Tidak Semua Perpindahan adalah Hukuman

Ketika Allah Memindahkan Tempatku

Oleh J. Siregar Pahu

Ceria adalah Tarian (Festival Pagaruyung)


PADANG, kiprahkita.com Hari ini aku memulai tahun ajaran dengan perasaan yang berbeda. Setelah mengajar di kelas IX sekian tahun, kini aku dipercaya mengajar di kelas VIII kembali. Perpindahan itu terjadi tanpa penjelasan. Bukan hanya perubahan tingkat kelas yang membuatku sedih, tetapi juga kenyataan bahwa ruang kelas yang kutempati sekarang terasa sempit, sumpek, dan kurang nyaman. Di saat yang sama, aku bertanya-tanya, mengapa harus aku?


Beberapa bulan terakhir memang tidak mudah. Hubunganku dengan beberapa rekan kerja terasa semakin renggang. Sikap yang sering menghakimi membuatku tidak nyaman. Di sisi lain, suasana kerja juga berubah. Aku pernah bersama beberapa guru dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Dalam pertemuan itu ada penjelasan, tetapi juga teguran dengan nada yang tinggi. Sebagai seorang guru, tentu aku berharap komunikasi dapat berlangsung dengan saling menghormati. Pengalaman itu meninggalkan luka yang masih terasa hingga hari ini.


Di tengah semua itu, aku pernah berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari hal-hal yang membuat pikiranku tidak tenang, terutama persoalan dengan rekan kerja. Ketika akhirnya aku dipindahkan ke kelas VIII, muncul pertanyaan di dalam hati: apakah ini bagian dari jawaban doa yang kupanjatkan? Aku tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui hikmah di balik setiap keputusan dan setiap peristiwa.


Aku belajar bahwa tidak semua hal harus segera kupahami. Ada kalanya manusia hanya diminta untuk menjalani amanah dengan ikhlas, sementara jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya baru akan terlihat di kemudian hari. Mungkin hari ini aku merasa kehilangan kelas IX, tetapi bisa jadi di kelas VIII Allah telah menyiapkan murid-murid yang lebih membutuhkan kehadiranku.


Perubahan memang tidak selalu nyaman. Namun, seorang guru bukan diukur dari kelas mana ia mengajar, melainkan dari ketulusan hati saat mendidik. Ruang kelas boleh berbeda, suasana boleh berubah, tetapi panggilan untuk mendidik tetap sama. Di mana pun ditempatkan, seorang guru tetap memiliki kesempatan untuk menanamkan ilmu, akhlak, dan harapan kepada anak-anak didiknya.


Hari ini aku memilih untuk tidak larut dalam prasangka. Aku ingin menjadikan perpindahan ini sebagai awal yang baru. Jika memang ada hikmah yang belum mampu kulihat, aku percaya suatu hari nanti Allah akan memperlihatkannya. Tugasku hari ini hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga hati, memperbaiki niat, dan terus mengajar dengan penuh keikhlasan.


Sebab aku yakin, Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. Yang terkadang keliru adalah cara kita memandang setiap takdir yang datang.Semoga esai ini bisa menjadi pengingat untukmu saat hatimu sedang berat. *

Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/07/project-exhibition-tampilkan.html

Posting Komentar

0 Komentar