Di tengah tantangan regenerasi perajin, Yirmadi, 56, atau akrab disapa Iyin, terus berupaya mempertahankan kerajinan sulaman khas Padang. Melalui usaha yang dirintis sejak 2003 di Gang Bonsai, Kelurahan Batuang Taba, Kota Padang, ia kini melibatkan sekitar 25 perajin untuk menghasilkan beragam produk bernilai ekonomi dan budaya.
Usaha tersebut mulai ditekuni secara serius pada 2006. Seiring waktu, produk yang dihasilkan semakin beragam, mulai dari selendang, busana adat, alas meja, sarung bantal dan kursi, hingga aksesori berbahan sulaman.
Iyin turut memperkenalkan hasil kerajinannya dalam Bazar Industri Kecil dan Menengah (IKM) Binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat pada 6–8 Oktober 2026. Kegiatan itu menjadi salah satu upayanya memperluas pemasaran sekaligus memperkenalkan sulaman tradisional Minangkabau kepada masyarakat.
Berawal dari Ketertarikan terhadap Kerajinan Sulaman
Iyin menuturkan, ketertarikannya terhadap usaha sulaman bermula ketika melihat banyak masyarakat, terutama dari Pariaman, menekuni kerajinan tersebut. Ia menilai sulaman tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Meski sempat menerima kritik ketika merintis usaha, ia menjadikan berbagai masukan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produk. Selendang menjadi salah satu produk yang kemudian banyak diminati pelanggan.
Dalam menjalankan usahanya, Iyin melibatkan perajin yang bekerja di tempat produksi maupun dari rumah masing-masing. Ia menyediakan kebutuhan pengerjaan, seperti kayu gagangan atau rangka sulaman dan benang, agar para perajin dapat menyelesaikan pesanan.
Selain selendang, produk yang dihasilkan meliputi baju basiba, pakaian, perlengkapan rumah tangga, serta aksesori berupa kalungan dan tentengan yang dapat digunakan untuk membawa telepon genggam maupun mukena.
Harga Selendang Sulaman Capai Rp2 Juta
Harga produk sulaman bervariasi, bergantung pada jenis bahan, tingkat kerumitan motif, serta teknik dan waktu pengerjaan.
Aksesori kalungan berbahan kayu dijual sekitar Rp60 ribu. Sementara itu, produk bordir dibanderol sekitar Rp1 juta, sedangkan selendang sulaman dapat mencapai Rp2 juta.
Menurut Iyin, sulaman khas Padang memiliki karakter dan teknik tersendiri, salah satunya tusuk samek. Motif yang digunakan antara lain berbentuk paku dan segitiga, termasuk pola yang dikenal sebagai kain jalin dengan bagian tengah kosong.
Bagi Iyin, kualitas pengerjaan menjadi hal utama dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan. Ia mengutamakan kerapian dan ketelitian meskipun proses produksi membutuhkan waktu lebih lama.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga kualitas sekaligus mempertahankan ciri khas kerajinan tradisional yang dikerjakannya.
Iyin juga pernah berkolaborasi dengan perajin lain, termasuk Yadhir Fashion yang dikenal dengan kerajinan kapalo samek. Selain mengembangkan usaha sulaman, ia mengelola usaha pelaminan dan memperkenalkan busana hasil karyanya melalui ajang peragaan busana.
Pada 2025, busana yang memadukan sulaman khas Padang dan selendang karyanya mengikuti lomba fashion show dan berhasil meraih juara pertama serta ketiga.
Pasarkan Produk hingga ke Luar Daerah
Untuk memperluas jangkauan pasar, Iyin memanfaatkan berbagai saluran pemasaran, mulai dari pelanggan langsung, organisasi masyarakat, hingga media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok melalui akun Iyin Pelaminan.
Ia juga menerapkan strategi pemasaran langsung dengan membawa sejumlah pilihan motif ketika mengantarkan pesanan kepada calon pembeli. Cara tersebut memudahkannya menawarkan variasi produk sesuai kebutuhan pelanggan.
Hasil kerajinannya pernah dipesan pelanggan dari Sulawesi. Produk tersebut juga beberapa kali dibawa Dinas Koperasi untuk mengikuti kegiatan pameran di Jakarta.
Dalam sebulan, omzet usahanya berkisar Rp1 juta hingga Rp11 juta, bergantung pada modal, ketersediaan barang, dan jumlah pesanan. Kegiatan pameran maupun acara tertentu menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan produk dan menjaring pembeli baru.
Regenerasi Perajin Masih Menjadi Tantangan
Di balik keberlangsungan usahanya, Iyin mengakui regenerasi perajin masih menjadi tantangan. Menurutnya, minat generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan kerajinan tradisional perlu terus ditumbuhkan.
Ia telah mengajarkan keterampilan menyulam kepada anak-anaknya. Namun, belum semuanya menunjukkan minat untuk melanjutkan usaha tersebut.
Iyin berharap generasi muda melihat sulaman tradisional tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari rumah dan dipasarkan melalui teknologi digital.
Ia juga berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar kepada para perajin, terutama melalui fasilitas yang memudahkan mereka membawa, memamerkan, dan memasarkan hasil karya.
Bagi Iyin, keberlanjutan sulaman khas Padang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Selain menjaga keterampilan dan kualitas produk, regenerasi perajin serta perluasan pasar menjadi faktor penting agar kerajinan tradisional Minangkabau tetap bertahan dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.*

0 Komentar