BUKITTINGGI, kiprahkita.com –Festival Kuliner Tradisional yang digelar sebagai penutup rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang berlangsung meriah di kawasan Jam Gadang, Sabtu. Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi sejak pagi untuk menikmati berbagai sajian khas Minangkabau yang disediakan secara gratis oleh para donatur dan pelaku usaha.
Antusiasme masyarakat terlihat dari panjangnya antrean di setiap stan kuliner. Berbagai menu tradisional seperti mie tungkuih, lontong, dan aneka makanan khas daerah menjadi buruan pengunjung. Banyak warga mengaku awalnya tidak menyangka kegiatan tersebut benar-benar terlaksana.
"Awalnya kami sudah mengira bakal ramai, ternyata benar-benar ada dan ramai sekali," ungkap beberapa guru MTsN yang bisa hadir cepat di Festival Kuliner Tradisional Tutup Rangkaian 100 Tahun Jam Gadang itu. Di antaranya Bu Wen, Bu Tis, Bu Yet, Bu Erni, dan Bu As.
Salah satu stan yang menarik perhatian mereka dan pengunjung adalah stan Mie Tungkuih Daun Ica yang menyediakan ratusan porsi makanan. Pengunjung tampak sabar mengantre demi mendapatkan kuliner tradisional yang disajikan dalam wadah daun pisang.
Seorang pedagang keliling strowbery yang turut menikmati suasana festival mengaku harus beberapa kali berpindah antrean karena makanan yang diincarnya selalu habis sebelum gilirannya tiba.
"Saya tiga kali antre makanan berbeda, Bu. Pas giliran saya, makanannya habis terus. Saya antri lagi di stand lontong, sudah lama antre, eh kotaknya habis," ujarnya sambil tersenyum bercerita lepas ketika Kiprah Kita bertanya.
"Sarapan pagi saja yang disediakan, Nte." Kenang seorang pengunjung dari Padang Panjang. .
![]() |
| suasana Festival |
Meski demikian, suasana tetap berlangsung tertib dan penuh kegembiraan. Festival ini menjadi ajang silaturahmi masyarakat sekaligus upaya melestarikan kuliner tradisional Minangkabau di tengah perkembangan zaman.
Di balik kemeriahan acara, sejumlah pengunjung menyoroti terbatasnya area parkir di sekitar kawasan Jam Gadang. Kepadatan kendaraan membuat sebagian pengunjung harus berputar beberapa kali untuk mendapatkan tempat parkir.
Namun demikian, kendala tersebut tidak mengurangi semangat masyarakat untuk mengikuti kegiatan yang menjadi penutup perayaan satu abad Jam Gadang, ikon kebanggaan Kota Bukittinggi. Festival kuliner ini menjadi bukti tingginya kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya dan kuliner tradisional Minangkabau.
"Ramainya pengunjung dan cepat habisnya makanan menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat," ujar salah seorang peserta festival.
Dengan berakhirnya Festival Kuliner Tradisional ini, rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang resmi ditutup dengan penuh semarak dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang hadir.
Versi Asli
Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati kawasan Jam Gadang untuk menikmati beragam kuliner tradisional yang disajikan secara gratis. Menariknya, dari target awal 20.000 porsi, jumlah sajian yang tersedia mencapai lebih 41.000 porsi berkat dukungan para donatur, pelaku usaha, perantau, dan berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam menyukseskan perayaan bersejarah ini.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang menikmati kekayaan kuliner tradisional, tetapi juga menjadi wujud nyata semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang menjadi kekuatan masyarakat Bukittinggi.
Pemerintah Kota Bukittinggi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh donatur, pelaku UMKM, perantau, sponsor, panitia, petugas kebersihan, aparat keamanan, tenaga kesehatan, relawan, media, serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
Semoga momentum satu abad Jam Gadang ini tidak hanya menjadi pengingat akan sejarah dan perjalanan Kota Bukittinggi, tetapi juga menjadi semangat untuk terus menjaga, merawat, dan mempromosikan warisan budaya yang menjadi kebanggaan bersama.
Bagaimana pengalaman Dunsanak yang hadir dalam Festival Kuliner Tradisional tadi pagi? Share pengalaman Dunsanak di kolom komentar ya!*
Baca Juga



0 Komentar