Jangan Buru-buru Menilai Buku dari Sampulnya


SULAWESI SELATAN, kiprahkita.com Suasana media sosial beberapa hari terakhir cukup riuh. Peluncuran buku Islam ala Prabowo memancing beragam tanggapan, perdebatan, bahkan penilaian yang semakin liar. Ada yang memuji, ada yang mengkritik, dan tidak sedikit pula yang seolah-olah sudah mengetahui seluruh isi buku hanya dari judul dan sampulnya.


Di tengah hiruk-pikuk tersebut, ada satu hal sederhana yang menurut saya perlu dikedepankan: bacalah bukunya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian terhadap isinya.




Saya kebetulan hadir ketika buku tersebut diluncurkan dan mendapatkan satu eksemplar sebagai hadiah. Karena itu, saya mencoba membaca dan melihat langsung apa sebenarnya yang ada di dalam buku tersebut. Dari daftar isi saja sudah terlihat bahwa buku ini bukan buku yang ditulis oleh Prabowo Subianto.


Tidak ada tulisan Prabowo di dalam buku tersebut. Buku ini lebih tepat dipahami sebagai kumpulan tulisan dari sejumlah orang yang berada di sekitar Prabowo, mengenal perjalanan hidupnya, berinteraksi dengannya, atau memiliki perspektif tertentu terhadap pemikiran, ucapan, dan tindakannya.


Salah satu tulisan tersebut datang dari H. Ahmad Muzani, Ketua MPR RI. Dalam prolognya, Muzani kembali menceritakan perjalanan hidup Prabowo, termasuk sejumlah gagasan yang pernah dikemukakannya jauh sebelum menjadi Presiden.


Salah satu yang disinggung adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Muzani menulis bahwa gagasan pemberian makanan bergizi tersebut berawal dari keprihatinan Prabowo terhadap kondisi fisik anak-anak Indonesia. Menurut Muzani, pada masa sebelumnya Prabowo bahkan telah menggagas pemberian susu segar kepada anak-anak sekolah setiap hari. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi konsep pemberian makanan bergizi gratis sebagai bagian dari upaya menjamin kecukupan gizi generasi penerus bangsa.


Contoh tersebut memperlihatkan bahwa buku ini memang banyak menerjemahkan perjalanan, pemikiran, ucapan, dan tindakan Prabowo ke dalam narasi para penulisnya. Karena itu, sangat mungkin pembaca menemukan pembahasan tentang MBG ketika membaca tulisan yang berkaitan dengan Prabowo. Bagaimanapun, MBG merupakan salah satu kebijakan yang kini sangat identik dengan pemerintahan Prabowo.


Namun, dari apa yang saya baca, saya tidak menemukan klaim bahwa buku ini hendak menghadirkan pandangan baru Prabowo tentang akidah, fikih, atau syariat Islam. Tidak pula saya menemukan pernyataan bahwa Prabowo sedang menawarkan sebuah mazhab baru dalam memahami Islam.


Judul Islam ala Prabowo jangan serta-merta diterjemahkan sebagai "Islam menurut Prabowo" dalam pengertian bahwa Prabowo sedang menulis atau merumuskan pemikiran keislaman baru. Yang tampak dalam buku tersebut adalah bagaimana sejumlah penulis memotret sosok Prabowo dan kemudian menerjemahkan berbagai pikiran, ucapan, serta tindakannya melalui perspektif mereka masing-masing.


Di sinilah menurut saya letak pentingnya membaca secara utuh.

Setiap orang tentu berhak mengulas buku. Setiap pembaca juga berhak tidak setuju dengan isi, sudut pandang, bahkan judul sebuah buku. Kritik terhadap buku adalah hal yang sehat dalam tradisi intelektual. Tetapi kritik akan jauh lebih bermakna apabila dibangun di atas pembacaan, bukan semata-mata prasangka terhadap judul, sampul, atau sosok yang menjadi objek pembahasan.


Kita boleh tidak suka kepada Prabowo. Kita boleh kritis terhadap pemerintah. Kita boleh berbeda pandangan secara politik. Tetapi perbedaan politik semestinya tidak membuat kita kehilangan kebiasaan paling mendasar dalam tradisi intelektual: membaca sebelum berbicara dan memahami sebelum menghakimi.


Media sosial memang memberikan ruang yang sangat luas kepada siapa saja untuk berpendapat. Masalahnya, ruang yang luas itu kadang tidak diikuti dengan kedalaman membaca. Akibatnya, perdebatan berlangsung panjang, tetapi objek yang diperdebatkan justru belum pernah dibaca secara utuh.


Buku, apa pun judulnya, seharusnya menjadi ruang untuk membaca, berpikir, kemudian mengkritik. Bukan sebaliknya: melihat sampul, menebak isi, lalu berdebat seolah-olah telah menamatkannya.


Jadi, sekali lagi, jangan buru-buru menilai buku dari sampulnya. Bacalah isinya. Setelah itu, silakan kritik sekeras yang diperlukan.

Sebab dalam dunia intelektual, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang malas membaca, tetapi sangat bersemangat berdebat; tidak menulis buku, tetapi merasa paling tahu isi buku; bahkan membangun kesimpulan dari sesuatu yang belum pernah ia baca.


Itulah yang oleh sebagian orang disebut sebagai golongan minus: banyak bicara, minim membaca, dan miskin dasar argumentasi.


Versi Asli

Merespon suasana media sosial yg lagi ribut2 mengulas dan menanggapi peluncuran buku "Islam ala Prabowo". Karena terlalu liar dan slulit dikendalikan, dan moyoritas penanggap di media berbicara, menulis, berkomentar yang sepertinya mereka belum baca buku ini. Kebetulan waktu peluncuran buku ini, saya hadir dan dapatlah juga hadiah. Pada dasarnya dalam buku ini sama sekali tidak ada hasil tulisan Bapak Prabowo Subianto dan dapat dilihat dalam daftar isi. Buku ini hanya kumpulan tulisan orang2 skitar Prabowo atau yang mengenal beliau lebih dekat. Salah satunya adalah tulisan H. Ahmad Muzani, ketua MPR RI. Dalam "prolognya" ia kembali mencerikatan tentang riwayat hidup MBG. Dan benar memang, apa pun yg dibahas jika terkait Prabowo, pasti ada MBG. Muzani menulis, "Salah satu contohnya adalag makan bergizi gratis yang sebenarnya digagas oleh Prabowo Subianto sebelum mendirikan Partai Gerindra. Prabowo merasa prihatin melihat kondisi fisik anak2 Indonesia yang cenderung kecil, dan setelah diteliti salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kebiasaan minum susu. Kala itu, Prabowo menggagas untuk memberikan anak-anak sekolah susu segar setiap harinya. Kemudian hari, gagasan ini berkembang untuk tidak hanya memberikan susu tetapi menjadi makan bergizi gratis untuk jaminan terpenuhnya gizi yang cukup bagi generasi penerus bangsa Indonesia."

Bagitu salah satu isinya, jadi jangan buru2 menilai buku dengan sampulnya, sekali lagi tidak ada dalam buku ini tulisan yang menyatakan bahwa prabowo membawa pandangan dan pemahaman baru dalam akidah mau syariat Islam. Hanya sebatas pandangan para penulis terkait pikiran ucapan dan tindakan Prabowo yang diterjemahkan dalam narasi artikel. Siapa pun bisa menulis, dan para pembaca berhak mengulas. Tapi kalau sudah tidak bisa nulis buku, malas baca buku, tapu kuat berdebat tanpa arah jelas, itulah ciri golongan minus dan buta. Ilham Kadir di Sulawesi Selatan*

Posting Komentar

0 Komentar