Syekh Maranggo Parambahan: Meraba Jejak yang Hilang Ditelan Zaman

Catatan singkat si anak Nagari

Ada nama ulama yang tercatat begitu terang dalam sejarah, tetapi ada pula yang jejaknya hanya tersisa dalam manuskrip tua, catatan surau, dan ingatan lisan. Syekh Maranggo Parambahan adalah salah satunya. Sejumlah manuskrip kuno, termasuk naskah asal mula bilangan takwim yang ditemukan di Surau Calau, Sijunjung, menyebut jejak beliau dalam perkembangan awal Islam di Wilayah Darek Minangkabau. Setidaknya penulis sudah menemukan  6 Manuskrip dan kitab berbicara tentang sosok beliau, sebahagian besar berbahasa arab gundul. 




Sebagian manuskrip menempatkan aktivitasnya sejak abad ke-14 M, sementara catatan lain menyebut abad ke-16 M. Hal ini menjadi bukti bahwa Syekh Maranggo menjadi salah satu ulama paling awal yang memperkenalkan Islam di wilayah Darek, bersama Syekh Hafidz.


Di Parambahan, Lima Kaum, Tanah Datar, beliau disebut memiliki surau dan mengajarkan Islam kepada ratusan murid dari berbagai wilayah. Bahkan disalah satu manuskrip dengan jelas menyebut asalnya di Parambahan kecamatan limo kaum. Tanah Datar.


Menariknya, jejak pemikirannya mulai dapat dicium: fikih, tafsir, tasawuf, bahkan cara beliau memandang perbedaan keilmuan tanpa merendahkan. Bagaimana beliau mengungkap sisi falsafi di balik hukum fikih yang dikuasainya? Bagaimana pula pemahaman tafsir dan tasawufnya yang begitu dalam, yang rasanya tidak cukup dijangkau hanya dengan sekali membaca. Sangat menarik. 


Cerita punya cerita, aliran pemahamannya terus mengalir dinadi keagamaan Syekh Abdul Halim al-Khalidi, ulama Minang yang mengajarkan Islam di Labuh dan dikenal sebagai ayah dari Syekh Muhammad Zain Simabur, ulama Minang yang kemudian menjadi mufti di Kesultanan Perak, Malaysia. 


Lebih menarik lagi adalah kisah perdebatan beliau didepan Datuak Indomo di Saruaso. Saat itu Syekh Maranggo hanya merespon perdebatan itu dengan senyum, diam dan pergi. Hal ini mengisyaratkan seorang alim terkadang tidak harus memenagkan perdebatan dengan kata kata.


Namun ironisnya, kita mengetahui jejak pemikirannya, kajian dan amalannya, tetapi kita kehilangan hampir seluruh jejak fisiknya. Kapan beliau wafat? Siapa keturunannya? Di mana makamnya? Di mana rumah atau petilasan tempat beliau pernah tinggal? Apakah memang tidak ada, atau jejak-jejak itu telah hilang ditelan zaman? Pertanyaan-pertanyaan itu masih seperti kabut yang membuat tidur terasa tidak pernah nyenyak dan ruang istirahat terasa tidak pernah nyaman. 


Mungkin Syekh Maranggo bukan benar-benar hilang dari sejarah. Yang hilang adalah sebagian kemampuan kita membaca jejak yang masih tersisa.-Ferki Ahmad Marlion-*

Posting Komentar

0 Komentar