. Sedang negara-negara Arab lainnya sudah tunduk didikte Israel-Amerika.
Allah SWT berfirman di dalam surah Ar-Rum ayat 3–4 :
“Telah dikalahkan bangsa Rum (Romawi) di negeri yang terdekat; dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun. Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman.”
Mengapa kaum muslimin bergembira dan lebih berpihak kepada kemenangan Romawi? Karena Romawi adalah Ahli Kitab. Mereka masih memiliki akar tauhid, meskipun telah menyimpang. Sedangkan Persia saat itu menganut majusi, penyembah api. Secara akidah, Romawi lebih dekat kepada tauhid dibanding Persia. Maka keberpihakan kaum muslimin bukan karena politik dunia, tetapi karena pertimbangan nilai dan maslahat.
Sebagai sebuah ajaran mulia, Islam tidak mengajarkan kita netral dalam segala hal. Islam mengajarkan kita berpihak kepada kebenaran dan kemaslahatan.
Allah berfirman : “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Qs. Al-Ma'idah ayat 2)
Artinya, sikap umat Islam harus didasari oleh pembelaan terhadap kemaslahatan umat dan perlindungan terhadap kaum lemah.
Maka jika kita membaca konflik hari ini antara Israel-Amerika vs Iran, pertanyaannya bukan sekadar “Siapa yang Islam?”, tetapi "Siapa yang jika menang akan lebih merugikan umat Islam secara luas?"
Kalkulasinya adalah jika Iran kalah total dan hegemoni kawasan sepenuhnya berada di tangan Israel-Amerika, maka keseimbangan politik Timur Tengah berubah drastis. Palestina makin terjepit karena --walau Iran beraqidah syi'ah yang keluar dari aqidah ahlus sunnah wal jama'ah-- tapi kenyataanya Iran banyak membantu pejuang Palestina, terutama di Gaza. Sedang negara muslim Arab lainnya hampir tak ada geliatnya untuk membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.
Sejarah menunjukkan, dominasi tunggal tanpa penyeimbang seringkali melahirkan kezaliman. Allah SWT berfirman: “Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini.” (Qs. Al-Baqarah ayat 251)
Ayat ini menunjukkan adanya sunnatullah tentang keseimbangan kekuatan. Kadang Allah membiarkan satu kekuatan menjadi penahan bagi kekuatan lain agar tidak terjadi kerusakan total.
Keberpihakan kaum muslimin di masa Rasullullah saw terhadap Romawi bukan berarti mereka mencintai Romawi. Itu adalah pilihan realistis berbasis maslahat pada saat itu. Oleh karena itu, umat Islam hari ini harus cerdas membaca situasi. Jangan sampai hegemoni yang lebih berbahaya terhadap umat muslim justru terjadi, yakni ketika Israel-Amerika berhasil menumbangkan rezim Iran saat ini.
Memang idealnya umat Islam bersatu dan kuat tanpa bergantung pada kekuatan mana pun, termasuk kepada Iran yang aqidahnya syi'ah. Namun realitas politik global berkata lain. Dalam situasi seperti ini, sikap yang lebih mendekati hikmah adalah menimbang mana yang lebih kecil mudharatnya dan lebih besar maslahatnya bagi umat Islam secara keseluruhan.
Kaedah fikih mengatakan : “Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.” Dan juga :
“Dipilih mudharat yang lebih ringan ketika harus menghadapi dua mudharat.” Maka seperti antara Romawi dan Persia dahulu, dimana kaum muslimin berharap akan kemenangan Romawi karena mempertimbangkan kedekatan akidah dan mana yang lebih maslahat, saat ini ketika terjadi perang antara Israel-Amerika dan Iran seyogyanya umat Islam lebih berpihak kepada Iran. Bukan malah bersikap netral atau masa bodo. Sebab kemenangan Israel-Amerika akan melahirkan hegemoni tunggal yang merugikan umat Islam dalam jangka panjang.
Hal ini bukan sikap fanatisme sempit atau loyalitas buta. Namun karena keberpihakan kita kepada kemaslahatan umat dan nilai-nilai aqidah.
Semoga Allah SWT memberikan umat ini bashirah (kejernihan pandangan), menyatukan hati kaum muslimin, dan menyelamatkan negeri-negeri Islam dari kehancuran. Aamiiin yaa robbal 'aalamiin.*
0 Komentar