PESISIR SELATAN, kiprahkita.com –Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang melanda Nagari Palangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Akibatnya, enam unit rumah warga mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin kencang yang datang secara tiba‑tiba. Kongkrit.com+1
Warga setempat mengungkapkan bahwa suasana cuaca mendadak berubah gelap sebelum angin kencang mulai menerjang permukiman. Tiupan angin tersebut merobohkan atap rumah, merusak dinding, serta menerbangkan material bangunan hingga menimbulkan kepanikan di kalangan warga.
“Kejadian berlangsung sangat cepat. Hujan deras disertai angin kuat datang tiba‑tiba dan langsung merusak rumah kami,” ujar salah seorang warga.
Hingga saat ini, aparat terkait dilaporkan masih melakukan pendataan serta penanganan awal terhadap kerusakan yang terjadi di lokasi. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa dalam peristiwa ini.
Peristiwa ini kembali mengingatkan potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di wilayah Sumatera Barat, sehingga pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca tiba‑tiba, terutama pada musim hujan seperti saat ini.
Nagari Palangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, dilanda hujan deras disertai angin kencang. Akibatnya, enam rumah warga rusak berat, atap terbang, dan dinding retak diterpa amukan angin yang datang secara tiba‑tiba. Kejadian ini bukan sekadar catatan bencana lokal — ia menyodorkan cermin tajam terhadap perubahan pola alam dan kesiapsiagaan masyarakat kita.
Cuaca ekstrem seperti ini bukan fenomena tunggal. Di berbagai daerah di Indonesia, fenomena hujan lebat disertai angin kencang semakin sering terlapor: dari Situbondo hingga Mesuji, dari Bogor sampai Lampung, rumah‑rumah warga roboh, atap terbang, hingga pohon tumbang menyulitkan kehidupan sehari‑hari.
Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah: apakah ini benar‑benar sekadar “bencana alam tak terduga”, atau sebuah konsekuensi nyata dari ketidakpedulian manusia terhadap alamnya sendiri?
1. Ketergantungan pada Cuaca yang Semakin Tak Menentu
Fenomena iklim di Indonesia kini bergerak di luar kebiasaan. Musim hujan tidak lagi teratur; longsor, banjir, dan puting beliung dapat terjadi secara sporadis tanpa tanda awal yang jelas. Penyebabnya kompleks — melibatkan perubahan iklim global, variabilitas atmosfer, serta pemanasan suhu laut yang meningkatkan energi badai tropis. Ketidakseimbangan ini membuat kejadian ekstrem bukan lagi “anomali”, tapi sebuah new normal yang harus dihadapi setiap desa dan kota.
2. Kerapuhan Infrastruktur Rakyat Kecil
Kerusakan enam rumah di Palangai Gadang mencerminkan satu hal: ketergantungan terhadap bangunan yang rapuh. Banyak rumah di kawasan pedesaan dibangun dengan material ringan karena faktor ekonomi. Saat angin kencang menerpa, struktur ini dengan cepat tak berdaya. Ini bukan hanya soal cuaca, tetapi soal kesenjangan sosial — di mana warga berpenghasilan rendah adalah pihak yang paling rentan menanggung dampak langsung perubahan alam.
3. Respons Pemerintah dan Kesiapsiagaan
Laporan menunjukkan BPBD beserta aparat kecamatan terlibat dalam asesmen dan pendataan. Namun kenyataannya, respons penanganan sering kali masih tertinggal dari kecepatan bencana itu sendiri. Dalam beberapa kasus serupa, pihak berwenang bahkan belum turun saat kejadian berlangsung. Harianhaluan.id Ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masih lemah. Pendidikan kesiapsiagaan bencana, peringatan dini yang efektif, serta dukungan infrastuktur tahan bencana harus lebih diutamakan.
4. Penguatan Komunitas adalah Kunci
Kekuatan sesungguhnya dalam menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya datang dari otoritas formal, tetapi dari komunitas itu sendiri. Warga yang saling membantu, gotong‑royong membersihkan puing pasca bencana, saling mendukung dalam memperbaiki rumah yang rusak — semua ini sejatinya mencerminkan semangat kolektif yang harus diperkuat. Namun, semangat itu perlu diperkuat dengan akses informasi, pelatihan kesiapsiagaan, dan dukungan sumber daya yang memadai agar tak sekadar reaktif, tapi juga proaktif. pesisirselatankab.go.id
0 Komentar