Erupsi Gunung Semeru dan Dampaknya bagi Pendaki dan Desa Supiturang
LUMAJANG, kiprahkita.com –Sebagai informasi, untuk saat ini tingkat Aktivitas Gunung Semeru masih berada di Level IV atau berstatus awas meskipun pada pukul 19.56 WIB getaran banjir dan erupsi sudah tidak terekam. Rumah warga di Dusun Gumukmas Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur rusak akibat tertimbun material vulkanik Gunung Semeru, Kamis (20/11/2025) kemarin.
Kerusakan parah terjadi di Dusun Gumukmas Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur setelah diterjang awan panas guguran Gunung Semeru pada Rabu (19/11/2025) kemarin. Pantauan suarasurabaya.net pada pukul 12.30 WIB, material abu vulkanik meratakan hampir satu Dusun Gumukmas. Bahkan jalan aspal desa tersebut juga rata tertimbun dengan material.
Material vulaknik menumpuk hampir setinggi atap rumah yang mengakibatkan kerusakan di bagian atap, dinding dan pintu depan. Selain itu perkebunan dan hewan ternak warga juga ikut terdampak. Kondisi Dusun Gumukmas Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tertimbun material vulkanik Gunung Semeru, Kamis (20/11/2025). Foto: Wildan suarasurabaya.net
Berdasarkan data sementara BPBD Jawa Timur terdapat 21 rumah warga yang rusak dan satu sekolah SDN Supiturang II yang seluruhnya tertimbun material.
“Yang rusak ada 21 rumah, paling parah di Sumbersari dengan satu sekolah SDN Supiturang II,” ujar Gatot Soebroto Kepala Pelaksana BPBD Jatim.
Selain itu, material bebatuan besar yang ikut menimbun di kawasan Supiturang masih mengeluarkan asap dengan suhu masih cukup panas.
Aktivitas warga untuk saat ini mencoba sebisa mungkin menyelamatkan barang-barang mereka yang masih tertinggal di dalam rumah. Dan sebagian warga ingin melihat kondisi supiturang yang luluh lantah.
Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim waktu ditemui di Jembatan Gladak Perak telah menginstruksikan untuk mengerahkan alat berat guna mengangkat material yang menimbun rumah rumah warga. Untuk saat ini tahap penanganan bencana Semeru adalah pengangkatan material vulkanik.
“Sudah ada dua ekskavator (untuk pengangkatan material),” ujar Khofifah.
Berita 2
Rabu, 19 November 2025 kemarin, Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi hebat dengan luncuran awan panas sejauh 14 kilometer. Kejadian ini menimbulkan situasi darurat bagi 178 orang yang terjebak di Ranu Kumbolo, termasuk pendaki, petugas, porter, dan tim dari Kementerian Pariwisata.
Kondisi medan yang licin dan jalur yang rawan longsor membuat evakuasi malam hari tidak memungkinkan, sehingga para pendaki disarankan tetap berada di lokasi sambil menunggu situasi lebih aman.
![]() |
Video Desa Supiturang di Lumajang Luluh Lantak |
Meski demikian, laporan dari pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyatakan bahwa Ranu Kumbolo relatif aman dari dampak langsung awan panas, yang bergerak ke arah tenggara-selatan. Para pendaki diharapkan memulai perjalanan kembali ke Ranupani pada pagi hari berikutnya, setelah situasi lebih terkendali.
Erupsi Gunung Semeru ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bagi pendaki dan warga sekitar gunung berapi. Selain menimbulkan risiko langsung seperti luka bakar dan kerusakan infrastruktur, erupsi juga menunjukkan perlunya koordinasi yang baik antara tim penyelamat, pemandu, dan instansi pemerintah agar keselamatan pengunjung tetap terjaga. CNN Indonesia
Semeru Erupsi, 178 Pendaki Terpaksa Bertahan di Ranu Kumbolo
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami erupsi dan memuntahkan awan panas guguran sejauh 14 kilometer, Rabu (19/11).
Sebanyak 178 orang dilaporkan masih terjebak lereng Gunung Semeru tepatnya di Ranu Kumbolo. Mereka terdiri dari pendaki, petugas, saver, porter hingga tim Kementerian Pariwisata.
Langit Sekitar Gunung Semeru Gelap Gulita, Bau Belerang Menyengat
Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Septi Eka Wardhani.
"Jumlah orang yang berada di Ranu Kumbolo 178 orang. Terdiri 137 orang pendaki, 1 orang petugas, 2 saver, 7 orang PPGST (Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar), 15 porter, 6 orang dari tim Kementerian Pariwisata," kata Septi saat dikonfirmasi, Rabu (19/11).
Informasi terakhir, kata Septi, 178 orang itu masih berada di Ranu Kumbolo. Kondisi medan tak memungkinkan mereka untuk turun malam ini.
"Sore tadi teman PPGST menyampaikan bahwa evakuasi malam tidak direkomendasikan karena risikonya sama, terutama karena gelap, licin, dan beberapa lokasi jalur rawan longsor," ucapnya.
"Untuk sementara kami minta yang di Ranu Kumbolo tetap di sana dalam posisi siap jika sewaktu-waktu memang harus turun malam sambil melihat situasi terbaru," kata dia.
Pranata Humas BB TNBTS Endrip Wahyutama mengatakan, kondisi Ranu Kumbolo dilaporkan relatif aman dari dampak erupsi Semeru
"Untuk saat ini, kondisi di Ranu Kumbolo relatif aman. Awan panas terpantau bergerak ke arah tenggara-selatan, sedangkan posisi Ranu Kumbolo berada di utara," ucap Endrip.
Karena itu, kata dia, para pendaki tetap bermalam di lokasi, mengingat perjalanan kembali ke Ranupani cukup berisiko karena sudah malam dan cuaca di kawasan tersebut sedang hujan.
Semeru Erupsi, Awan Panas Meluncur 14 Km Sampai Jembatan Gladak Perak
"Kami terus berkoordinasi dengan para pemandu dari PPGST, dan hingga saat ini kondisi pengunjung masih aman serta terkendali," katanya.
"Besok pagi, pukul 08.00 WIB, para pengunjung diusahakan mulai melakukan perjalanan kembali dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani," tambah dia.
(frd/wis)
Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan keganasannya. Pada Rabu (19/11/2025), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meletus dan memuntahkan awan panas hingga sejauh 5,5 kilometer. Ribuan warga segera dievakuasi ke zona aman untuk menghindari risiko yang lebih besar.
Keputusan ini merupakan sesuatu yang tepat sebab dalam sejarahnya, sejak letusan awal tercatat pada 1818, Semeru sudah berkali-kali memicu bencana besar. Salah satu yang paling mematikan adalah letusan dahsyat pada 29-30 Agustus 1909. Letusan ini sebenarnya sudah mulai terlihat tanda-tandanya sejak Juni 1909 dengan keberadaan asap pekat dan gempa vulkanis.
Namun, warga sekitar belum mengira gejala tersebut adalah permulaan dari bencana yang akan merenggut ratusan nyawa pada tiga bulan kemudian. Koran De Locomotief (6 September 1909) melaporkan letusan sebenarnya terjadi hanya sekali, tetapi daya rusaknya luar biasa besar. Dari kawah, semburan abu, lahar, dan material vulkanik langsung menghantam lereng serta lembah-lembah di bawahnya.
Aliran lahar tercampur air, kerikil, pasir, dan abu kemudian mengalir dengan kecepatan tinggi mengikuti alur sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru. Yang membuat situasi semakin tragis adalah sifat aliran lahar yang muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan hasil investigasi pemerintah yang dipublikasikan dalam Winschoter Courant (1 Oktober 1909), disebutkan tidak satu pun penduduk menyadari tanda-tanda lahar akan datang.
"Secara mendadak, air dan pasir yang deras mengalir menghancurkan semua yang dia lewati," tulis laporan tersebut.
Bahkan, kekuatan aliran yang begitu besar membuat De Locomotief (6 September 1909) menggambarkannya "seperti tsunami". Kerusakan yang ditimbulkan pun sangat luas.
"Dari kawah, semuanya hancur dan hanya menyisakan hamparan lumpur yang tak berujung. Perkebunan tebu dan tembakau hancur total. Ribuan pabrik dan rumah hancur. Mayat-mayat tergeletak di jalanan," ungkap koran berbahasa Belanda itu.
Otoritas terkait menduga aliran dahsyat itu terjadi karena dinding kawah Semeru tak kuat menahan tekanan volume lahar yang terlalu besar, sehingga limpasan terjadi secara eksplosif. Selain lahar, semburan abu vulkanik yang menyelimuti wilayah sekitar juga menimbulkan kerusakan hebat.
Dalam laporan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (9 September 1909), ribuan hektare sawah terkubur material vulkanik, hewan ternak mati, dan jaringan air yang memperkuat kehidupan pertanian setempat lumpuh total. Bahkan, tercatat 1.000 hektare sawah tertimbun pasir, sementara sekitar 8.000 hektare sawah lainnya kehilangan pasokan air. Jalan-jalan utama pun hancur, dan persediaan pangan rusak sehingga tak dapat dikonsumsi.
Jumlah korban pun tidak sedikit. Hingga Oktober 1909, surat kabar Dagblad van Noord-Brabant (29 September 1909) melaporkan bahwa lebih dari 709 orang dinyatakan tewas atau hilang. Ribuan warga lain mengalami luka-luka berat dan terancam kehilangan nyawa. Kerusakan ekonomi yang menimpa petani, peternak, dan penduduk setempat digambarkan mencapai ribuan dollar AS.
Situasi pasca-bencana praktis membuat warga ketakutan. Tidak ada seorang pun yang berani kembali ke rumah karena aktivitas gunung masih terasa. Terlebih, masih muncul asap dan gempa vulkanik yang menandakan Semeru belum benar-benar tenang.
Tragedi ini kemudian mendorong mobilisasi bantuan dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Dari Batavia, misalnya, masyarakat berhasil mengumpulkan dana sekitar 2.000 gulden. Lalu, seorang pengusaha keturunan Tionghoa, Liem Liang Bu, bahkan mengirimkan dua gerobak beras langsung dari Jakarta ke Lumajang. Begitu juga dari daerah lain yang mengadakan lelang dan pengumpulan dana.
Meski begitu, pengumpulan dana tak membuat waktu pemulihan cepat. Pemerintah dan masyarakat membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk memperbaiki kerusakan dan mengembalikan kehidupan warga seperti sediakala. Dari kisah letusan Gunung Semeru tahun 1909, jelas bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci agar bencana besar tak lagi berubah menjadi tragedi massal.
(mfa/wur)

0 Komentar