Warisan intelektual tokoh pers Sumatera Barat, Sutan Zaili Asril, kembali hadir di lingkungan akademik melalui hibah ratusan buku koleksi pribadi almarhum kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Koleksi tersebut diharapkan menjadi sumber literasi sekaligus penghubung sejarah pers mahasiswa dengan generasi muda.
Penyerahan buku dilakukan keluarga almarhum melalui istrinya, Desnayetti Zaili, di UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (8/10/2026).
Ratusan buku yang dihibahkan mencakup berbagai bidang, mulai dari jurnalistik, sosial-politik, agama, kebudayaan Minangkabau, sastra, novel, hingga sejumlah karya tulis almarhum.
Perwakilan keluarga menyampaikan, hibah tersebut merupakan upaya melanjutkan semangat membaca dan menulis yang selama ini melekat pada sosok Sutan Zaili Asril. Keluarga berharap koleksi itu dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus menginspirasi generasi muda untuk mengembangkan tradisi intelektual.
Koleksi Buku Ditempatkan di Perpustakaan Kampus
Hibah tersebut diterima Kepala UPT Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang, Fadhila Nurul Husna Zalmi, M.Hum., bersama Komite UPT Perpustakaan Lailatur Rahmi, M.Hum., dan Ketua Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Shinta Nofita Sari, MA.
Pihak universitas mengapresiasi penyerahan koleksi tersebut karena memiliki nilai akademik sekaligus historis. Buku-buku itu merekam minat baca dan sebagian perjalanan intelektual tokoh yang pernah menjadi bagian dari lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang, sebelum berkembang menjadi UIN Imam Bonjol Padang.
Koleksi tersebut direncanakan ditempatkan di perpustakaan utama universitas. Sebagian lainnya akan disimpan di ruang sekretariat Surat Kabar Kampus (SKK) Suara Kampus agar mudah diakses mahasiswa, khususnya mereka yang aktif dalam pers mahasiswa.
Universitas juga merencanakan sudut khusus untuk koleksi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi Sutan Zaili Asril dalam dunia jurnalistik dan literasi.
Perintis Suara Kampus dan Tokoh Pers Sumatera Barat
Sutan Zaili Asril, yang akrab disapa Zai dan dikenal melalui nama pena Cucu Magek Dirih, merupakan wartawan senior sekaligus pendiri Padang Ekspres Group. Ia dikenal memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan pers daerah di Sumatera Barat.
Sebelum berkiprah di dunia pers profesional, Zai merupakan mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang. Pada 1978, ia bersama sejumlah mahasiswa merintis SKK Suara Kampus.
Dalam perintisan media mahasiswa tersebut, ia bekerja bersama Dr. Yulizal Yunus, M.Si., Dr. Shofwan Karim, MA., Fachrul Rasyid, Emma Yohanna, dan Herman L.
Suara Kampus kemudian terus berkembang dan menjadi bagian dari sejarah panjang pers mahasiswa di Ranah Minang. Perjalanan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara aktivitas jurnalistik kampus, tradisi akademik, dan perkembangan media di daerah.
Melalui hibah buku ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat salah satu tokoh yang berperan dalam perjalanan pers Sumatera Barat, sekaligus mengakses literatur yang pernah menjadi bagian dari kehidupan intelektualnya.
Buku Menjadi Penghubung Antargenerasi
Dosen UIN Imam Bonjol Padang, Dr. Abdullah Khusairi, S.Ag., MA., yang pernah bekerja sebagai reporter Harian Pagi Padang Ekspres, mengenang Sutan Zaili Asril sebagai pemimpin pers yang visioner.
Menurut Abdullah, banyak pelajaran yang dapat diambil dari sosok Zai, terutama dalam membaca arah perkembangan media, membangun budaya kerja jurnalistik, serta memberikan ruang kepada anak muda untuk berkembang.
Ia menilai, hibah tersebut tidak sekadar memindahkan koleksi buku ke perpustakaan kampus, tetapi juga menghadirkan kembali bagian dari perjalanan pemikiran seorang tokoh pers kepada generasi berikutnya.
Melalui koleksi itu, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta memahami perjalanan jurnalistik dan literasi di Sumatera Barat.
Bagi UIN Imam Bonjol Padang, keberadaan ratusan buku tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat budaya membaca sekaligus merawat sejarah pers mahasiswa. Warisan intelektual Sutan Zaili Asril diharapkan terus hidup melalui buku-buku yang dapat dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang.*

0 Komentar