Tauhid sebagai Fondasi Gerakan Muhammadiyah

JAKARTA, kiprahkita.com Dr. H. Saad Ibrahim, M.A. atau biasa disapa Saad menjelaskan bahwa syirik merupakan lawan dari tauhid dan menjadi dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT, kecuali dilakukan sebelum seseorang memeluk Islam. Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 48 dan 116 yang menegaskan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik. Selain itu, ia juga mengutip Surah Al-Anbiya ayat 29 tentang balasan bagi siapa pun yang mengaku sebagai tuhan selain Allah.

“Barang siapa di antara mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. Demikianlah Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang yang zalim,” jelasnya.

Ia mengajak seluruh warga Persyarikatan untuk meninggalkan segala bentuk syirik dan mengokohkan tauhid sebagai basis ajaran keislaman dan kemuhammadiyahan. Ruh kemajuan Muhammadiyah dalam seluruh amal usahanya berlandaskan tauhid. Muhammadiyah sangat bergantung pada pemahamannya terhadap Islam, dan bagi Muhammadiyah, Islam adalah agama yang berkemajuan.

Ia juga meyakini bahwa konsep kemajuan dalam Muhammadiyah bukanlah kemajuan yang lepas dari nilai dan landasan agama, melainkan kemajuan yang berakar kuat pada ajaran tauhid yang membentuk Akidah Islam Berkemajuan.

Berlandaskan tauhid yang kokoh serta menjauhi segala bentuk syirik, arah gerakan, pemikiran, dan pengembangan amal usaha Muhammadiyah diyakini akan mampu menjawab tantangan zaman ke depan.

Saad menjelaskan bahwa syirik merupakan lawan dari tauhid dan menjadi dosa terbesar dalam Islam. Tauhid berarti mengesakan Allah SWT dalam rububiyah (meyakini Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Pengatur), uluhiyah (hanya Allah yang berhak disembah), serta asma dan sifat-Nya. Sebaliknya, syirik adalah menyekutukan Allah dalam salah satu aspek tersebut.

Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 48 dan 116 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya meninggal dunia tanpa bertaubat, meskipun dosa selain syirik masih mungkin diampuni atas kehendak-Nya. Selain itu, dalam Surah Al-Anbiya ayat 29 dijelaskan ancaman bagi siapa pun yang mengklaim memiliki sifat ketuhanan selain Allah, yakni balasan berupa Jahannam. Hal ini menunjukkan bahwa syirik merupakan bentuk kezaliman terbesar karena merusak fondasi keimanan dan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah.

Lebih lanjut, Saad mengaitkan tauhid bukan hanya sebagai konsep teologis, tetapi juga sebagai ruh gerakan Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah, Islam adalah agama yang berkemajuan, namun kemajuan tersebut tidak boleh terlepas dari landasan akidah. Seluruh arah gerakan, pemikiran, dan amal usaha Muhammadiyah—baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial—harus berpijak pada tauhid yang kokoh.

Konsep Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah menekankan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dan tantangan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai keimanan. Dengan menjauhi segala bentuk syirik, termasuk dalam bentuk modern seperti pengultusan individu, materialisme, atau ketergantungan mutlak pada selain Allah, Muhammadiyah diyakini mampu menjaga kemurnian akidah sekaligus menghadirkan kemajuan yang berorientasi pada nilai-nilai Islam.*

Posting Komentar

0 Komentar