Haedar Nashir: Pemimpin Muhammadiyah Harus Menanggalkan Kepentingan Pribadi

BANDUNG, kiprahkita.com Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, , menegaskan bahwa setiap kader yang mendapat amanah kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah harus menjauhkan diri dari kepentingan pribadi. Menurutnya, amanah kepemimpinan dalam Persyarikatan merupakan bentuk pengabdian yang harus dijalankan dengan keikhlasan dan orientasi pada kepentingan umat.


Haedar menekankan bahwa pemimpin Muhammadiyah harus mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, pemimpin juga dituntut memiliki kepekaan terhadap perkembangan situasi sosial, termasuk berbagai isu yang berkembang di media.


Haedar Nashir: Pemimpin Muhammadiyah Harus Menanggalkan Kepentingan Pribadi


Menurutnya, tidak semua isu harus direspons secara terburu-buru. Namun demikian, tidak semua persoalan pula dapat diabaikan begitu saja. Diperlukan kebijaksanaan dan sikap moderat dalam menentukan langkah organisasi.


Dalam kesempatan tersebut, Haedar mengutip pepatah Melayu yang berbunyi, “Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung. Jadilah penyu di pantai, telur beratus namun tak bangga.”


“Itu sifat tawassuth, sifat tengahan. Dalam hal tertentu kita harus bisa memberi warna,” ujarnya.


Haedar juga menyoroti pentingnya spiritualitas dalam menjalankan amanah di Persyarikatan. Menurutnya, hubungan antarkader dan pimpinan tidak cukup dibangun melalui komunikasi formal semata, tetapi juga melalui ketulusan hati dan kepekaan rasa.


“Serumit apa pun hubungan dengan orang, ketika yang bicara adalah hati, yang bicara adalah rasa, itu nyambung. Apalagi kalau tidak ada urusan, tidak ada persoalan,” tuturnya.


Lebih lanjut, Haedar mengingatkan agar setiap kebaikan yang dilakukan dalam menjalankan amanah tidak dijadikan sarana untuk mencari pujian atau pengakuan. Baginya, setiap amal baik akan tercatat dan pada waktunya diketahui oleh masyarakat secara alami.


“Maka tidak usah kita mengumum-umumkan. Tuhan mencatat, semesta mendaftar, dan akhirnya orang tahu juga. Tapi tahu secara alami,” katanya.


Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa setiap bentuk penyimpangan dan keburukan yang dilakukan saat memegang amanah pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Pandangan tersebut, menurut Haedar, sejalan dengan pesan yang terkandung dalam Surah Al-Isra ayat 7.


Ia juga menegaskan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan moderat. Warga Muhammadiyah, katanya, tidak boleh menggunakan cara-cara yang buruk untuk memperjuangkan sesuatu yang benar.


Di akhir pesannya, Haedar mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk senantiasa menjaga kesucian diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Namun, upaya tersebut tidak boleh melahirkan sikap merasa paling suci atau paling benar dibandingkan orang lain.


“Menjaga kesucian diri itu penting, tetapi jangan sampai merasa diri paling suci. Sikap rendah hati harus tetap menjadi bagian dari karakter warga Muhammadiyah,” tegasnya.*

Posting Komentar

0 Komentar