![]() |
| Tabuik Event Kolosal Terbesar di Indonesia |
PARIAMAN, kiprahkita.com –Setiap awal bulan Muharam, Kota Pariaman seolah berubah menjadi panggung budaya terbesar di pesisir barat Sumatera. Ribuan bahkan ratusan ribu orang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah diwariskan lintas generasi, yaitu Tabuik. Bukan sekadar tontonan, Tabuik telah menjelma menjadi identitas masyarakat Pariaman, perekat sosial, sekaligus motor penggerak ekonomi yang manfaatnya dirasakan oleh banyak kalangan.
Pesona Budaya Tabuik 2026 kembali membuktikan daya tariknya. Pantai Gandoriah dipadati pengunjung dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat, provinsi tetangga, hingga wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Mereka rela berdesakan di bawah terik matahari hanya untuk menyaksikan prosesi Hoyak Tabuik hingga puncak acara, yaitu pelarungan Tabuik ke laut.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya yang dikelola dengan baik mampu menjadi magnet wisata yang luar biasa. Di era media sosial saat ini, setiap wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi "duta promosi". Ribuan foto dan video yang diunggah ke berbagai platform digital menjadikan Tabuik semakin dikenal luas. Promosi yang dahulu membutuhkan biaya besar kini berlangsung secara alami melalui dokumentasi para pengunjung.
Keberhasilan penyelenggaraan Tabuik juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Kehadiran Wakil Menteri Kebudayaan menunjukkan bahwa tradisi ini telah diakui sebagai salah satu aset budaya nasional yang patut dijaga. Dukungan pemerintah menjadi penting agar tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun tetap lestari sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Namun kekuatan utama Tabuik sesungguhnya tidak hanya terletak pada nilai budayanya, melainkan pada dampak ekonominya. Selama penyelenggaraan festival, hampir seluruh sektor usaha masyarakat bergerak. Hotel dan penginapan mengalami peningkatan tingkat hunian, rumah makan dipenuhi pengunjung, pedagang kaki lima memperoleh pembeli lebih banyak, jasa transportasi meningkat, sementara pelaku UMKM memperoleh kesempatan emas memasarkan produk kuliner khas maupun kerajinan tangan.
Inilah yang disebut sebagai efek berganda (multiplier effect) pariwisata. Uang yang dibelanjakan wisatawan tidak berhenti pada satu sektor, melainkan berputar ke berbagai lapisan masyarakat. Penjual makanan memperoleh keuntungan, pemasok bahan baku ikut menerima pesanan lebih banyak, pengemudi angkutan memperoleh penumpang tambahan, hingga pedagang suvenir menikmati peningkatan penjualan. Sebuah tradisi budaya akhirnya menjadi penggerak ekonomi yang nyata.
Tabuik juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Justru keduanya dapat berjalan beriringan apabila dikelola secara profesional. Budaya menjadi daya tarik, sementara ekonomi menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat. Karena itu, investasi dalam pelestarian budaya sejatinya juga merupakan investasi bagi kesejahteraan masyarakat.
Meski demikian, penyelenggaraan Tabuik masih memiliki ruang untuk terus disempurnakan. Membludaknya jumlah pengunjung menunjukkan perlunya penataan kawasan yang lebih baik. Area kuliner dan bazar UMKM perlu ditata lebih rapi sehingga memudahkan wisatawan menikmati produk lokal tanpa mengganggu arus lalu lintas pejalan kaki. Demikian pula dengan lokasi panggung utama yang idealnya mampu memberikan ruang pandang yang lebih luas bagi masyarakat sehingga suasana seremoni dapat dinikmati oleh lebih banyak pengunjung.
Persoalan kemacetan, kantong parkir, transportasi umum, kebersihan kawasan wisata, serta pengelolaan sampah juga perlu menjadi perhatian bersama. Semakin besar sebuah festival, semakin besar pula tuntutan terhadap kualitas penyelenggaraannya. Pengalaman pengunjung menjadi faktor penting yang akan menentukan apakah mereka akan kembali pada tahun berikutnya atau bahkan merekomendasikannya kepada orang lain.
Di sisi lain, nilai sejarah Tabuik juga perlu terus disosialisasikan kepada generasi muda. Tidak semua pengunjung memahami bahwa tradisi ini berakar pada peringatan gugurnya Imam Husain bin Ali dalam Peristiwa Karbala, yang kemudian berakulturasi dengan budaya masyarakat pesisir Minangkabau sejak abad ke-19. Akulturasi tersebut melahirkan tradisi yang khas, unik, dan menjadi bagian dari identitas budaya Pariaman.
Inilah kekayaan budaya Indonesia yang sesungguhnya. Sebuah tradisi yang berasal dari perjalanan sejarah panjang, kemudian diterima masyarakat, dipelihara lintas generasi, dan akhirnya berkembang menjadi kekuatan ekonomi daerah. Tabuik bukan hanya milik masyarakat Pariaman, tetapi juga menjadi bagian dari khazanah budaya bangsa yang layak diperkenalkan kepada dunia.
Masuknya Tabuik ke dalam daftar Karisma Event Nusantara merupakan pengakuan bahwa festival ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata nasional. Namun pengakuan tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan setiap tahunnya. Sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Pariaman, pelaku pariwisata, tokoh adat, pelaku UMKM, dan masyarakat menjadi kunci agar Tabuik terus berkembang sebagai destinasi budaya kelas nasional bahkan internasional.
Tabuik mengajarkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang dipertontonkan setiap tahun. Budaya adalah sumber identitas, kebanggaan, persatuan, sekaligus sumber kesejahteraan apabila dikelola dengan baik. Ketika ribuan orang datang ke Pariaman untuk menyaksikan Tabuik, sesungguhnya mereka bukan hanya menyaksikan sebuah prosesi adat, tetapi juga melihat bagaimana sebuah tradisi mampu menghidupkan ekonomi, memperkuat jati diri masyarakat, dan mengangkat nama daerah di tingkat nasional maupun dunia.
Pepatah lama masyarakat Pariaman, "Batabuik Makonyo Rami", kini terbukti bukan sekadar syair lagu. Keramaian yang diciptakan Tabuik telah menjadi energi yang menggerakkan roda pariwisata, membuka peluang usaha, dan menghadirkan harapan baru bagi kemajuan Kota Pariaman dari tahun ke tahun.*
Baca Juga
https://www.kiprahkita.com/2026/07/indonesia-emas-2045-dimulai-dari.html

0 Komentar