Oleh: Derliana
Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Masa-masa penerimaan murid baru saat ini adalah waktu yang membuat kepala madrasah ketar-ketir. Ada yang memang sudah bergembira oleh karena jumlah murid yang diharapkan sudah memenuhi kuota. Namun tidak sedikit juga yang masih cemas karena belum berapa murid yang mendaftar. Apalagi waktu untuk tahun Pelajaran baru semakin dekat.
![]() |
Dr. Derliana, MA |
Tidak banyak lagi yang dapat dilakukan. Melainkan berpasrah pada takdir. Berapa Allah takdirkan tahun ini untuk mendapatkan murid. Tak lebih dari itu, karena memang, masa sekarang bukan lagi masa promosi, melainkan masa menunggu. Berapa hasil yang didapatkan dari usaha yang selama ini diupayakan.
Kepala madrasah lah yang menentukan pengembangan madrasah masing-masing. Kepala madrasah harus melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan madrasahnya agar dilirik masyarakat. Tidak mudah memang, tapi semua akan bermula dari kemampuan dan kemauan kepala madrasah mengelola madrasahnya.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan menurut saya adalah konsep PBAS: Performance, Branding, Achievement, dan Show.
1. Performance: Menampilkan Kualitas Lembaga
Performance merupakan kesan nyata yang diberikan madrasah kepada masyarakat. Ia bukan hanya persoalan penampilan fisik, tetapi juga cara seluruh warga madrasah menghadirkan layanan, akhlak, kedisiplinan, dan profesionalisme.
Diantara performance yang menentukan adalah; Pertama, performance kepala madrasah. Kepala madrasah merupakan figur utama yang sering kali menjadi ukuran awal masyarakat dalam menilai lembaga. Masyarakat ingin mengetahui siapa yang memimpin, seperti apa visi yang dibawa, bagaimana kemampuan komunikasinya, serta apakah ia mampu memberi arah bagi kemajuan madrasah.
Kepala madrasah perlu membangun personal branding yang baik melalui integritas, kapasitas kepemimpinan, prestasi, kemampuan membangun komunikasi, dan kesediaan untuk hadir di tengah masyarakat. Personal branding bukan berarti mencari popularitas, melainkan membangun keyakinan bahwa madrasah dipimpin oleh orang yang memiliki visi, keberanian, dan komitmen terhadap mutu pendidikan.
Kedua, performance guru dan tenaga kependidikan. Guru, tenaga tata usaha, satpam, petugas kebersihan, dan seluruh pegawai adalah wajah madrasah. Kerapian berpakaian, keramahan dalam pelayanan, kedisiplinan waktu, kecepatan merespons kebutuhan orang tua, serta kesantunan dalam berkomunikasi akan membentuk persepsi masyarakat terhadap lembaga.
Sering kali masyarakat tidak menilai madrasah hanya dari baliho atau gedungnya, tetapi dari pengalaman sederhana ketika datang berkunjung. Cara tamu disambut, cara orang tua dilayani, serta cara murid berbicara kepada orang lain akan menjadi promosi yang jauh lebih kuat daripada slogan apa pun.
Ketiga, performance murid. Murid adalah duta terbaik madrasah. Kerapian seragam, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, kebiasaan salam, akhlak terhadap guru dan orang tua, serta prestasi yang mereka raih merupakan representasi nyata dari mutu pendidikan madrasah.
Keempat, performance lingkungan belajar. Madrasah tidak harus selalu memiliki bangunan bertingkat atau fasilitas mewah. Namun, setiap madrasah harus berusaha menjadi tempat yang bersih, nyaman, aman, dan membanggakan. Prinsip BERHIAS dapat menjadi panduan sederhana: Bersih, Hijau, Indah, Aman, dan Sehat. Lingkungan yang sederhana tetapi tertata, hijau, bersih, dan nyaman akan lebih berkesan daripada bangunan besar yang tidak terawat. Madrasah yang baik harus mampu membuat murid merasa bangga berada di dalamnya dan membuat orang tua yakin menitipkan anaknya di sana.
2. Branding: Membangun Identitas dan Citra yang Konsisten
Branding sering dipahami secara sempit sebagai pembuatan logo, seragam, banner, atau media sosial. Padahal, branding jauh lebih luas dari itu. Branding adalah proses membangun identitas, citra, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga secara konsisten. Kevin Lane Keller menjelaskan bahwa kekuatan sebuah merek terbentuk dari pengetahuan dan pengalaman masyarakat terhadap merek tersebut.
Dalam konteks madrasah, masyarakat membentuk penilaian bukan hanya dari nama atau simbol lembaga, tetapi dari pengalaman mereka terhadap layanan, kualitas program, perilaku warga madrasah, serta capaian yang terlihat secara nyata. Karena itu, branding madrasah harus tampak dalam beberapa hal. Pertama, identitas visual yang kuat, seperti nama, logo, warna, seragam, kop surat, baliho, spanduk, website, dan media sosial yang konsisten. Kedua, program unggulan yang jelas dan tidak sekadar menjadi slogan.
Madrasah perlu menentukan keunggulan yang ingin dikuatkan. Ada madrasah yang unggul dalam tahfiz Al-Qur'an dan hadis, ada yang kuat dalam bahasa Arab dan Inggris, ada yang fokus pada STEM dan teknologi, ada yang menonjol dalam kaderisasi Muhammadiyah, kewirausahaan, lingkungan, seni, atau prestasi akademik.
Yang penting, branding harus sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Jangan sampai madrasah membangun citra sebagai madrasah riset, tetapi tidak memiliki pembinaan karya ilmiah. Jangan pula menjadikan tahfiz sebagai branding utama, tetapi pembinaan hafalan Al-Qur'an belum terkelola secara serius.
Branding yang baik harus dibangun melalui bukti. Apabila madrasah ingin dikenal sebagai madrasah tahfiz, harus lahir santri penghafal Al-Qur'an, program tasmi', haflah tahfiz, dan pembinaan tahsin yang berkualitas. Jika ingin dikenal sebagai madrasah bahasa, harus tampak lingkungan berbahasa, program debat, pidato, Arabic-English camp, serta capaian kemampuan bahasa murid.
Branding bukan sekadar apa yang dikatakan madrasah tentang dirinya, tetapi apa yang dirasakan masyarakat setelah berinteraksi dengan madrasah tersebut.
3. Achievement: Menghasilkan Prestasi yang Selaras dengan Keunggulan
Prestasi merupakan bukti bahwa program madrasah benar-benar berjalan. Karena itu, prestasi tidak boleh hanya ditunggu, tetapi harus direncanakan, dipetakan, dan dibina secara sistematis.
Madrasah perlu memulai dengan pemetaan sumber daya manusia. Guru mana yang memiliki kemampuan membina olimpiade, tahfiz, bahasa, seni, olahraga, riset, debat, atau teknologi? Murid mana yang memiliki bakat dan potensi pada bidang tertentu? Setelah itu, madrasah menentukan cabang prestasi prioritas yang paling sesuai dengan branding dan kekuatan internal.
Prestasi tidak harus selalu dimulai dari tingkat nasional atau internasional. Madrasah dapat membangun budaya prestasi secara bertahap dari tingkat internal, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Yang paling penting adalah adanya konsistensi pembinaan, target yang jelas, pelatih yang kompeten, dan penghargaan bagi murid maupun guru pembina.
Prestasi yang kuat akan memperkuat branding, dan branding yang jelas akan memudahkan madrasah menentukan arah pembinaan prestasi. Keduanya harus saling menguatkan.
4. Show: Menampilkan Kebaikan Madrasah kepada Publik
Banyak madrasah memiliki program bagus, guru berdedikasi, dan murid berprestasi, tetapi masyarakat tidak mengetahuinya. Akibatnya, keunggulan madrasah hanya menjadi cerita internal dan tidak berkembang menjadi kepercayaan publik.
Karena itu, setiap kegiatan baik perlu didokumentasikan dan dipublikasikan secara proporsional. Yang ditampilkan bukan hanya acara seremonial, tetapi juga proses dan hasil pendidikan. Misalnya, kegiatan pembelajaran aktif di kelas, pembiasaan ibadah, tahfiz, pembinaan bahasa, karya riset murid, kegiatan organisasi, program sosial, prestasi, penerimaan alumni di perguruan tinggi, serta kolaborasi dengan mitra.
Media sosial, website, media massa, podcast, video pendek, grup orang tua, banner prestasi, dan publikasi digital dapat menjadi sarana untuk menunjukkan wajah baik madrasah. Namun, publikasi harus dikelola dengan prinsip kejujuran dan kebermanfaatan. Jangan hanya menampilkan kegiatan, tetapi tampilkan pula makna, proses, serta dampak dari kegiatan tersebut.*
.jpg)
0 Komentar