BATUSANGKAR, kiprahkita.com –Pada pagi yang cerah di Lapangan Cindua Mato, Batusangkar, Car Free Day yang diyakini sebagai ruang publik bersama bukan sekadar momen olahraga atau ruang hening bebas kendaraan. Dalam artikel Gowesterkini, pagi itu berubah menjadi momentum kultural ketika ribuan warga menyerbu acara reuni 40 Tahun Alumni SMPN 2 Batusangkar Angkatan 1985 — dengan sorotan utama: keceriaan Ibu Rina dan Buk Wit yang menjadi pemenang hadiah utama.
Dari perspektif permukaan, hadiah utama tiket pesawat dan air fryer, mesin cuci, hingga kompor gas dan dispenser, tampak sebagai magnet semata: alat konsumer yang memicu senyum individual dan riuh tepuk tangan. Namun lebih jauh, ini menunjukkan bagaimana politik hadiah dalam acara publik bisa menjadi teknik pengikat sosial — alat untuk menarik massa, menciptakan kenangan kolektif, dan menandai momen reuni dengan kegembiraan yang dirasakan langsung oleh warga. Semacam “bukan hanya reuni alumni, tetapi pesta bersama masyarakat.”
Lewat kemenangan Ibu Rina, kita juga menyaksikan konfigurasi yang lebih luas: ruang sosial yang melampaui batas usia dan status. Ketika seorang warga biasa menjadi simbol hari itu — bukan tokoh resmi atau figur publik — itu merepresentasikan kerinduan masyarakat akan momen yang menerima semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki kedudukan. Buk Wit, pensiunan Kominfo, pun ikut merasakan kegembiraan yang sama; sebuah ironi halus bahwa penghargaan atas sumbangsih hidup atau kerja tidak selalu datang dalam bentuk formal, tetapi bisa hadir dalam cara yang mengejutkan, sederhana, dan merakyat.
Yang menarik dari acara ini bukan sekadar hadiah, tetapi pertemuan lintas generasi dan fungsi sosial: alumni berkumpul, warga bergembira, ketua PKK hadir memberi apresiasi, dan suasana kegembiraan merata. Car Free Day berfungsi tidak hanya sebagai ruang publik tanpa kendaraan, tetapi juga sebagai arena pembauran sosial — ruang di mana nostalgia reuni bertemu dengan kebutuhan masyarakat untuk terlibat, menyapa, dan berbagi tawa.
Namun di balik keceriaan itu, muncul pula pertanyaan kritis: dalam tradisi event publik Indonesia yang sering dipadukan dengan pembagian hadiah dan bazar, sejauh mana momentum sosial itu benar-benar memperkuat solidaritas dan kesejahteraan kolektif? Apakah kebahagiaan saat ini hanya bersifat sementara, terkait dengan keberuntungan yang tak terduga, ataukah peristiwa itu membawa resonansi jangka panjang dalam memperkuat hubungan antar warga dan generasi?
Keceriaan Ibu Rina mungkin menjadi simbol yang hangat, tetapi ia juga memaksa kita untuk mengevaluasi bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam ruang publik: apakah kita terhubung karena hadiah, atau karena keinginan untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas yang dinamis dan inklusif.
Dalam konteks lebih luas, kegiatan seperti ini mencerminkan bagaimana perayaan lokal dipertautkan dengan ingatan historis sekolah dan identitas komunitas — sebuah ritual sosial yang mempertemukan nostalgia, hiburan, dan aspirasi kolektif dalam satu pagi yang tak terlupakan. GC*
0 Komentar