Pergeseran dari Sekadar Schooling ke Proses Learning

Oleh: Dr. Rahmi, M.A.

Dosen Pascasarjana UM Sumatera Barat

BUKITTINGGI, kiprahkita.com –Pendidikan saat ini berada pada persimpangan antara tuntutan digitalisasi, pencapaian akademis, dan pentingnya integritas moral. Banyak murid atau peserta didik hadir di sekolah (schooling), tetapi belum benar-benar mengalami proses pembelajaran (learning) yang bermakna. Kondisi ini berpotensi menimbulkan learning loss dan learning poverty. Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga membentuk karakter, integritas, dan moral peserta didik.


Dalam praktiknya, sistem pendidikan masih cenderung didominasi oleh pencapaian kognitif, seperti nilai dan peringkat akademis. Sementara itu, pembentukan karakter, etika, dan integritas sering kali kurang mendapatkan perhatian yang seimbang. Oleh karena itu, diperlukan sistem evaluasi pendidikan yang mampu mengakomodasi tiga aspek utama, yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ketiganya harus berjalan secara seimbang agar pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keterampilan dan akhlak yang baik.




Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat mendorong pergeseran dari schooling menuju learning adalah pendekatan keteladanan dan pembiasaan. Dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting sebagai pendidik utama dalam keluarga sekaligus teladan atau role model bagi anak di rumah. Keteladanan tersebut mencakup aspek akidah, ibadah, dan akhlak.


Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua di rumah serta guru di sekolah akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik. Anak tidak cukup hanya mengetahui nilai-nilai kebaikan secara teoritis, tetapi juga perlu melihat, mencontoh, melakukan, dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi berlanjut pada pembentukan perilaku dan karakter.


Selain keteladanan dan pembiasaan, pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam juga menjadi salah satu alternatif untuk mewujudkan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pendekatan ini bukan sekadar proses transformasi materi atau kegiatan menghafal, melainkan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).


Melalui pendekatan deep learning, guru di sekolah, madrasah, pesantren, serta berbagai lembaga pendidikan formal, nonformal, dan informal dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Pembelajaran yang demikian diharapkan mampu mengembangkan kecerdasan peserta didik secara utuh, baik intelektual, emosional, maupun spiritual.


Namun, upaya mewujudkan pembelajaran yang berkualitas tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga memiliki peran yang sangat menentukan dalam mendukung keberhasilan pendidikan. Kesejahteraan keluarga, kualitas pendampingan orang tua di rumah, serta pengendalian penggunaan ruang digital pada anak turut memengaruhi kesiapan dan kemampuan belajar peserta didik di sekolah.


Oleh karena itu, pendidikan perlu dipahami sebagai proses kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Sekolah bukan sekadar tempat anak hadir untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, melainkan ruang bagi mereka untuk mengalami proses belajar yang sesungguhnya. Demikian pula keluarga, bukan hanya tempat anak tumbuh, tetapi juga lingkungan pertama dalam membangun karakter, nilai moral, dan kebiasaan belajar.


Pergeseran dari schooling menuju learning pada akhirnya menuntut perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, seberapa tinggi nilai yang diperoleh, atau seberapa baik peringkat akademis peserta didik. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan harus tercermin dalam kemampuan peserta didik memahami ilmu, mengembangkan keterampilan, menjaga integritas moral, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.


Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya: bukan sekadar menghadirkan anak di sekolah, melainkan memastikan bahwa mereka benar-benar belajar, bertumbuh, dan menjadi manusia yang berilmu serta berakhlak mulia.*

Posting Komentar

0 Komentar