PASAMAN BARAT, kiprahkita.com –Dalam rangka menginisiasi Program Baliek Ka Surau Kapolres Tanah Datar AKBP. Dr. Nur Ichsan Dwi Septiyanto , S.H., S.I.K., M.I.K., Pimpin I'tikaf selama 3 hari di Masjid Raya Saruaso Kecamatan Tanjung Emas.
![]() |
Kegiatan ini di mulai Jum'at, 27 February sampai Minggu tanggal 1 Maret 2026. Ikut mendampingi Kapolres dalam kegiatan tersebut para pejabat Utama Polres Tanah Datar antara lain, Kasi Humas Polres Tanah Datar AKP Jondriadi, Kasat Lantas Andri Perkasa, Iptu Nasrial, Ipda Donil Erizal dan 25 Personil dari Polres Tanah Datar. Dan juga dihadiri oleh Walinagari Saruaso Agusrimayanto, Ama., Pd., S.H., Ketua BPRN Saruaso Rismen Malintang Sutan, Ketua KAN Saruaso H. A. Dt. Penghulu Rajo, S. Pd., Dan tokoh - tokoh masyarakat baiek dari Nagari Saruaso maupun dari Luar Nagari Saruaso serta Jemaah dan Pemuda - pemudi Saruaso.
Kapolres Tanah Datar Melalui Kasi Humas Polres Tanah Datar AKP Jondriadi menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya Polri untuk lebih dekat dengan ke arifan lokal. Program baliek ka Surau ini adalah langkah bapak Kapolres untuk membina karakter anggota melalui jalur agama dan budaya. Disini personil tidak hanya fokus beribadah, tapi juga merawat warisan adat seperti basilek dan petatah - petitih, " ujar AKP Jondriadi.
Pelaksanaan I'tikaf selama 3 hari ini juga di dukung oleh Pemerintahan Nagari Saruaso, BPRN, KAN, Tokoh Masyarakat dan Generasi muda.
Ketua KAN Nagari Saruaso H. A. Dt. Penghulu Rajo, S.Pd., sangat mengapresiasi kegiatan yang dimotori oleh Bapak Kapolres Tanah Datar. Ini sangat bermamfaat bagi masyarakat dan terkhusus untuk generasi Muda ucap Ketua KAN. Baliek ka Surau adalah salah satu cara mengantisipasi generasi muda untuk tidak melakukan perbuatan yang negatif, sekaligus membentengi Diri dengan Iman dan Taqwa serta belajar mendisiplinkan diri dalam melaksanakan Ibadah. Agar tidak terjerumus kepada hal - hal yang merusak jiwa generasi muda. Seperti membentengi diri jauh dari Narkoba, Maksiat dan kenakalan - kenakalan lainya. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Kapolres yang telah melaksanakan pembimbingan Rohani dan penguatan Budaya di Masjid Raya Saruaso ini membaur dengan seluruh lapisan masyarakat, yaitu melalui I'tikaf di Masjid Raya Saruaso dengan Tema "Baliek Ka Surau". Walaupun hanya dalam waktu 3 hari tapi sangat bermakna bagi kami khususnya di Nagari Saruaso. Apalagi di Masjid juga di adakan Latihan Silek dan Petatah - Petitih Minang Kabau, Ujar Ketua KAN Saruaso.
Acara I'tikaf selama 3 hari ini di Masjid Raya Saruaso di tutup dengan Kultum Bagda Ashar oleh Bapak Kapolres AKBP. Dr. Nur Ichsan Dwi Septiyanto., S.H., S.I.K., M.I.K., Sekaligus Bapak Kapolres mengucapkan Terima kasih kepada Pengurus Masjid Raya Saruaso, Walinagari, Ketua BPRN, Ketua KAN, Tokoh - tokoh masyarakat dan generasi Muda yang telah menerima kami dengan Baik dan mendukung kegiatan kami dengan Tema Baliek ka Surau yang dilaksanakan selama 3 hari ini. Semoga kehadiran kami disini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri dan membentuk personil polres Tanah Datar yang lebih humanis, Religius dan memahami adat istiadat setempat.
Terima kasih sekali lagi, Alhamdulillah acara berjalan aman, lancar mulai dari awal sampai penutupan hari ini Ujar Bapak Kapolres.
Ditambahkan juga melalui latihan kegiatan I'tikaf selama 3 hari ini dan juga di adakan Basilek dan pendalaman petatah petitih, diharapkan terjalin komunikasi yang lebih erat antara aparat penegak hukum dengan para tokoh adat dan generasi muda di Tanah Datar.
[3/3 15.13] +62 812-7680-9736: Baliek Ka Surau: Spiritualitas atau Strategi Citra?
Program Baliek Ka Surau yang diinisiasi oleh Kapolres Tanah Datar dan dilaksanakan di Masjid Raya Saruaso bukan sekadar kegiatan i’tikaf tiga hari. Ia adalah simbol. Simbol kembalinya aparat negara ke ruang sakral masyarakat Minangkabau: surau.
Di Minangkabau, surau bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah pusat pendidikan, pembentukan karakter, latihan silek, hingga ruang lahirnya pemimpin adat. Maka ketika Kapolres Tanah Datar, Nur Ichsan Dwi Septiyanto, membawa 25 personel untuk beri’tikaf, berlatih basilek, dan mendalami petatah-petitih, publik tentu membaca lebih dari sekadar ibadah. Ada pesan simbolik: Polri ingin “kembali” ke akar budaya.
Pertanyaannya, apakah ini murni gerakan pembinaan moral atau bagian dari strategi membangun citra humanis?
Kita tidak bisa menutup mata bahwa kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum sering mengalami pasang surut. Dalam konteks itu, pendekatan kultural dan religius bisa menjadi jembatan yang efektif. Berbaur dengan tokoh adat, generasi muda, dan pemerintah nagari adalah langkah cerdas untuk meredam jarak psikologis antara polisi dan masyarakat.
Namun, tantangan sebenarnya bukan pada tiga hari i’tikaf. Tantangannya adalah konsistensi setelahnya.
Apakah nilai “baliek ka surau” akan hidup dalam tindakan aparat di lapangan?
Apakah semangat religius dan adat itu akan tercermin dalam penegakan hukum yang adil, humanis, dan bebas dari penyimpangan?
Karena masyarakat Minang tidak hanya menilai dari simbol, tetapi dari laku. Dalam falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, integritas bukan slogan—ia adalah standar.
Di sisi lain, kita juga perlu melihat ini sebagai momentum positif. Generasi muda Nagari Saruaso diajak kembali ke surau, menjauhi narkoba, maksiat, dan kenakalan remaja. Jika benar dilanjutkan secara berkelanjutan, program ini bisa menjadi model pendekatan keamanan berbasis budaya lokal—sebuah konsep yang lebih membumi daripada sekadar patroli dan penindakan.
Yang perlu dijaga adalah agar surau tidak menjadi panggung seremonial semata. Jangan sampai nilai sakralnya tereduksi menjadi ruang pencitraan musiman.
Baliek ka surau seharusnya bukan hanya gerakan fisik—datang, menginap, lalu pulang. Ia adalah gerakan moral: kembali ke kesederhanaan, kejujuran, disiplin, dan rasa malu jika menyimpang.
Jika itu yang terjadi, maka program ini bukan sekadar berita kegiatan. Ia bisa menjadi titik balik hubungan polisi dan masyarakat di Tanah Datar.
Tapi jika tidak, maka ia hanya akan dikenang sebagai i’tikaf tiga hari—yang selesai ketika lampu masjid dipadamkan.
Bestie, kadang yang menentukan bukan seberapa lama kita di surau.
Tapi apakah setelah keluar, kita masih membawa surau dalam diri kita.

0 Komentar