Integritas dalam Era Informasi Cepat: Melampaui Klise Kecantikan

JAKARTA, kiprahkita.com “Kalimat yang sering diucapkan orang dengan integritas tinggi” sebenarnya merupakan angkat-bendera halus terhadap krisis nilai di era digital. Ketika media sosial menyerukan aspirasi — tubuh sempurna, kulit bersinar, hidup tanpa cela — artikel seperti ini mengajak pembaca untuk berpikir ulang: estetika luar biasa tidak akan bertahan lama tanpa integritas batin yang kuat.

Menjadi cantik bukan hanya soal tampilan, tetapi bagaimana seseorang berbicara, bertanggung jawab, dan berhubungan dengan orang lain — kualitas yang tak mungkin diukur oleh filter Instagram. 



Lebih dari sekadar memberi daftar frasa positif,  meyakinkan bahwa kata-kata yang kita pilih sehari-hari mencerminkan nilai moral yang lebih dalam. “Aku tahu aku tidak sempurna, tapi aku mau belajar”, “Bagaimana menurutmu?”, dan “Aku minta maaf, aku membuat kesalahan” bukan sekadar slogan motivasi — itu adalah aksi moral yang menuntut keberanian untuk bersikap jujur, peka, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

Di tengah arus konten yang cepat dan kompetitif, pesan ini mengejutkan sekaligus menyegarkan: integritas bukan tren melainkan landasan manusiawi. 

Ironisnya, media yang lahir di era estetika digital ini justru mengingatkan pembacanya tentang integritas sebagai konten yang sesungguhnya bermakna. Dalam ekosistem konten yang sering memetakan likes dengan kualitas, tidak hanya membahas bagaimana menjadi menarik secara visual, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang dihormati dan dapat dipercaya. Ini bukan hanya pergeseran narasi — ini adalah kritik implisit terhadap kultur konsumtif yang memuja tampilan tanpa substansi.

Dengan demikian, ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap selfie yang sempurna dan konten gaya hidup yang memikat, ada diri kita yang lebih kompleks: yang memilih siapa kita, apa yang kita katakan, dan bagaimana kita berlaku terhadap dunia di luar layar. Dalam dunia yang semakin cepat dan dangkal, integritas mungkin bukan tren viral berikutnya — tetapi ia adalah sesuatu yang jauh lebih penting untuk dibicarakan dan dipraktikkan. BS*

Posting Komentar

0 Komentar