Riset Ungkap Dampak Serius Tambang Nikel di Sulawesi, Deforestasi hingga Ancam Keanekaragaman Hayati

JAKARTA, kiprahkita.com Sejumlah hasil penelitian terbaru mengungkap dampak ekologis dan sosial yang ditimbulkan oleh ekspansi pertambangan nikel di Sulawesi. Aktivitas pertambangan yang terus berkembang dalam dua dekade terakhir dinilai telah menyebabkan perubahan besar terhadap kondisi lingkungan, kehidupan masyarakat, hingga keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.


Laporan Pulau Kabaena dalam Angka yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara, mengalami tekanan ekologis dan sosial yang cukup berat akibat masifnya aktivitas pertambangan nikel selama sekitar 20 tahun terakhir.


Riset Ungkap Dampak Serius Tambang Nikel di Sulawesi


Laporan tersebut disusun berdasarkan observasi lapangan dan survei terhadap 618 rumah tangga yang tersebar di 10 desa di sekitar kawasan pertambangan. Hasilnya memperlihatkan bahwa ekspansi industri nikel telah mengubah struktur sosial, ekonomi, dan kondisi lingkungan masyarakat secara signifikan.


Selain berdampak pada masyarakat lokal, penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah One Earth juga menyoroti konsekuensi lingkungan yang lebih luas dari berkembangnya industri nikel di Sulawesi.


Melalui studi berjudul Nickel Mining Reduced Forest Cover in Indonesia but Had Mixed Outcomes for Well-being, para peneliti dari University of Kent, University of Greenwich, dan Universitas Indonesia menganalisis perubahan yang terjadi di 7.721 desa di kawasan Celebes selama periode 2011 hingga 2018.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa-desa yang berada di sekitar wilayah pertambangan mengalami laju deforestasi hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.


Para peneliti menyatakan bahwa meskipun aktivitas pertambangan turut mendorong peningkatan infrastruktur dan sejumlah indikator standar hidup masyarakat, manfaat tersebut dinilai belum mampu mengimbangi penurunan kualitas lingkungan yang terjadi.


"Deforestasi di desa-desa penambangan nikel terjadi hampir dua kali lipat. Selama periode penelitian, peningkatan infrastruktur dan standar hidup tidak sebanding dengan memburuknya kesejahteraan lingkungan," tulis tim peneliti dalam publikasi tersebut.


Peringatan serupa juga disampaikan dalam penelitian yang dimuat di jurnal Nature Ecology & Evolution pada Mei 2026. Studi tersebut menyoroti meningkatnya permintaan global terhadap nikel yang memicu ekspansi pertambangan di kawasan tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi.


Wilayah yang menjadi perhatian utama meliputi Sulawesi, Maluku, dan Raja Ampat. Ketiga kawasan tersebut merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.


Menurut para peneliti, ekspansi pertambangan di wilayah tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ekosistem laut maupun daratan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.


Tak hanya memiliki kekayaan hayati di laut, Sulawesi juga dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat endemisitas flora dan fauna tertinggi di dunia. Pulau ini menjadi perhatian para ilmuwan sejak abad ke-19, termasuk naturalis Alfred Russel Wallace yang mencatat banyak spesies unik yang tidak ditemukan di wilayah lain di dunia.


Kondisi tersebut menjadikan Sulawesi sebagai salah satu kawasan konservasi paling penting di Indonesia. Berbagai penelitian menilai bahwa upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengembangan industri mineral strategis dan perlindungan lingkungan menjadi tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.


Di tengah meningkatnya kebutuhan nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan transisi energi global, para peneliti mendorong agar kebijakan pengelolaan sumber daya alam lebih memperhatikan aspek keberlanjutan, perlindungan hutan, serta kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan.


Simak kisah selengkapnya di Majalah National Geographic Indonesia edisi Juli 2026.

Posting Komentar

0 Komentar