Kurniadi Ilham: Melestarikan tanpa Membekukan

PADANG PANJANG, kiprahkita.com ISU ISI Manajemen Seni Pascasarjana ISI Padangpanjang 25 Juni 2026 Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, keberadaan tari lokal menghadapi tantangan yang semakin kompleks.


Tidak hanya dituntut untuk bertahan sebagai warisan budaya, tari tradisional juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda. Menjawab tantangan tersebut di gelar  kegiatan diskusi bertajuk “Melestarikan Tanpa Membekukan: Peran Akademisi dalam Menciptakan Panggung, Nilai Jual, dan Warisan Abadi untuk Tari Lokal”.


Dosen Jurusan Seni Tari Kurniadi Ilham, S.Sn., M.Sn.,  yang juga pemerhati seni budaya mengatakan,  Pelestarian tari tradisional melalui pendekatan pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya mempertahankan tradisi secara kaku tanpa ruang perkembangan. Tradisi perlu diberi kesempatan untuk tumbuh dan beradaptasi agar tetap hidup di tengah masyarakat. Paparnya.


Melestarikan tanpa Membekukan


Kurniadi menambahkan, Melestarikan budaya bukan berarti membekukannya dalam masa lalu. Tari lokal harus tetap berakar pada nilai dan identitas budayanya, tetapi juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap memiliki ruang hidup di masa depan. Ujarnya.


Kurniadi lebih lanjut menjelaskan,  Akademisi memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Selain melakukan penelitian dan dokumentasi, perguruan tinggi juga dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, komunitas budaya, pemerintah, dan masyarakat.


Melalui berbagai program pendidikan, pengabdian masyarakat, festival budaya, hingga publikasi ilmiah, akademisi dapat membantu memperluas eksistensi tari lokal di tingkat regional maupun nasional. Tidak hanya itu, tari lokal juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan pariwisata budaya. Dengan pengelolaan yang tepat, seni tradisional dapat memberikan manfaat ekonomi bagi para pelaku budaya tanpa kehilangan nilai-nilai autentiknya. Tuturnya.


Kurniadi menekankan, Ketika sebuah tari tradisional mampu tampil di berbagai panggung, dikenal masyarakat luas, dan memberikan manfaat bagi komunitasnya, maka pelestarian budaya tidak hanya terjadi dalam bentuk dokumentasi, tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ungkapnya.


Diskusi ini juga menyoroti pentingnya regenerasi pelaku seni. Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tari lokal melalui kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi budaya.


Dirrktur Festival Amin Wahyuda mengatakan, Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta kesadaran bersama bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab kolektif yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Dengan menciptakan panggung yang lebih luas, meningkatkan nilai jual budaya secara berkelanjutan, serta menjaga nilai-nilai tradisi yang diwariskan, tari lokal dapat terus hidup sebagai warisan budaya yang bermakna bagi generasi masa kini dan mendatang. (*/ Soerya)

Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/06/gerakan-penghijauan-berkelanjutan-pemko.html

Posting Komentar

0 Komentar