Oleh Yusriana Musriadi Musanif Ismail, S.Pd
Anggota Bid. Hukum dan HAM Aisyiyah Kota Padang Panjang
PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Di kampung saya, Desa Sontang, Kecamatan Padang Gelugur (Dulu Kecamatan Panti), Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, hubungan antara warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung damai sejak dahulu. Kerukunan itu bukan sekadar slogan, melainkan tumbuh dari sejarah panjang persaudaraan.
Jika dirunut silsilah keluarga, sebagian besar masyarakat yang kini menjadi pengurus Muhammadiyah maupun NU berasal dari leluhur yang sama. Mereka merupakan keturunan para perantau dari Appolu, Sipirok, Tapanuli Selatan. Pada masa penjajahan Belanda, kehidupan masyarakat di sana semakin sulit. Kondisi semakin berat ketika pendudukan Jepang datang dengan berbagai kekejaman. Situasi keamanan memburuk, bahan makanan semakin langka, dan keselamatan keluarga, terutama para perempuan, ikut terancam.
![]() |
| General Manager KK Yusriana Siregar (tengah) |
Dalam situasi tersebut, banyak keluarga dari berbagai marga memilih berhijrah mencari kehidupan yang lebih baik ke wilayah Panti, yang saat itu menjadi kecamatan sebelum kemudian berkembang menjadi Padang Gelugur untuk Desa Sontang dan sekarang Nagari Sontang.
Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan masyarakat yang telah lebih dahulu menetap. Saat itu berkembang tiga kelompok besar dalam kehidupan sosial masyarakat di sana, yakni masyarakat adat yang dikenal sebagai orang Dolok atau Cubadak - Simpang Tonang. Mereka sebagai pemilik ulayat, kemudian Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.
Dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, disepakatilah sebagian anggota keluarga bergabung dengan NU dan sebagian lagi memilih Muhammadiyah. Dari sembilan bersaudara, 3 perempuan dan satu laki-laki bergabung ke NU. Selebihnya ke Muhammadiyah.
Pilihan organisasi itu bukanlah pemisah hubungan darah. Mereka tetap saling bersama, saling membantu, bahkan saling menjadi keluarga melalui pernikahan. Pun melalui satu periuk organisasi (sapardahanan). Bila ada pesta pernikahan, ada yang meninggal, dan ada usaha, mereka kompak berkumpul di keluarga itu selama satu minggu untuk membantu menyelesaikan semua urusan.
Bila meninggal di antara mereka cara tahlilan dipakai seperti organisasi si mayyit dan semua hadir dan mengikuti. NU goyang kepala saat tahlilan. Muhammadiyah dzikir dalam hati ala persyarikatan. Mereka saling faham.
Pada masa ketika Muhammadiyah di Sontang masih berkembang, warga NU bahkan mencatat nama-nama anggota Muhammadiyah dari saudara mereka sebagai penerima daging kurban di Masjid Raya NU. Hal itu dilakukan karena saat itu Muhammadiyah belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan penyembelihan kurban sendiri. Ada kurban tapi sedikit. Memang di sana keluarga dari NU lebih mapan ekonomi paling banyak kala itu.
Tahun lalu pun tercatat Masid Besar kami menyebutnya (Masjid Raya NU) menyembelih 17 ekor sapi dan Masjid Taqwa ( Muhammadiyah) menyembelih 11 ekor sapi. Apakah kita iri? Tidak dong. Justeru ini pemicu semangat ekonomi bagi kita agar tahun depan anggota persyarikatan Muhammadiyah lebih giat lagi berusaha. Lagi pun wajar mereka banyak berkurban karena jumlah mereka pun lebih banyak dari kita.
Uniknya lagi. Bila anak gadis NU menikah dengan pemuda Muhammadiyah, maka istri akan menjadi anggota Muhammadiyah juga keturunan mereka, pun bila anak gadis Muhammadiyah menikah dengan pemuda NU, maka istri akan menjadi anggota NU pula juga keturunan mereka.
Sikap saling berbagi tersebut menjadi bukti bahwa ukhuwah Islamiyah lebih besar daripada sekadar perbedaan organisasi.
Sesungguhnya NU dan Muhammadiyah sama-sama organisasi Islam yang berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Perbedaan yang ada umumnya berada pada persoalan fikih dan cara memahami beberapa amalan sunnah melalui metode ijtihad para ulama.
Muhammadiyah fikih banyak merujuk kepada pendekatan tarjih Muhammadiyah berdasarkan dalil yang dianggap paling kuat oleh anggotanya , sedangkan NU berpegang pada mazhab fikih mereka pula, dengan tetap berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Bukan berlandas mazhab ya. Tetap berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Perbedaan itu ada sejak dulunya merupakan bagian dari khazanah perkembangan keilmuan Islam yang telah berlangsung sejak masa para imam mazhab.
Empat imam mazhab besar—Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal—memiliki perbedaan pendapat dalam berbagai persoalan fikih, tetapi mereka tetap saling menghormati dan tidak saling mengkafirkan seseorang. Karena itu, umat Islam masa kini seharusnya mampu meneladani keluasan ilmu dan akhlak para ulama tersebut.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah kehendak Allah agar manusia saling mengenal (lita'arafu), bukan saling mencela atau bermusuhan. Apalagi memaksakan kehendak.
Allah juga berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)
Persatuan umat merupakan perintah agama. Perbedaan dalam masalah cabang (furu'iyyah) tidak boleh menjadi alasan untuk memutus ukhuwah Islamiyah.
Bahkan Allah SWT mengingatkan:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
"Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis tersebut mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Tentang perbedaan keyakinan dan pilihan ibadah, Allah SWT juga berfirman:
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 6)
Ayat ini mengajarkan penghormatan terhadap pilihan keyakinan dalam konteks hubungan dengan pemeluk agama lain. Adapun di antara sesama muslim, semangat yang dikedepankan adalah ukhuwah, dialog ilmiah, dan saling menghormati ketika terdapat perbedaan ijtihad dalam persoalan fikih.
Perbedaan pemahaman hendaknya dibahas secara ilmiah di lingkungan masing-masing dengan adab yang baik. Sebagaimana nasihat Luqman kepada putranya dalam QS. Luqman ayat 13–19, pendidikan dimulai dengan hikmah, kelembutan, dan keteladanan. Dakwah yang baik bukanlah dengan mencari-cari kesalahan kelompok lain, melainkan memperbaiki diri sendiri dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun ketika berdiskusi.
Allah SWT berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik."( sebagian terjemahan QS. An-Nahl: 125)
Di era media sosial, setiap muslim juga dituntut menjaga lisan dan jemarinya. Tidak semua perbedaan perlu dipublikasikan hingga menimbulkan perpecahan, apalagi jika mengandung unsur penghinaan terhadap kelompok lain. Sebagai warga negara Indonesia, kita juga memiliki kewajiban menjaga persatuan, menghormati keberagaman, dan tidak menyebarkan ujaran yang mengandung kebencian atau menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), sebagaimana sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan ketentuan hukum yang berlaku di negara kita.
Tujuan utama kehidupan seorang muslim bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan meraih ketakwaan dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Karena itu, marilah kita lebih banyak menebarkan ilmu yang bermanfaat, memperbanyak amal kebajikan, mempererat persaudaraan, dan saling mendoakan. Muhammadiyah dan NU boleh berbeda dalam beberapa praktik ibadah sunnah, metode dakwah, maupun strategi gerakan. Namun tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mengabdi kepada Allah SWT, menegakkan amar makruf nahi mungkar, serta mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa, berilmu, dan berkemajuan.
Sontang telah memberi teladan bahwa persaudaraan lebih kuat daripada perbedaan. Ketika hubungan dibangun di atas ikatan keluarga, akhlak Islam, dan semangat saling menghormati, maka Muhammadiyah dan NU bukanlah dua kubu yang harus dipertentangkan, melainkan dua jalan dakwah yang berjalan berdampingan menuju tujuan yang sama: mencari rida Allah SWT dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. (General Manager KK Yusriana Siregar)*
Baca Juga
http://www.kiprahkita.com/2026/06/seminar-internasional-seabad-gempa.html

0 Komentar