PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Wacana menutup Jalur Lembah Anai kerap memunculkan perdebatan. Sebagian menganggap gagasan itu terlalu ekstrem, sementara yang lain menilai langkah tersebut perlu dipertimbangkan demi keselamatan publik. Namun satu pertanyaan mendasar perlu dijawab terlebih dahulu: siapa yang dapat menjamin bahwa kawasan Lembah Anai akan benar-benar bebas dari ancaman galodo, longsor, dan bencana serupa di masa depan?
Kawasan ini secara geografis berada pada bentang alam yang sangat rentan. Dari hulu hingga hilir, kontur lembah yang curam dan keberadaan aliran sungai menjadikannya wilayah dengan risiko bencana yang tinggi. Karena itu, pembahasan mengenai masa depan jalur tersebut seharusnya tidak hanya berfokus pada perbaikan kerusakan pascabencana, tetapi juga pada pencarian alternatif yang lebih aman.
![]() |
| Jalur Lembah Anai |
Salah satu alternatif yang menarik untuk dikaji kembali adalah jalur lama Kayu Tanam–Tambangan melalui Bukit Ambacang. Gagasan ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan memiliki dasar historis yang kuat.
Dalam tulisan Novelia Musda yang terbit di Harian Singgalang pada 17 Desember 2025 berjudul “Alternatif untuk Zaman Kini – Jalan Kayu Tanam ke Tambangan Sudah Ada Sejak Zaman Lampau”, dijelaskan bahwa jalur tersebut pernah menjadi koridor penting penghubung pesisir barat Sumatera dengan pedalaman Minangkabau.
Berdasarkan catatan E.B. Kielstra dan H.M. Lange, pada tahun 1821 Letnan Kolonel Antonie Theodore Raaff mencari rute tercepat menuju Simawang untuk menghadapi Kaum Paderi. Setelah menolak beberapa jalur lain, ia memilih rute Padang–Jambak–Ulakan–Pakandangan–Kayu Tanam–Tambangan–Sipinang–Simawang yang melewati Bukit Ambacang.
Jalur tersebut dibangun dengan kemiringan relatif sedang dan bahkan cukup lebar untuk mengangkut artileri berat. Selama lebih dari satu dekade, jalan itu digunakan secara intensif oleh pemerintah kolonial.
Baru pada tahun 1833, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memerintahkan pembangunan jalan melalui Lembah Anai. Menariknya, sebelum proyek dimulai, dua ahli ilmu alam Hindia Belanda, Burger dan Korthals, melakukan survei dan memberikan penilaian yang kurang optimistis. Keduanya menilai pembangunan jalan di kawasan tersebut sangat sulit, bahkan mendekati mustahil.
Meski demikian, proyek tetap dilaksanakan. Sejak saat itulah Lembah Anai menjadi jalur utama penghubung Padang dan kawasan pedalaman.
Pembangunan jalur kereta api kemudian mengikuti koridor yang sama. Pada akhir abad ke-19, rel kereta yang menghubungkan Teluk Bayur dan Sawahlunto dibangun melintasi kawasan Lembah Anai yang dikenal memiliki kondisi topografi ekstrem.
Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa Lembah Anai bukanlah jalur yang dipilih oleh masyarakat lokal sejak awal. Sebaliknya, nenek moyang masyarakat Minangkabau justru lebih banyak memanfaatkan jalur yang berada di dataran lebih tinggi, termasuk melalui Bukit Ambacang.
Persoalan lain yang patut menjadi perhatian adalah belum optimalnya pemanfaatan data geologi dan kajian kebencanaan dalam pengambilan keputusan pembangunan. Padahal penelitian mengenai kondisi geologi Sumatera Barat telah tersedia sejak abad ke-19.
Ketika bencana galodo dan longsor terus berulang, muncul pertanyaan apakah sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan kembali jalur alternatif yang secara historis pernah digunakan dan diduga memiliki tingkat risiko yang lebih rendah.
Dibandingkan pembangunan infrastruktur berskala besar seperti terowongan atau jalan layang yang membutuhkan waktu dan biaya sangat besar, pengembangan kembali jalur Kayu Tanam–Tambangan dinilai lebih realistis untuk jangka menengah.
Tentu, menutup permanen Jalur Lembah Anai bukan keputusan yang sederhana. Namun penutupan sementara yang disertai pembangunan dan penguatan jalur alternatif layak dipertimbangkan secara serius.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan jalan yang cepat dan nyaman, tetapi juga aman. Dengan pengalaman bencana yang berulang, data geologi yang tersedia, serta keberadaan alternatif historis yang pernah terbukti berfungsi, sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap masa depan Jalur Lembah Anai.
Sejarah mungkin tidak selalu memberikan jawaban, tetapi sering kali menawarkan pelajaran yang berharga. Jalur Bukit Ambacang pernah menjadi pilihan para pendahulu. Mungkin kini saatnya pilihan itu kembali dipertimbangkan dengan pendekatan ilmiah dan perencanaan modern. (Diolah berdasar tulisan KJ)*

0 Komentar