Kominfo Tanah Datar – Setiap anak memiliki cara belajar, kemampuan, dan proses tumbuh kembang yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan waktu dan pendampingan lebih. Perbedaan tersebut bukan menjadi alasan untuk membatasi kesempatan mereka, melainkan panggilan bagi para pendidik untuk lebih memahami kebutuhan setiap anak.
Pesan inilah yang disampaikan Bunda Inklusi Kabupaten Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra, saat membuka kegiatan penguatan kompetensi guru melalui psikoedukasi dalam penanganan anak inklusif dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi bagi guru kelas Fase A di Kabupaten Tanah Datar, di Aula Kantor Wali Nagari Limo Kaum, Sabtu (10/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ny. Lise mengajak para guru untuk tidak hanya berfokus pada capaian akademik, seperti kemampuan membaca dan berhitung, tetapi juga memperhatikan proses belajar, perkembangan, serta kebutuhan masing-masing peserta didik.
Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila mendapatkan kesempatan, perhatian, dan pendampingan yang tepat.
“Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Namun, semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik, kesempatan untuk berkembang, serta dukungan sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan kesiapan, kemampuan, minat, dan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan tersebut, anak diharapkan dapat belajar dengan lebih nyaman dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Ny. Lise juga mengingatkan pentingnya menjaga perasaan dan kepercayaan diri anak. Menurutnya, kata-kata yang disampaikan guru dapat memberikan pengaruh terhadap cara anak memandang dirinya sendiri.
Ia mengajak para guru menghindari pelabelan negatif, seperti menyebut anak lambat atau bandel, serta memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk belajar dan berkembang sesuai dengan prosesnya masing-masing.
“Jangan sampai ada anak yang merasa dirinya bodoh, takut mencoba, atau merasa tidak berharga hanya karena cara belajarnya berbeda. Sekolah harus menjadi tempat setiap anak diterima, dihargai, dan dibantu untuk menemukan potensi terbaiknya,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan (Wakil Dekan I) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Dr. Fadriati, M.Ag., menegaskan pentingnya meningkatkan kompetensi guru dalam memahami karakteristik dan kebutuhan setiap peserta didik, khususnya anak berkebutuhan khusus.
“Sekolah wajib menerima semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun, ada kebutuhan anak yang terkadang tidak mudah dikenali sehingga luput dari perhatian hingga mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan anak tidak memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Di sisi lain, guru juga menghadapi tantangan dalam memahami karakteristik peserta didik dan mengelola pembelajaran di kelas yang memiliki beragam kebutuhan.
Karena itu, melalui kegiatan psikoedukasi ini, para guru diharapkan semakin memahami kondisi psikologis anak, mampu mengenali kebutuhan peserta didik, serta menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk berkembang.(ari/et/dona) *

0 Komentar