Advokat Soroti Jalannya Sidang Nadiem Makarim, Harap Hakim Putuskan dengan Jernih dan Adil


JAKARTA, kiprahkita.com Seorang advokat senior mengaku selama ini menahan diri untuk tidak banyak berkomentar mengenai proses persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim.


Menurutnya, sebagai advokat “old school”, ia terbiasa menjaga etika profesi dengan tidak memberikan komentar berlebihan terhadap perkara yang masih berjalan di pengadilan.

Nadiem, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Namun, ia menilai ekosistem penegakan hukum saat ini telah berubah. Banyak opini berkembang di media sosial maupun pemberitaan media massa yang dinilai semakin subjektif dan sarat pandangan pribadi.


“Wartawan juga tak lagi mengindahkan penulisan berita sebagai berita tetapi banyak yang opinionated,” tulisnya dalam pernyataan yang beredar di media sosial.


Ia juga menyoroti jalannya persidangan yang menurutnya perlu menjunjung prinsip equality in arms, yakni keseimbangan hak antara penuntut umum dan pihak pembela terdakwa. Bahkan, disebutkan tim kuasa hukum terdakwa sampai melayangkan laporan kepada Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial terkait proses persidangan.


Advokat tersebut berharap majelis hakim dapat melihat seluruh fakta persidangan secara jernih dan mempertimbangkan seluruh kesaksian maupun keterangan ahli dengan jujur serta bijaksana.

“Saya yakin majelis hakim akan menemukan kebenaran dan keadilan,” ujarnya.


Ia juga menyinggung pentingnya pembuktian dalam perkara pidana. Menurutnya, hingga saat ini belum ada bukti yang benar-benar menunjukkan adanya unsur self-enrichment atau memperkaya diri sendiri secara meyakinkan.


“Saya yakin bahwa tak ada bukti-bukti yang ‘beyond any reasonable doubt’ mengatakan telah terjadi self-enrichment,” tulisnya.


Selain itu, ia mengingatkan agar hukum tidak dijadikan alat kriminalisasi ataupun sarana balas dendam pribadi.


“Saya tak ingin ‘weaponization of law’ dipakai untuk mengkriminalisasi. Saya tak ingin melihat personal vendetta menggiring proses hukum ini,” katanya.


Meski demikian, ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan majelis hakim yang memimpin persidangan. Menurutnya, hakim memiliki tanggung jawab besar karena setiap putusan dibuat atas nama keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.


“Dalam panggung publik yang sedang disorot adalah majelis hakim itu sendiri. Karena di tangan merekalah ‘keadilan’ itu dititipkan,” ujarnya.


Ia juga mengungkapkan sempat bertemu langsung dengan Nadiem saat menghadiri persidangan beberapa minggu lalu. Ketika itu, ia hanya memberikan pesan singkat kepada mantan Mendikbudristek tersebut.


“Stay healthy, stay strong and stay optimistic. Justice will prevail,” katanya kepada Nadiem.*

Baca Juga 

http://www.kiprahkita.com/2026/05/wabup-ahmad-fadly-perantau-punya-peran.html

Posting Komentar

0 Komentar