Produktivitas Jeruk Siam Gunung Omeh (Jesigo) di Kabupaten Limapuluh Kota menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari serangan hama dan penyakit tanaman hingga keterbatasan modal petani. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Universitas Andalas (Unand) memberikan pendampingan terpadu kepada Kelompok Tani Tenggang Raso di Jorong Lubuak Aua, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh.
Pendampingan melalui Program Kemitraan Masyarakat Membantu Usaha Berkembang (PKM-MUB) itu mencakup peningkatan kualitas bibit, pembuatan pupuk kompos, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga pemasaran digital.
Program ini menjadi salah satu upaya mendorong kebangkitan Jesigo yang pernah menjadi komoditas unggulan dan penopang ekonomi masyarakat Gunuang Omeh.
Potensi perkebunan jeruk di kawasan tersebut cukup besar. Luasnya meningkat dari sekitar 500 hektare pada 2011 menjadi 1.133,80 hektare pada 2018. Namun, perkembangan itu menghadapi tekanan sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Gangguan distribusi hasil panen dan rantai pasok, serta keterbatasan modal untuk memenuhi kebutuhan pupuk dan pestisida, menyebabkan pemeliharaan kebun tidak berjalan optimal.
Petani juga menghadapi serangan sejumlah penyakit dan hama tanaman, seperti lalat buah (Bactrocera dorsalis), penyakit mati pucuk akibat Lasiodiplodia theobromae, serta penyakit yang berkaitan dengan Phytophthora spp. Kondisi tersebut berdampak terhadap produksi, bahkan memicu kegagalan panen di sejumlah kebun.
Pendampingan dari pembibitan hingga pengendalian penyakit
Tim Unand yang diketuai Dr. Ir. Ujang Khairul, MP, melibatkan dosen dan mahasiswa dari Fakultas Pertanian serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Pada aspek pembibitan, Dr. Armansyah memberikan pelatihan teknik perbanyakan bibit unggul lokal Jesigo. Sementara itu, Dr. Gusnidar dan Ir. Irwan Darfis membimbing petani mengolah bahan organik dan limbah pertanian menjadi pupuk kompos.
Pelatihan pengendalian OPT diberikan Dr. Hasmiandy Hamid, meliputi pengenalan gejala serangan serta strategi pengendalian hama dan penyakit. Petani juga dibekali keterampilan membuat pestisida hayati dan nabati oleh Dr. Ujang Khairul sebagai alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan.
Melalui pelatihan tersebut, petani diharapkan mampu memanfaatkan sumber daya lokal untuk memenuhi sebagian kebutuhan sarana produksi kebun dan mengurangi ketergantungan terhadap produk kimia.
Diperkuat mesin produksi dan pemasaran digital
Pendampingan Unand tidak hanya berfokus pada kegiatan budidaya. Petani juga dibekali kemampuan memasarkan hasil panen melalui platform digital.
Dr. Rita Rahayu memberikan pelatihan promosi dan penjualan daring agar produk Jesigo dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Untuk mendukung penerapan teknologi tersebut, Unand menyerahkan bantuan berupa satu unit mesin pencacah, mesin pencampur kompos, serta peralatan laboratorium mini untuk pembuatan pupuk kompos dan pestisida hayati.
Wali Nagari Kototinggi, Insanul Rijal, yang hadir bersama tokoh masyarakat saat penyerahan bantuan, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Unand kepada petani Jesigo.
Ia berharap program tersebut dapat berlanjut dan menjangkau kelompok tani lainnya di Nagari Kototinggi.
Melalui pendampingan dari aspek produksi hingga pemasaran, Unand berharap kemampuan petani dalam mengelola kebun semakin meningkat. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan produktivitas Jesigo sekaligus memperkuat pendapatan dan kesejahteraan petani di kawasan Gunuang Omeh.*

0 Komentar