Oleh AR Rizal
PADANG, kiprahkita.com –Membaca narasi teror pocong di Kota Padang, saya seperti membaca cerita horor. Idenya bagus, dipersiapkan dengan rapi. Bahkan, sebagai konten, ini menggemparkan. Tentu saja, cepat menjadi viral.
Tapi, narasi ini berbahaya sekali. Narasinya kok mirip seperti teror ninja, dukun santet, atau kolor ijo dan sejenisnya.
Dalam masyarakat Minang, teminologi pocong tak terlalu kuat. Sebab, masyarakat punya hantu-hantu sendiri. Ada hantu rau-rau, hantu sijundai, dan sebagainya. Ketika hantu pocong digunakan untuk menakut-nakuti orang Minang, tentu aneh konteksnya. Tapi, di zaman Medsos sekarang, framing dan propaganda bisa dibuat seenak perut saja. Orang-orang mudah terpengaruh isu dan informasi yang tak jelas kebenarannya.
![]() |
| Teror Pocong |
Menggunakan pakaian pocong untuk merampok terdengar aneh. Sebab, pakaian pocong membuat aksebilitas dan mobilitas pelaku menjadi terbatas. Pelaku kejahatan tentu mempertimbangkan kepraktisan. Masuk dari bagian rumah yang tak terdeteksi, lalu dengan cepat melakukan aksi. Kan aneh, mau merampok kok ketuk pintu rumah orang. Dengan berpakaian pocong pula lagi. Tampak sekilas saja, tentu orang sudah kabur dan teriak. Lha, gimana pula mau merampok.
Bila teror pocong ini benar adanya, jelaslah ini sebuah upaya untuk menciptakan ketakutan secara psikologis. Orang Minang menurut saya sangat bijaksana dalam membaca sesuatu hal. Tak mudah digiring ke dalam isu yang belum tentu kebenarannya.
Benar kata Kepala Satpol PP Kota Padang. Sikapi hal ini dengan bijak. Jangan menelan mentah-mentah, jangan mau terprovokasi main hakim sendiri atau menjadi paranoid. *

0 Komentar