Ranah Bundo dalam Duka: Saatnya Saling Menguatkan tanpa Menyalahkan

Ranah Bundo dalam Duka: Saatnya Saling Menguatkan tanpa Menyalahkan

Ferki Ahmad Marlion

Penulis adalah Ketua Umum Lembaga Alim Ulama Parambahan dan Dosen IAIN Kerinci

TANAH DATAR, kiprahkita.com Sumatera Barat kembali dilanda rangkaian bencana alam yang datang bertubi-tubi, mulai dari longsor, galodo, banjir bandang, hingga angin kencang yang memorak-porandakan pemukiman. Di banyak wilayah, tanah retak dan bergerak, rumah rusak, dan air bah membawa duka yang tidak ringan. Ranah bundo yang biasanya teduh kini seakan berbalut kesedihan. Tangis masyarakat di lereng-lereng perbukitan dan tepian sungai menjadi penanda bahwa alam tengah menguji keteguhan hati anak nagari.

Di tengah suasana ini, ruang publik dan media sosial sesekali dipenuhi suara-suara yang saling menyalahkan, menuding bahkan menghakimi. Ada yang melontarkan tuduhan, ada yang mengaitkan musibah dengan dosa seseorang, dan ada yang melempar kalimat-kalimat yang justru memperdalam luka, seakan diri yang menyalahkan orang lain itu bersih dari salah dan dosa. Mungkin sebagian ucapan dilandasi niat baik untuk mengingatkan, namun waktunya tidak tepat. Ketika masyarakat masih berkutat menyelamatkan diri, mencari keluarga, dan menata kembali hidup yang porak-poranda, kalimat penghakiman justru menjadi bara yang membakar empati.

Padahal, dalam konteks sosial maupun keagamaan, musibah seyogianya menjadi momentum perajut ukhuwah. Bencana adalah ruang yang menghadirkan peluang untuk memperkuat solidaritas, bukan memupuk perpecahan. Ketika satu kampung tertimbun longsor, kampung lain bergerak mengirim bantuan. Ketika satu keluarga kehilangan tempat tinggal, keluarga lain membuka pintu dengan lebar. Di sanalah nilai luhur kebersamaan masyarakat Minangkabau menemukan maknanya: barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, maka saling menopanglah dalam setiap kesulitan.

Dalam pandangan iman, ujian bukanlah tanda keterpurukan, melainkan jalan pengangkat derajat. Allah tidak akan mengangkat kedudukan seseorang sebelum ia diuji, dan tidak akan menempatkan hamba-Nya pada posisi mulia sebelum ia melalui fase kesabaran. Dengan memahami ini, bencana bukan lagi dipandang sebagai hukuman, melainkan proses pendewasaan spiritual. Umat diuji agar semakin kuat, masyarakat diteguhkan agar semakin dewasa, dan sebuah daerah ditempa agar kembali tegak dengan jati diri yang baru.

Oleh karena itu, yang paling dibutuhkan hari ini bukanlah saling tuding atau saling hujat, melainkan tangan-tangan yang saling bergandengan. Kehilangan bisa dipikul bersama, duka bisa ditenangkan bersama, dan bangkit akan terasa lebih ringan bila dilakukan bersama. Inilah saatnya memperkuat kembali nilai gotong royong dan solidaritas yang sejak dahulu menjadi napas kehidupan di ranah Minang.

Akhirnya, kepada seluruh masyarakat, mari kita bersabar, bergandengan dan tetap tegar menghadapi situasi ini. Kita sedang menjalani ujian Allah, dan pada setiap ujian selalu tersimpan janji akan kemuliaan. Untuk sementara, hentikanlah saling hujat, saling tuding, dan saling menghakimi. Luka yang masih basah tidak membutuhkan caci, tetapi ketenangan dan pelukan empati. Ketika air mata mulai mengering, saat itulah kita kembali bermuhasabah, saling menasihati dengan hikmah dan kata-kata yang menyejukkan. Semoga duka ini menjadi pintu bagi lahirnya kebijaksanaan, musibah ini menjadi perekat hati yang tercerai, dan ranah bundo kembali pulih dengan kekuatan yang baru. Sesungguhnya, bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudahan.

Posting Komentar

0 Komentar