PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ternyata tidak selalu lahir setelah sebuah kebijakan diperkenalkan secara formal. Di sejumlah madrasah, nilai-nilai yang menjadi ruh KBC justru telah tumbuh dan dipraktikkan jauh sebelumnya.
Hal tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam kunjungan Tim Peneliti Kementerian Agama (MoRA)–The Air Fund ke Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatera Barat. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai cinta diterapkan dalam kehidupan pendidikan di lingkungan madrasah.
Temuan lapangan memperlihatkan pola menarik dalam praktik pendidikan di Diniyyah Puteri. Implementasi nilai-nilai KBC tidak tampak berdiri sebagai sebuah program tunggal, melainkan tumbuh sebagai sebuah ekosistem pendidikan yang saling terhubung.
Dalam ekosistem tersebut, nilai spiritual menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter peserta didik. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan yang menghadirkan nilai-nilai kebaikan melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Sementara itu, lingkungan pendidikan menjadi ruang pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut kemudian diperkuat melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, sehingga pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas, tetapi hadir dalam kehidupan keseharian santri.
Pembelajaran juga diarahkan menjadi sebuah pengalaman yang bermakna. Santri tidak hanya didorong untuk memahami pengetahuan, tetapi juga menghayati nilai, membangun kepedulian, serta mengembangkan kemampuan diri.
Ekosistem tersebut semakin diperkuat oleh peran keluarga sebagai perpanjangan tangan pendidikan. Dengan demikian, proses pembentukan karakter tidak hanya berlangsung di madrasah, tetapi berlanjut di lingkungan keluarga dan kehidupan sosial santri.
Pengembangan diri kemudian menjadi orientasi penting. Pendidikan diarahkan untuk membantu santri tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kekuatan spiritual, karakter, kepedulian, serta kemampuan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa gagasan pendidikan berbasis cinta sebenarnya memiliki akar yang panjang dalam praktik pendidikan Diniyyah Puteri. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang dalam mencetak generasi perempuan berilmu dan berkarakter.
Kunjungan Tim Peneliti MoRA–The Air Fund sekaligus memberikan perspektif bahwa implementasi KBC dapat dibangun melalui pendekatan yang kontekstual dan berkelanjutan. Kebijakan dapat menjadi penguat, sementara praktik baik yang telah hidup di madrasah menjadi modal penting dalam mengembangkan pendidikan berbasis nilai.
Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan berbasis cinta bukan sekadar slogan atau program sesaat. Ia membutuhkan ekosistem yang menghadirkan keteladanan, pembiasaan, pengalaman belajar, dukungan keluarga, dan ruang pengembangan diri secara berkesinambungan.
Jejak cinta yang telah tumbuh di Diniyyah Puteri menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan yang menempatkan nilai, karakter, dan kemanusiaan sebagai fondasi pembentukan generasi.
Versi Ringkas
Padang Panjang — Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ternyata tidak selalu dimulai ketika kebijakan tersebut diperkenalkan secara formal. Di sejumlah madrasah, nilai-nilai yang menjadi ruh KBC telah tumbuh dan dipraktikkan jauh sebelumnya. Hal tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam kunjungan Tim Peneliti Kementerian Agama (MoRA)–The Air Fund ke Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatera Barat.
Baca selengkapnya melalui link berikut:
https://kurikulumberbasiscinta.id/.../jejak-cinta-seabad...
Temuan lapangan memperlihatkan sebuah pola yang menarik. Pendidikan di Diniyyah Puteri tidak tampak bekerja melalui satu program tunggal. Ia bekerja sebagai sebuah ekosistem: nilai spiritual memberikan fondasi, guru menjadi teladan, lingkungan menjadi ruang pembentukan, pembiasaan menjadi mekanisme, pembelajaran menjadi pengalaman, keluarga menjadi perpanjangan pendidikan, dan pengembangan diri menjadi orientasi.*

0 Komentar