Menata Masa Depan: Makna Strategis Uda Uni Duta Wisata Tanah Datar 2025 dalam Merawat Warisan Budaya

Merawat Warisan, Menata Masa Depan: Makna Strategis Uda Uni Duta Wisata Tanah Datar 2025

TANAH DATAR, kiprahkita.com Dalam upaya memajukan pariwisata berbasis kearifan lokal, Kabupaten Tanah Datar kembali menggelar Malam Anugerah Uda Uni Duta Wisata 2025 pada Sabtu malam, 9 Agustus 2025 di Gedung Nasional Maharajo Dirajo, Batusangkar. Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Tanah Datar, Eka Putra, SE. MM., dan dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah serta tokoh masyarakat, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan budaya dan pariwisata sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

2Sebanyak 12 pasang finalis tampil memukau, mempertontonkan bakat, intelektualitas, kreativitas, serta keteladanan, menjadikan ajang ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga ruang ekspresi dan aktualisasi generasi muda. Mereka bukan sekadar peserta, tapi calon-calon duta yang akan membawa wajah Tanah Datar ke panggung nasional dan global.

Duta Wisata Bukan Sekadar Gelar

Pemilihan Uda dan Uni Duta Wisata memiliki makna strategis yang mendalam. Di balik sorotan lampu dan sorak penonton, tersembunyi sebuah agenda besar: pelestarian jati diri Tanah Datar sebagai Luhak Nan Tuo, pusat sejarah dan budaya Minangkabau.

Melalui ajang ini, Pemda tidak hanya mencari sosok yang cakap berbicara, tetapi juga pemuda-pemudi yang memiliki pemahaman mendalam tentang adat, budaya, dan potensi wisata lokal. Ini adalah investasi dalam bentuk manusia—modal sosial paling berharga dalam menghadapi dunia yang kian tanpa batas.

Bupati Eka Putra menekankan bahwa kegiatan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk membangun sektor pariwisata dengan cara yang berkelanjutan, yaitu melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama. Beliau juga berpesan agar seluruh finalis tetap bersemangat mengembangkan pariwisata, terlepas dari siapa yang keluar sebagai juara.

Budaya Lokal sebagai Akar Pariwisata

Tanah Datar, sebagai salah satu daerah paling bersejarah di Ranah Minang, memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa. Namun kekayaan itu tidak akan berarti tanpa generasi yang mampu menjaganya, mengenalkannya, dan memperjuangkannya.

Pemilihan Uda Uni menjadi bukti nyata bahwa promosi pariwisata tidak melulu soal tempat, tapi juga soal narasi, representasi, dan karakter. Duta wisata adalah wajah daerah, dan wajah itu harus cerdas, santun, dan penuh semangat.

Dari Ajang Lokal Menuju Dampak Global

Ketua pelaksana, Alfi Khairi, melaporkan bahwa seluruh tahapan acara berjalan lancar. Ini menandakan bahwa kesadaran kolektif terhadap pentingnya regenerasi pelaku wisata dan budaya sudah mulai tumbuh. Dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah, masyarakat, maupun lembaga adat—adalah pondasi yang membuat acara ini tidak hanya berlangsung, tapi bermakna.

Lebih dari seremoni tahunan, Malam Anugerah Uda Uni Duta Wisata Tanah Datar adalah wujud dari konsistensi pembangunan jangka panjang yang memadukan identitas lokal dan visi masa depan. Dalam konteks pembangunan daerah, kegiatan seperti ini menciptakan sinergi antara promosi, edukasi, dan pelestarian budaya.

Menjadi Duta, Menjadi Harapan

Ketika para finalis Uda Uni berdiri di atas panggung, mereka sesungguhnya berdiri di atas harapan Tanah Datar—harapan akan masa depan pariwisata yang inklusif, berakar, dan berkelas dunia. Ajang ini memberi mereka ruang untuk bersuara, bertindak, dan berkontribusi.

Kini, tugas mereka bukan hanya mengenakan selempang, tapi mewakili Tanah Datar dengan integritas dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Bagi masyarakat, ini adalah pengingat bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik para duta terpilih.(Prokopim/Yus MM)

Posting Komentar

0 Komentar