Oleh Kasman Katik Sulaiman
Warga Muhammadiyah dan tinggal di Sungai Penuh..
SUNGAI PENUH, kiprahkita.com –Di zaman sekarang, ukuran kebaikan sering kali bergeser. Banyak orang menilai benar dan salah berdasarkan perasaan, selera pribadi, viral , opini mayoritas, atau sekadar sesuatu yang dianggap _“baik menurut hati”_ . Kalimat seperti “yang penting niatnya baik” sering dijadikan pembenaran, walaupun cara yang ditempuh bertentangan dengan ajaran agama.
![]() |
| Kasman Katik Sulaiman |
Padahal dalam Islam, kebaikan tidak cukup hanya dinilai dari niat dan perasaan. Kebaikan dalam dimensi ibadah harus dibingkai oleh syariat dengan landasan Al-Qur’an dan hadits yang sahih. Sebab manusia memiliki perasaan yang berubah-ubah, sedangkan wahyu adalah petunjuk yang tetap dan terjaga.
Islam adalah agama yang memadukan antara hati, akal, dan wahyu. Hati menggerakkan kasih sayang dan keikhlasan, akal membantu memahami hikmah, sedangkan wahyu menjadi penuntun agar manusia tidak tersesat dalam menentukan mana yang benar dan mana yang keliru. Karena itu, tidak semua yang dianggap baik oleh manusia otomatis bernilai ibadah di sisi Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya
QS. Al-Kahfi: 110"
Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh adalah amal yang ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Dua syarat ini tidak boleh dipisahkan. Ikhlas tanpa tuntunan bisa melahirkan penyimpangan, sedangkan mengikuti tuntunan tanpa keikhlasan akan menjadikan amal kehilangan ruhnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberikan pelajaran besar bahwa semangat berbuat baik tidak boleh melampaui batas-batas syariat. Betapa banyak manusia yang merasa sedang membela agama, namun dilakukan dengan cara-cara yang justru merusak nilai agama itu sendiri. Ada yang berdakwah dengan cacian dan kebencian, ada yang mengatasnamakan ibadah tetapi melanggar hak orang lain, bahkan ada pula yang merasa paling benar hingga mudah memvonis sesama.
Di sinilah pentingnya ilmu. Semangat tanpa ilmu dapat menjerumuskan, sedangkan ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan. Islam tidak dibangun hanya di atas gelora emosi, tetapi di atas petunjuk wahyu yang membawa rahmat dan keseimbangan.
Kita juga menyaksikan bagaimana di era media sosial banyak penilaian agama dibentuk oleh perasaan sesaat. Sesuatu dianggap benar karena viral, dianggap mulia karena ramai didukung, atau dianggap salah karena dibenci banyak orang. Padahal ukuran kebenaran dalam Islam bukanlah popularitas, melainkan dalil yang sahih.
Imam Malik pernah berkata:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.”
Artinya, jalan keselamatan umat tetap kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman yang benar. Umat tidak boleh menjadikan hawa nafsu dan perasaan sebagai hakim tertinggi dalam agama.
Namun demikian, Islam juga bukan agama yang kering dari rasa kemanusiaan. Islam sangat menghargai kasih sayang, kelembutan, dan empati. Bahkan Rasulullah Saw. dikenal sebagai pribadi yang paling lembut akhlaknya. Akan tetapi, semua itu tetap berada dalam bingkai syariat. Kasih sayang tanpa petunjuk dapat berubah menjadi pembiaran terhadap kesalahan, sedangkan semangat agama tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi kekerasan.
Karena itu, seorang Muslim harus belajar menempatkan wahyu di atas hawa nafsu dan emosi pribadi. Ketika Al-Qur’an dan sunnah telah memberikan tuntunan, maka tugas seorang mukmin adalah tunduk dan mengikuti dengan penuh keimanan.
Pada akhirnya, ibadah bukan sekadar apa yang dianggap baik oleh manusia, tetapi apa yang diridhai Allah. Dan ridha Allah tidak dicapai hanya dengan perasaan, melainkan dengan keikhlasan, ilmu, serta kesesuaian terhadap tuntunan Rasulullah Saw.
Maka benar adanya bahwa:
“Kebaikan dalam dimensi ibadah harus dibingkai syariat dengan landasan Al-Qur’an dan hadits yang sahih, bukan semata-mata berdasarkan perasaan manusia.”
Sebab hati manusia bisa berubah, tetapi wahyu Allah akan selalu menjadi cahaya yang menuntun kehidupan.*
Baca Juga
http://www.kiprahkita.com/2026/05/pspp-awali-perjuangan-liga-4-nasional.html

0 Komentar