Kerupuk Sanjai tak hanya menjadi oleh-oleh khas Bukittinggi, Sumatera Barat, tetapi juga menjadi modal masyarakat Kelurahan Manggis Ganting, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, dalam mengembangkan desa wisata berbasis ekonomi kreatif dan budaya Minangkabau.
Melalui Desa Wisata Sanjai, masyarakat berupaya menghidupkan kembali tradisi lokal dengan menawarkan pengalaman wisata edukasi, kesenian tradisional, kuliner, hingga kerajinan tangan hasil karya warga.
Pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Sanjai, Ira Sanjira, mengatakan potensi utama kawasan tersebut terletak pada kearifan lokal dan keterampilan masyarakat, bukan pada panorama alam.
“Di sini kami lebih menonjolkan ekonomi kreatif dan sosial budaya. Potensi alam memang tidak ada, jadi kearifan lokal inilah yang kami angkat,” ujarnya.
Kerupuk Sanjai Dikembangkan Jadi Wisata Edukasi
Tradisi pembuatan kerupuk Sanjai menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan kepada wisatawan. Menurut Ira, dahulu hampir setiap rumah di kawasan tersebut memproduksi kerupuk singkong.
Kini, tradisi itu dikembangkan menjadi wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung mengenal proses pembuatan kerupuk sekaligus memahami sejarahnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Selain kuliner, wisatawan dapat menikmati berbagai atraksi budaya Minangkabau, seperti makan bajamba, tari pasambahan, pertunjukan tambua dan tansa, talempong, serta silat. Pengunjung juga dapat mengenal pakaian adat, menaiki bendi, hingga menginap di homestay.
Konsep tersebut diharapkan memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kerajinan Makrame Perluas Peluang Usaha
Selain kerupuk Sanjai, kerajinan tangan menjadi potensi lain yang dikembangkan warga. Salah satunya adalah kerajinan makrame berbahan tali kur yang ditekuni Aang Rodinda, 61 tahun, sejak pandemi Covid-19.
Aang mempelajari teknik dasar pembuatan simpul, kemudian mengembangkan berbagai motif secara mandiri melalui video tutorial di YouTube.
Produk yang dihasilkan antara lain kantong telepon genggam dan tas makrame. Kantong telepon genggam dijual mulai Rp75 ribu, sedangkan tas dibanderol Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Produk tertentu bahkan pernah terjual Rp300 ribu.
Pembuatan satu tas dapat memerlukan waktu sekitar tiga hari, bergantung pada tingkat kesibukan dan kerumitan pengerjaan.
Meski memiliki nilai seni dan membutuhkan ketelitian, pemasaran produk kerajinan tersebut masih menghadapi tantangan. Aang menilai minat pembeli terhadap kerajinan belum sebesar minat terhadap makanan khas Sanjai.
Karena itu, ia berharap tersedia galeri bersama untuk memasarkan beragam produk UMKM, mulai dari makrame, bordir, tas kain, hingga makanan khas. Keberadaan galeri dinilai dapat memudahkan wisatawan mengenal dan membeli produk lokal dalam satu tempat.
Promosi Digital dan Regenerasi Jadi Tantangan
Pengembangan Desa Wisata Sanjai juga didukung melalui pelatihan promosi digital. Ira menyebut kerja sama dengan Bank Indonesia menghadirkan pelatihan fotografi, video, dan pemasaran digital selama tiga hari bagi generasi muda.
Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari Sanjai, Koto Gadang, dan Kubu Gadang. Promosi kemudian dilanjutkan melalui kegiatan famtrip dengan mengundang kreator konten dan influencer untuk memperkenalkan potensi desa wisata.
Namun, pengelolaan masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia dan pendanaan. Sejumlah kegiatan mengandalkan partisipasi sukarela warga melalui gotong royong, sementara pengelola tidak menerima honor rutin.
Subkoordinator Industri Pariwisata dan Kelembagaan Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Sulastri Tatrawarsa, mengatakan pemerintah mendukung pengembangan desa wisata melalui penguatan kapasitas dan kelembagaan.
Dukungan tersebut mencakup pelatihan digitalisasi, public speaking, pengelolaan sampah, serta fasilitasi pengurusan akta notaris bagi kelompok sadar wisata.
Meski demikian, pemerintah belum menyediakan bantuan dana langsung secara khusus untuk kelompok tersebut.
“Kalau pemberian dana murni, kita memang tidak ada,” kata Sulastri.
Menurutnya, kelompok sadar wisata dapat mencari dukungan secara mandiri, antara lain melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan juga dapat diupayakan melalui program pokok pikiran anggota legislatif yang disalurkan melalui dinas terkait.
Pada 2026, Desa Wisata Sanjai memperoleh dukungan melalui program pokok pikiran untuk perlengkapan kelompok dan perbaikan fisik balerong. Sementara itu, pemeliharaan fasilitas yang bukan aset pemerintah menghadapi kendala terkait status kepemilikan barang.
Sulastri juga menyoroti keterlibatan generasi muda yang dinilai belum optimal. Pengelolaan masih didominasi perempuan berusia lebih tua, sedangkan sebagian anak muda berada di luar daerah atau belum aktif terlibat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kunjungan wisatawan belum berlangsung secara konsisten, sementara pengelola tidak memperoleh penghasilan rutin dari kegiatan tersebut.
Prestasi Desa Wisata Belum Menjamin Kesejahteraan Warga
Desa Wisata Sanjai memiliki sejumlah prestasi dalam kompetisi pariwisata. Kawasan ini tercatat masuk 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada 2021, 500 besar pada 2022 dan 2023, serta 300 besar pada 2024.
Sanjai juga meraih juara pertama Lomba Pokdarwis tingkat Kota Bukittinggi pada 2022 dan 2023. Selain itu, pengelola menyebut Sanjai masuk 15 besar dan meraih juara II Desa Wisata Nusantara pada Agustus 2026.
Dari sisi kunjungan, data yang tersedia mencatat sebanyak 1.465 kunjungan ke objek wisata Sanjai sepanjang 2024. Angka tersebut belum mencakup pengunjung yang datang hanya untuk membeli kerupuk atau produk UMKM tanpa mengunjungi objek wisata.
Sementara itu, Kota Bukittinggi mencatat 750.821 kunjungan wisatawan sepanjang 2025, terdiri atas 704.854 wisatawan domestik dan 45.967 wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 604.541 kunjungan pada 2024.
Bagi masyarakat Sanjai, tantangan utamanya bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi warga.
Kerupuk Sanjai, kesenian Minangkabau, tradisi makan bajamba, dan kerajinan makrame merupakan potensi yang dapat dikembangkan secara terpadu. Namun, upaya tersebut membutuhkan pemasaran yang lebih efektif, keterlibatan generasi muda, serta dukungan fasilitas yang memadai.
Dengan penguatan pengelolaan dan perluasan akses pasar, Desa Wisata Sanjai diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menjadikannya sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.*

0 Komentar