Pembangunan jembatan Armco di kawasan Belimbing, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, kembali membuka akses transportasi bagi sekitar 40 kepala keluarga (KK) yang sebelumnya terisolasi akibat jembatan kayu penghubung kampung hanyut diterjang banjir pada November 2025.
Keberadaan jembatan tersebut kini memudahkan mobilitas warga, termasuk petani yang beraktivitas di lahan pertanian. Akses menuju sekolah, pasar, dan permukiman warga juga menjadi lebih mudah.
Salah seorang warga Belimbing, Adri Naldi, 41, mengatakan putusnya jembatan lama sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat. Selama hampir dua bulan, warga harus bergotong royong mengangkat sepeda motor untuk menyeberangkannya ke rumah kerabat di seberang sungai.
Sementara itu, warga yang hendak pulang ke kampung terpaksa berjalan kaki melintasi anak sungai Batang Kuranji.
“Begitu jembatan kayu itu putus, akses kami untuk keluar kampung benar-benar lumpuh total,” kata Adri.
Menurutnya, kondisi semakin sulit ketika debit sungai meningkat dan arus menjadi deras. Warga tidak berani menyeberang karena berisiko, sehingga aktivitas anak-anak untuk pergi ke sekolah serta kegiatan masyarakat menuju ladang dan pasar ikut terganggu.
Jembatan Armco tersebut dibangun oleh personel Zidam XX/TIB, Kodim 0312/Padang, dan Yon TP 844/KB Kodam XX/TIB. Berdasarkan keterangan pada penanda di pangkal jembatan, pembangunan tercatat pada 3 Maret 2026.
Jembatan itu melintasi anak sungai yang terhubung dengan aliran Batang Kuranji dan berada di Jalan Raya Belimbing, di sisi kanan jalan jika datang dari arah Pasar Belimbing.
Mempermudah Aktivitas Petani
Manfaat jembatan juga dirasakan petani setempat. Musra Fauzan, 49, mengatakan akses yang kembali terbuka memudahkan petani membawa pupuk ke lahan sekaligus mengangkut hasil panen untuk dijual ke pasar.
Komoditas pertanian yang dibudidayakan warga antara lain cabai, terung, berbagai jenis sayuran, dan padi.
“Sekarang proses bongkar muat pupuk jadi sangat mudah, begitu juga saat membawa hasil panen untuk dijual ke pasar,” ujar Musra.
Selain pembangunan jembatan, pekerjaan normalisasi sungai masih berlangsung di sekitar lokasi. Penanganan sepanjang kurang lebih 150 meter tersebut mencakup pembuatan tanggul dan penataan pinggiran sungai.
Adri memperkirakan progres normalisasi telah mencapai sekitar 75 persen saat diwawancarai. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan narasumber di lapangan, bukan data resmi pelaksana pekerjaan.
Normalisasi Sungai Jadi Perhatian
Pemulihan infrastruktur pascabencana tidak hanya berfokus pada pembukaan akses transportasi, tetapi juga penanganan sungai yang berpotensi mengalami sedimentasi.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Muhammad Tito Karnavian, dalam pernyataan yang dikutip dalam materi latar pemulihan infrastruktur, menekankan pentingnya kerja bersama berbagai instansi untuk memulihkan konektivitas pascabencana.
Dalam arahan pemulihan pascabencana Sumatera pada 28 Oktober 2026, Tito juga meminta normalisasi sungai rawan sedimentasi menjadi salah satu prioritas penanganan.
Di Belimbing, keberadaan jembatan Armco menjadi bagian penting dari pemulihan aktivitas masyarakat setelah banjir merusak akses penghubung kampung.
Meski demikian, penyelesaian normalisasi sungai tetap diperlukan untuk mendukung fungsi infrastruktur dan mengurangi gangguan terhadap aktivitas warga.
Dengan akses yang kembali terbuka, sekitar 40 KK kini lebih mudah menjalankan kegiatan sehari-hari. Bagi petani, jembatan tersebut juga membantu memperlancar distribusi pupuk dan hasil panen, sehingga aktivitas pertanian dapat berlangsung lebih efisien.*

0 Komentar