Minangkabau Talk 2025: Ketika Alam, Adat, dan Intelektualisme Bertemu di Ranah Bunda
BUKITTINGGI, kiprahkita.com –Di tengah riuh modernitas yang kerap menggilas identitas, Minangkabau Talk 2025 tampil sebagai oase pemikiran yang bukan hanya menghidupkan kembali warisan leluhur, tetapi juga menantangnya untuk tetap relevan di masa kini. Diselenggarakan oleh UIN Bukittinggi bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM), forum ini bukanlah seminar budaya biasa. Ia adalah perjalanan intelektual, menyusuri lanskap batin dan alam yang telah membentuk kosmologi Minangkabau selama berabad-abad.
![]() |
Minangkabau Talk 2025 |
Dengan tema “Menggali Pemikiran Alam Minangkabau”, forum ini mengambil pendekatan yang unik—tidak membahas budaya dari balik meja, tetapi dari kaki bukit, tepi danau, hingga jantung nagari. Dari Lembah Harau yang menjulang hingga Danau Maninjau yang tenang, dari Museum Buya Hamka yang sarat sejarah hingga Istano Basa Pagaruyuang yang sakral, setiap tempat bukan hanya latar, tapi naskah kebudayaan itu sendiri.
Ketika Alam Menjadi Teks
Minangkabau memiliki falsafah yang mendalam: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Namun, jauh sebelum ayat-ayat kitab dibacakan, masyarakat Minang telah terlebih dahulu membaca alam. Dalam konteks ini, alam bukan hanya ruang fisik, tetapi ruang refleksi. Bukit yang kokoh, aliran batang air, bahkan pola sawah dan tata ruang nagari mengajarkan tentang keseimbangan, harmoni, dan hierarki yang dinamis.
Inilah yang menjadi landasan epistemologi Minangkabau: alam takambang jadi guru. Bukan hanya slogan kosong, tapi kerangka berpikir yang membentuk cara hidup, etika, bahkan struktur sosial orang Minang. Maka, membicarakan Minangkabau tidak bisa dilepaskan dari lanskapnya—karena di sanalah ide dan nilai dilahirkan, diuji, dan diwariskan.
Tradisi yang Bergerak: Dari Nagari ke Dunia
Apa yang menarik dari Minangkabau Talk adalah upayanya menyeimbangkan dua kutub: tradisi dan akademisi. Para akademisi seperti Dr. Muhiddinur Kamal, Ali Rahman, Gusril Basir, dan lainnya bukan hanya membacakan makalah, tetapi membumikan kembali nilai-nilai Minangkabau dalam konteks global. Mereka bukan nostalgia terhadap masa lalu, tetapi membaca ulang adat sebagai strategi masa depan.
Di sinilah kekuatan forum ini terasa: ketika adat tidak dipatungkan, tapi ditafsirkan ulang agar bisa menjawab tantangan hari ini—dari krisis identitas, degradasi lingkungan, hingga alienasi sosial. Karena adat Minang sejatinya hidup, adaptif, dan kritis. Ia bukan beku dalam romantisme, melainkan lentur dalam menghadapi perubahan.
Kolaborasi sebagai Jalan Tumbuh
Kehadiran Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam forum ini bukan hanya bentuk kolaborasi akademik lintas negara, tetapi juga pengakuan bahwa kearifan lokal punya tempat dalam percakapan ilmiah global. Di tengah arus besar modernisasi dan homogenisasi budaya, Minangkabau Talk menjadi bukti bahwa narasi lokal tak harus kalah oleh wacana dominan. Justru, dari lokal itulah muncul kekayaan perspektif dan alternatif jalan pikir yang lebih membumi.
Lebih jauh, kerja sama ini menempatkan Minangkabau sebagai bagian dari jaringan intelektual Melayu yang luas, menjembatani masa lalu dan masa depan dalam semangat persaudaraan keilmuan.
Kembali ke Akar untuk Melompat Lebih Tinggi
Minangkabau Talk 2025 bukan sekadar acara. Ia adalah peristiwa intelektual dan kultural, yang menegaskan bahwa akar tidak menghalangi pohon untuk tumbuh—justru memperkuatnya. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, forum ini mengajarkan bahwa kadang, untuk memahami arah ke depan, kita perlu menyusuri kembali jejak-jejak pemikiran dari tanah tempat kita berpijak.
Minangkabau bukan hanya tanah adat. Ia adalah tanah pemikiran. Hari ini, di tengah Lembah Harau dan Danau Maninjau, kita diingatkan kembali: bahwa kekuatan bangsa tak hanya ada di langit teknologi, tetapi juga di kedalaman nilai yang tumbuh dari bumi sendiri.
![]() |
nilai yang tumbuh dari bumi sendiri bersama Universiti Putra Malaysia (UPM) |
Minangkabau Talk 2025: Menyusuri Jejak Pemikiran dari Alam Minangkabau
Di balik lengkung atap rumah gadang dan hamparan alam yang megah, Minangkabau menyimpan pemikiran yang dalam—lahir dari pertemuan antara adat, syarak, dan alam itu sendiri. Inilah yang hendak digali dalam Minangkabau Talk 2025, sebuah rangkaian diskusi budaya yang digelar oleh UIN Bukittinggi bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia (UPM).
Bertema “Menggali Pemikiran Alam Minangkabau”, acara ini tidak berlangsung di ruang seminar biasa, melainkan langsung di jantung alam dan sejarah Minangkabau: Lembah Harau, Danau Maninjau, Museum Buya Hamka, hingga Istano Basa Pagaruyuang dan Nagari Tuo Pariangan. Setiap lokasi dipilih bukan sekadar karena keindahannya, tetapi karena ia menyimpan narasi peradaban dan nilai yang membentuk wajah Minangkabau hari ini.
Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si, Rektor UIN Bukittinggi menegaskan pentingnya menggali kembali pemikiran lokal sebagai kekuatan budaya dan intelektual bangsa. Baginya, Minangkabau bukan hanya soal adat dan tradisi, tetapi juga cara berpikir yang lahir dari alam, diterjemahkan dalam syarak, dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Sepanjang tiga hari pelaksanaan, para akademisi UIN Bukittinggi seperti Dr. Muhiddinur Kamal, Ali Rahman, M.H., Gusril Basir, M.H., Dr. Irwandi, dan Dr. Arman Husni memandu diskusi tentang bagaimana nilai-nilai Minangkabau bisa terus hidup dan menjawab tantangan zaman. Dari perbincangan tentang adat yang bertumpu pada syarak, hingga pembacaan ulang filosofi hidup dari lanskap alam yang melingkupi masyarakat Minang.
Minangkabau Talk bukan sekadar forum ilmiah. Ia adalah perjalanan intelektual dan batiniah, menyusuri akar-akar pemikiran lokal yang lahir dari tanah sendiri. Melalui kolaborasi antara UIN Bukittinggi dan UPM, forum ini juga menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, antara tradisi dan masa depan. (IA/Yus MM)*
0 Komentar