Menurut Gita, Masjid Muhammadiyah Perlu Memberikan Ruang bagi Anak Muda

BANTUL, kiprahkita.com Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam pengelolaan masjid Muhammadiyah. Untuk menjaga keberlangsungan kemakmuran masjid di masa depan, keterlibatan generasi muda dinilai harus menjadi perhatian utama para pengelola masjid.

Bendera Muhammadiyah

Menurut Gita, masjid Muhammadiyah perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi anak muda untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun pengelolaan masjid. Langkah ini penting agar masjid tidak hanya didominasi oleh kalangan usia tertentu, tetapi mampu menjadi ruang bersama yang ramah bagi seluruh generasi.


Ia mengapresiasi sejumlah masjid Muhammadiyah yang mulai menerapkan pendekatan pengelolaan dengan perspektif anak muda. Pendekatan tersebut dinilai berhasil menghadirkan suasana yang lebih inklusif sehingga jamaah yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia.


“Masjid yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan potensi anak muda akan lebih mudah menghadirkan jamaah yang beragam, tidak hanya dari kalangan yang sudah lanjut usia,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, Gita juga menyoroti berbagai program kemakmuran masjid, termasuk gerakan Jumat Berkah yang banyak dilaksanakan di sejumlah masjid. Menurutnya, program semacam itu dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pada waktu Salat Subuh guna mendorong peningkatan partisipasi jamaah.


Ia menilai jumlah jamaah Salat Jumat pada umumnya sudah cukup banyak tanpa perlu adanya daya tarik tambahan. Sebaliknya, kegiatan yang dilakukan saat Subuh dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterlibatan jamaah pada waktu-waktu yang jumlah kehadirannya relatif lebih sedikit.


Lebih lanjut, Gita mengingatkan para takmir masjid agar tidak serta-merta menyalahkan generasi muda apabila keterlibatan mereka dalam memakmurkan masjid masih rendah. Menurutnya, kondisi tersebut justru perlu menjadi bahan evaluasi bagi pengelola masjid.


“Kalau anak mudanya sedikit atau bahkan tidak ada, jangan langsung menyalahkan mereka. Yang perlu dilakukan adalah melihat kembali apakah pengelolaan masjid sudah memberikan ruang yang cukup bagi mereka,” katanya.


Ia menegaskan bahwa anak muda yang memiliki minat dan potensi perlu diberikan kesempatan untuk berkembang. Potensi tersebut dapat berupa kemampuan menjadi muazin, imam, pengisi kegiatan keagamaan, maupun keterlibatan dalam berbagai program sosial dan dakwah masjid.


“Anak-anak muda yang memiliki keberanian dan potensi harus diberikan kesempatan. Jika mereka memiliki kemampuan menjadi imam atau muazin, maka perlu didorong dan difasilitasi agar dapat mengekspresikan potensinya,” jelasnya.


Selain memberikan ruang partisipasi, suasana masjid juga perlu dirancang agar nyaman dan menarik bagi generasi muda. Takmir masjid, menurut Gita, harus berani memberikan kepercayaan kepada anak muda untuk terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan berbagai agenda masjid.


Sebagai contoh, Masjid Al Mushanif yang berada di lingkungan Institute Tabligh Muhammadiyah dirancang menjadi ruang ibadah yang nyaman bagi semua kalangan, khususnya generasi muda. Selain menghadirkan desain yang menarik, kawasan ITM juga menyediakan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan anak muda untuk berinteraksi, belajar, dan mengembangkan kreativitas.


Melalui keterlibatan yang lebih besar dari generasi muda, masjid Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan kepemimpinan umat yang berkelanjutan.


Masjid-masjid Muhammadiyah diharapkan memaksimalkan potensi anak muda itu. Langkah ini perlu diambil untuk menjaga regenerasi dan keberlangsungan kemakmuran masjid.


Di hadapan jemaah, Gita juga memperhatikan semangat gerakan Jumat Berkah. Hematnya, gerakan ini dilaksanakan ketika Salat Subuh. Sebab ketika Salat Jumat, tanpa adanya ‘pancingan’ jumat berkah, jemaahnya sudah banyak yang datang.


Kepada takmir masjid, pesan Gita, jika jemaah anak-anak mudanya sedikit atau bahkan tidak ada yang hadir memakmurkan masjid, tidak boleh kemudian menyalahkan mereka, sebab akan lebih bijak jika mengintrospeksi pengelolaan.


Dalam pengamatannya, kerap kali pengelolaan masjid kurang mengakomodir potensi anak-anak muda. Sebab jika ada kemauan anak muda harus diberi ruang dan diberi pengarahan.


“Anak-anak muda itu yang berani maju diberi kesempatan, kalau kelihatan potensinya baik itu azan, imam kemudian diminta untuk untuk mengekspresikan potensinya itu,” katanya.


Selain itu, suasana tiap agenda yang diselenggarakan oleh masjid Persyarikatan Muhammadiyah juga dibuat nyaman. Bahkan takmir masjid harus berani memberikan kepercayaan anak muda untuk mengelola agenda-agenda masjid.


Oleh karena itu, Masjid Al Mushanif di ITM dibuat senyaman mungkin untuk semua kalangan, lebih-lebih anak muda. Selain masjid yang instagenik, di ITM juga disediakan ruang terbuka bagi anak-anak muda untuk berekspresi.*

Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/06/ketika-sekolah-unggulan-menjadi-etalase.html

Posting Komentar

0 Komentar