Milad ke-109 Aisyiyah: “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Melalui Penegakan Hukum Berkeadilan bagi Kelompok Rentan

SUMATERA BARAT, kiprahkita.com Aisyiyah kini memasuki usia ke-109 tahun. Usia yang sangat matang bagi sebuah organisasi perempuan Islam untuk terus menata gerakan, memperkuat peran, serta menghadirkan kebermanfaatan bagi umat manusia dan bangsa. Bunda Rahima mengutip, "Orang yang beruntung adalah orang yang bermanfaat kepada orang lain."


Dalam perjalanannya,  Aisyiyah terus bertumbuh dan berbenah. Berbagai program dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan jati diri sebagai organisasi kader perempuan Muhammadiyah.


Pada Milad ke-109 ini, Aisyiyah mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Melalui Penegakan Hukum Berkeadilan dan Perlindungan Hukum bagi Kelompok Rentan untuk Mewujudkan Perdamaian”, kegiatan penguatan dakwah kemanusiaan digelar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Kampus Pasir Kandang pada 14 Mei 2026 lalu.


Seminar Penegakan Hukum Berkeadilan dan Perlindungan Hukum

Kegiatan tersebut diikuti seluruh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-Sumatera Barat yang masing-masing mengutus lima peserta baik diambil dari utusan cabang maupun ranting  sebagai delegasi dalam forum penguatan peran perempuan dalam penegakan hukum berkeadilan, serta kepedulian terhadap kelompok rentan.


Pimpinan Pusat Aisyiyah mengusung tema tersebut menjadi pengingat bahwa perempuan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai, arah, dan masa depan peradaban terutama untuk kaum rentan..


Berdirinya Aisyiyah merupakan bukti nyata komitmen pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, terhadap pendidikan perempuan. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk membentuk perempuan yang mampu menjalankan peran bidang hukum secara ikhlas, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.


Pesan Kiai Dahlan kepada kader Muhammadiyah tetap relevan hingga hari ini. Ia mendorong untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, menjadi profesional di berbagai bidang, namun tetap kembali dan berkhidmat untuk Muhammadiyah.


Kini, Muhammadiyah berkembang semakin pesat. Gerakan internasionalisasi Muhammadiyah telah menjadi kenyataan, dan dakwah Islam Berkemajuan terus diperkenalkan di panggung global. Karena itu, kader-kader Aisyiyah dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat keterampilan, serta mengambil bagian dalam memajukan organisasi.


Memajukan Aisyiyah sejatinya juga berarti memajukan Muhammadiyah. Semangat Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah menempatkan agama sebagai fondasi untuk membangun peradaban yang maju, berkeadaban, dan membawa kemaslahatan bagi semesta.


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam tulisannya di Suara Muhammadiyah edisi awal tahun 2024 menyampaikan bahwa umat manusia kini hidup di era baru yang ditopang kemajuan teknologi canggih. Di tengah perkembangan tersebut, Muhammadiyah menawarkan paradigma pembangunan yang menyelamatkan, membawa kemanfaatan, dan menghadirkan kemaslahatan demi terwujudnya peradaban, perdamian, berkeadilan semesta yang rahmatan lil ‘alamin.


Pandangan tersebut sejalan dengan wasiat Kiai Dahlan tentang pentingnya akal budi, ilmu pengetahuan, dan rasa kemanusiaan. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus diiringi keberanian berpikir terbuka dan semangat saintifik, sehingga melahirkan manusia yang memiliki empati, simpati, serta kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar agama, budaya, maupun bangsa.


Tokoh ‘Aisyiyah, Siti Baroroh Baried, juga pernah menegaskan pentingnya perempuan muslim memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Perempuan, menurutnya, harus mampu menjawab tantangan zaman seiring meningkatnya kesadaran tentang hak, kewajiban, dan peran strategisnya dalam keluarga maupun masyarakat.


Meski demikian, perjuangan menghadirkan keadilan, kesetaraan akses, dan ruang yang bebas dari kekerasan bagi perempuan masih membutuhkan energi besar. Perjuangan itulah yang terus dihidupkan Aisyiyah dari masa ke masa.


Kader Aisyiyah berikhtiar membentuk kader Islam yang berguna bagi keluarga, bangsa, dan agama. Semangat tersebut kini terus bergema di kalangan perempuan Kader Aisyiyah Indonesia yang mengimplementasikan nilai Al-Ma’un dalam kehidupan sosial, yakni membela kelompok tertindas, terpinggirkan, dan dilemahkan, baik secara personal, kultural, maupun struktural.


Seminar dalam rangka Milad Aisyiyah ke 109 tersebut menghadirkan bersama Bapak H. Jelita Donal. Lc, Ibu Dra Burnalis, M. A, dan Bapak Prof. Dr. Ikhwan Matondang, M. Ag.


Tema Seminarr "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan melalui Penegakan Hukum Berkeadilan dan Perlindungan Hukum bagi Kelompok Rentan untuk Mewujudkan Perdamaian"


Pertama, “peradaban”, yang menunjukkan perkembangan kehidupan manusia sekaligus berkaitan dengan nilai adab, akhlak, dan budi pekerti. Kedua, “menjaga arah”, yang menunjukkan adanya tanggung jawab dan aktivitas untuk memastikan peradaban tetap berjalan pada nilai-nilai kebaikan. Ketiga, “Kader Aisyah”, yang menunjukkan sosok perempuan sebagai aktor utama dalam menjaga arah tersebut.


Di era digital saat ini, peradaban manusia dibentuk oleh perkembangan teknologi dan perubahan ekologis yang bergerak sangat cepat. Perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus berbagai anomali sosial yang perlu direspons dengan bijaksana.


Dalam konteks itu, Siti ‘Aisyah pernah menegaskan bahwa keluarga yang adil, maju, dan bersifat tengahan merupakan fondasi terwujudnya masyarakat utama atau ummatan wasathan, yakni masyarakat yang maju, adil, makmur, dan bermartabat.


Karena itu, perempuan muda Muhammadiyah melalui Aisyiyah diharapkan terus menjadi penjaga arah peradaban: menghadirkan ilmu, keteladanan, kepedulian sosial, serta semangat kemajuan dalam setiap lini kehidupan.


Karena itu cara yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni anggota DPD RI Jelita Donal, Kepala Pengadilan Tinggi Agama Burnalis, serta Prof. Ikhwan Matondang sesuai kapasitas mereka menyampaikan kaum rentan.


Dalam pemaparannya, Jelita Donal menekankan pentingnya perempuan mengambil bagian dalam gerakan sosial, penegakan hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap kelompok rentan di tengah berbagai tantangan masyarakat saat ini.


“Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian mulai dari lingkungan keluarga hingga kehidupan sosial yang lebih luas. Dakwah kemanusiaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berpihak kepada kelompok rentan dan masyarakat yang membutuhkan keadilan,” ujarnya.


Sementara itu, Burnalis menjelaskan pentingnya penegakan hukum yang berkeadilan bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak, melalui pendekatan hukum yang humanis serta penguatan nilai-nilai keagamaan.


Menurutnya, kelompok rentan merupakan masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengakses perlindungan sosial, ekonomi, maupun hukum sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan bersama kader Aisyiyah.


“Kelompok rentan meliputi perempuan korban kekerasan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, masyarakat miskin, hingga korban bencana. Mereka harus mendapatkan perlindungan hukum yang adil dan akses terhadap keadilan tanpa diskriminasi,” katanya.


Bunda Burnalis juga menambahkan bahwa perlindungan hukum dapat diperkuat melalui keberadaan Pos Bantuan Hukum (Posbakum Kader Aisyiyah), layanan konsultasi hukum, edukasi hukum masyarakat, serta pendampingan bagi korban kekerasan dan ketidakadilan.


“Posbakum menjadi salah satu sarana penting agar masyarakat kecil dan kelompok rentan memperoleh akses hukum yang mudah, cepat, dan berkeadilan,” tambahnya.


Prof. Ikhwan Matondang turut menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang ceramah keagamaan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata melalui pendidikan, advokasi sosial, dan penguatan kesadaran hukum di tengah masyarakat.


“Perdamaian akan terwujud apabila ada kepedulian sosial, penegakan hukum yang berkeadilan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan. Organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah memiliki peran besar dalam membangun ketahanan masyarakat,” ungkapnya.


Kegiatan berlangsung dengan diskusi interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Selain memperingati Milad ke-109 ‘Aisyiyah, forum tersebut juga menjadi ruang memperkuat sinergi dakwah sosial, hukum, dan kemanusiaan di lingkungan organisasi perempuan Muhammadiyah.


Ketiga narasumber dalam pemaparannya, Jelita Donal, Burnalis, dan Ikhwan Matondang menekankan pentingnya perempuan mengambil bagian dalam gerakan sosial, penegakan hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap kelompok rentan di tengah berbagai tantangan masyarakat saat ini.


“Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian mulai dari lingkungan keluarga hingga kehidupan sosial yang lebih luas. Dakwah kemanusiaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berpihak kepada kaum rentan,” ujar mereka.


Pentingnya perlindungan hukum terhadap kelompok rentan, terutama perempuan dan anak, melalui pendekatan hukum yang adil serta penguatan nilai-nilai keagamaan. Kaum rentan merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian bersama karena memiliki keterbatasan dalam mengakses perlindungan sosial, ekonomi, maupun hukum.


Pos Bantuan Hukum (Posbakum) dan layanan konsultasi hukum yang mudah diakses masyarakat PR kader Aisyiyah. “Keberadaan Posbakum sangat penting untuk membantu masyarakat kurang mampu memperoleh pendampingan hukum, konsultasi, serta akses keadilan tanpa diskriminasi.” 


“Perdamaian akan terwujud jika ada kepedulian sosial, keadilan hukum, penghormatan HAM, dan pemberdayaan terhadap kaum rentan. Organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah memiliki kekuatan besar dalam membangun ketahanan masyarakat.” (Yusriana)*

Posting Komentar

0 Komentar