SELAMAT ULANG TAHUN KE- 91
PAK TAUFIQ ISMAIL
25 JUNI 1935-2026
PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Sembilan puluh satu tahun adalah usia yang panjang bagi seorang manusia, tetapi bagi seorang penyair, usia adalah jejak kata-kata yang terus hidup melampaui zamannya. Pada usia ke-91 ini, Taufiq Ismail tidak hanya dikenang sebagai penyair, melainkan juga sebagai suara nurani yang selama puluhan tahun menjaga nyala akal sehat, kemanusiaan, dan kecintaan kepada bangsa.
![]() |
| DUA SUARA DI BAWAH CAHAYA BANGSA |
Melalui puisi, esai, dan sikap kebudayaannya, beliau telah mengajarkan bahwa sastra bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan juga keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Dari generasi ke generasi, karya-karyanya terus dibaca, didiskusikan, dan menjadi bagian dari perjalanan intelektual Indonesia.
Di hari istimewa ini, kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas pengabdian panjang beliau kepada dunia sastra dan kebudayaan Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, ketenangan, dan keberkahan, serta menjadikan setiap karya dan keteladanan beliau sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi bangsa ini.
Selamat ulang tahun ke-91, Bapak Taufiq Ismail.
Terima kasih telah menjadi salah satu suara penting yang mengingatkan bangsa ini untuk tetap menjaga kemanusiaan.
Charles Dean
DUA SUARA DI BAWAH CAHAYA BANGSA
Di panggung yang dibalut motif-motif warisan,
dua lelaki berdiri membawa usia dan api yang belum padam.
Yang satu menggenggam puisi
seperti imam menjaga cahaya di dalam dada,
yang satu menghidupkan kata
dengan tubuh, suara, dan nyala teater manusia.
Di tangan Taufiq Ismail,
puisi bukan sekadar rangkaian bunyi—
ia adalah doa yang berjalan kaki,
teriakan nurani bangsa
yang sejak lama gelisah melihat luka negeri.
Dan di sampingnya,
Jose Rizal Manua berdiri
bagai penjaga gema,
menghidupkan kata-kata
agar tidak hanya dibaca,
tetapi juga dirasakan sampai ke tulang sejarah.
Malam itu,
Bung Hatta kembali hadir dalam bait-bait kerinduan.
Indonesia terdengar bukan sebagai negara,
melainkan sebagai ibu
yang terlalu sering dilupakan anak-anaknya.
Suara Taufiq Ismail bergetar—
namun justru dari getar itu
lahir kekuatan yang tak mampu ditelan zaman.
Sembilan puluh satu tahun usia,
tetapi puisinya masih berjalan
di jalan-jalan hati rakyatnya.
Orang-orang mendengar
bukan hanya seorang penyair tua membaca sajak,
melainkan sebuah bangsa
sedang bercermin pada nuraninya sendiri.
Dan ketika namanya kembali disebut
menuju Nobel Sastra 2027,
langit sastra Indonesia seakan membuka pintu harapan:
bahwa kata-kata dari negeri ini
masih mampu mengetuk dunia.
Sebab Taufiq Ismail telah lama menulis
bukan untuk penghargaan,
melainkan untuk menyelamatkan ingatan.
Tentang tirani.
Tentang sajadah panjang manusia.
Tentang malu menjadi bangsa
yang lupa pada kejujuran.
Sedangkan Jose Rizal Manua,
dengan panggung dan penghayatannya,
menjadi jembatan
agar puisi tidak tinggal di buku,
tetapi turun menyentuh manusia.
Dua seniman tua itu
siang itu tampak sederhana
namun di belakang mereka
berdiri sejarah panjang kebudayaan Indonesia.
Dan mungkin benar:
Nobel hanyalah sebuah nama penghargaan.
Tetapi suara yang lahir dari hati rakyat
akan hidup jauh lebih lama
daripada medali apa pun.
Karena sastra sejati
tidak pernah mencari tepuk tangan dunia
ia hanya ingin memastikan
bahwa kemanusiaan
tetap punya suara.
Diposting Jose Rizal Manua
Catatan Redaksi
Kiprah Kita maju juga oleh sentuhan semangat Bapak Taufiq Ismail, Bu Ati Istri beliau, dan Bapak Fadli Zon, keponakan beliau. Sehat dan sukses buat kita semua. Yang melanjutkan semangat Bapak, General Manager Kiprah Kita, Yusriana Siregar, dari UAD Yogyakarta - Rumah Puisi - Perumahan Arafah Padang Panjang perjalanan semangat Bapak. aku pungut. Baa ra kallah fi umrik. Bapak!

0 Komentar