Kepala Sekolah Muhammadiyah: DI TENGAH KETERBATASAN, DITUNTUT MENCIPTAKAN KEHEBATAN


Oleh: Abril


Menjadi kepala sekolah Muhammadiyah hari ini bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan. Ia bukan sekadar duduk di ruang kepala sekolah, menandatangani surat, memimpin rapat, atau memastikan kegiatan pembelajaran berjalan sesuai jadwal. Di balik pintu ruang kepala sekolah, ada begitu banyak persoalan yang harus dipikirkan. Ada guru yang harus diperhatikan kesejahteraannya, ada siswa yang harus dipastikan mendapatkan pendidikan terbaik, ada orang tua yang harus dijaga kepercayaannya, ada fasilitas sekolah yang harus dipenuhi, ada administrasi yang harus diselesaikan, dan ada masa depan sekolah yang setiap hari menjadi tanggung jawab seorang kepala sekolah.


Tengah dua dari kiri, Abril, Kepala SMP Muhammadiyah Kauman


Lebih berat lagi ketika semua itu harus dilakukan dalam kondisi serba terbatas.


Banyak sekolah Muhammadiyah yang tidak berdiri dengan kemewahan. Ada yang jumlah siswanya sedikit, fasilitasnya belum lengkap, sumber pendapatannya terbatas, dan masih harus berjuang mempertahankan keberlangsungan sekolah. Namun di tengah segala keterbatasan itu, kepala sekolah tetap dituntut untuk menghasilkan sekolah yang hebat.


Sekolah harus unggul. Sekolah harus berprestasi. Sekolah harus digital. Sekolah harus memiliki banyak siswa. Sekolah harus mampu bersaing. Sekolah harus memiliki program unggulan. Sekolah harus memiliki sarana yang bagus. Guru harus sejahtera.


Semua tuntutan itu benar.


Tetapi pertanyaannya: apakah kepala sekolah mampu mewujudkan semuanya seorang diri?


Tentu tidak.


Kepala Sekolah Berlari di Atas Kerikil


Ada gambaran sederhana tentang kehidupan seorang kepala sekolah Muhammadiyah: seorang kepala sekolah berlari di atas kerikil tajam sambil membawa beban yang berat di pundaknya.


Beban itu bernama jumlah siswa.


Beban itu bernama UIS dan UIG.


Beban itu bernama dana tahunan.


Beban itu bernama gaji dan kesejahteraan guru.


Beban itu bernama sarana prasarana.


Beban itu bernama prestasi.


Beban itu bernama akreditasi.


Beban itu bernama kepercayaan masyarakat.


Beban itu bernama target Persyarikatan.


Dan di atas semuanya, ada satu beban terbesar: bagaimana sekolah ini tetap hidup dan terus berkembang.


Sementara kerikil yang diinjak adalah persoalan-persoalan yang muncul setiap hari.


Ada siswa yang pindah.


Ada orang tua yang belum membayar kewajiban.


Ada guru yang membutuhkan perhatian.


Ada bangunan yang perlu diperbaiki.


Ada kebutuhan pembelajaran yang harus dipenuhi.


Ada program yang membutuhkan biaya.


Ada persaingan dengan sekolah lain.


Ada tuntutan administrasi yang tidak pernah berhenti.


Dan terkadang, ketika semua itu terjadi, kepala sekolah hanya bisa bertanya dalam hati:


“Harus mulai dari mana?”


Namun pagi berikutnya ia tetap datang ke sekolah.


Tetap tersenyum kepada siswa.


Tetap menyapa guru.


Tetap memimpin upacara.


Tetap menyusun program.


Tetap mencari siswa.


Tetap mencari peluang.


Tetap berpikir bagaimana sekolah bisa lebih baik.


Karena ia sadar bahwa dirinya bukan hanya sedang mengurus sebuah lembaga pendidikan.


Ia sedang menjaga amanah Persyarikatan.


Jika Sekolah Hebat, Muhammadiyah Jaya


Kita harus menyadari bahwa sekolah adalah salah satu wajah terbesar Muhammadiyah di tengah masyarakat.


Masyarakat mungkin tidak setiap hari datang ke kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Masyarakat mungkin tidak membaca keputusan-keputusan Persyarikatan. Tetapi masyarakat melihat sekolah Muhammadiyah.


Mereka melihat gurunya.


Mereka melihat siswanya.


Mereka melihat kedisiplinannya.


Mereka melihat kebersihan sekolahnya.


Mereka melihat prestasinya.


Mereka melihat akhlaknya.


Mereka melihat bagaimana sekolah memperlakukan orang tua.


Dari sanalah masyarakat kemudian membuat penilaian.


Jika sekolah Muhammadiyah bagus, masyarakat akan berkata:


“Muhammadiyah hebat.”


Jika sekolah Muhammadiyah maju, masyarakat akan berkata:


“Muhammadiyah serius dalam pendidikan.”


Jika lulusan sekolah Muhammadiyah memiliki karakter, kompetensi, dan prestasi, maka nama Muhammadiyah akan semakin dipercaya.


Karena itu, kemajuan sekolah sesungguhnya bukan hanya tentang sekolah.


Kemajuan sekolah adalah bagian dari kemajuan Muhammadiyah.


Sebaliknya, jika sekolah mengalami kemunduran, dampaknya juga bukan hanya dirasakan oleh sekolah. Kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah dapat ikut menurun.


Inilah mengapa pendidikan harus ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis Persyarikatan.


Ketika Sekolah Gagal, Kepala Sekolah yang Disalahkan


Ada realitas yang terkadang pahit untuk dibicarakan.


Ketika sekolah berhasil, banyak orang ikut merasa bangga.


Tetapi ketika sekolah gagal, kepala sekolah sering menjadi orang pertama yang dituding.


Siswa berkurang?


Kepala sekolah dianggap tidak mampu mencari siswa.


Prestasi menurun?


Kepala sekolah dianggap tidak kreatif.


Keuangan sulit?


Kepala sekolah dianggap tidak mampu mengelola.


Program tidak berjalan?


Kepala sekolah dianggap tidak memiliki kepemimpinan.


Sekolah tidak berkembang?


Kepala sekolah dipertanyakan.


Padahal, apakah semua persoalan itu benar-benar berada di tangan kepala sekolah?


Tentu tidak.


Kepala sekolah adalah pemimpin, tetapi ia membutuhkan tim.


Kepala sekolah membutuhkan guru yang solid.


Membutuhkan tenaga kependidikan yang bekerja dengan hati.


Membutuhkan dukungan orang tua.


Membutuhkan alumni.


Membutuhkan masyarakat.


Membutuhkan Persyarikatan.


Dan yang paling penting, membutuhkan kebijakan dan dukungan nyata dari struktur Muhammadiyah yang menaungi sekolah tersebut.


Jangan sampai kita memberikan target yang tinggi kepada kepala sekolah, tetapi dukungan yang diberikan sangat rendah.


Jangan sampai kita meminta sekolah menjadi unggul, tetapi persoalan dasar sekolah tidak diselesaikan.


Jangan sampai kita berbicara tentang transformasi pendidikan, tetapi kepala sekolah masih sibuk mencari cara agar sekolah bisa bertahan dari bulan ke bulan.


Kepala Sekolah Tidak Boleh Hanya Menunggu


Namun demikian, semua keterbatasan itu juga tidak boleh menjadi alasan bagi kepala sekolah untuk pasrah.


Kepala sekolah harus berani berubah.


Tidak boleh lagi berpikir:


“Karena sekolah kami miskin, maka kami tidak bisa maju.”


Justru sekolah yang terbatas harus memiliki keberanian lebih besar untuk berinovasi.


Sekolah yang tidak memiliki gedung megah harus memiliki program yang hebat.


Sekolah yang tidak memiliki fasilitas lengkap harus memiliki guru yang kreatif.


Sekolah yang belum memiliki banyak siswa harus mampu memberikan pelayanan yang lebih baik.


Sekolah yang belum dikenal harus membangun komunikasi dan branding yang kuat.


Sekolah yang kecil harus memiliki mimpi yang besar.


Sebab sejarah perubahan tidak selalu dimulai dari sekolah yang besar.


Sering kali perubahan dimulai dari sekelompok kecil orang yang memiliki keyakinan besar.


Kepala Sekolah Harus Menjadi Entrepreneur Pendidikan


Kepala sekolah Muhammadiyah masa kini tidak cukup hanya memahami administrasi pendidikan.


Ia harus memiliki cara berpikir seorang entrepreneur pendidikan.


Bukan berarti sekolah dijadikan tempat mencari keuntungan.


Tetapi kepala sekolah harus mampu melihat peluang.


Jika ada potensi siswa di bidang olahraga, kembangkan olahraga.


Jika ada potensi seni, kembangkan seni.


Jika ada potensi teknologi, kembangkan teknologi.


Jika masyarakat membutuhkan pendidikan karakter, jadikan karakter sebagai kekuatan sekolah.


Jika sekolah memiliki lingkungan yang strategis, manfaatkan.


Jika memiliki alumni yang sukses, rangkul.


Jika memiliki jaringan Muhammadiyah, aktifkan.


Jika memiliki guru dengan kompetensi tertentu, jadikan kompetensi itu sebagai program unggulan.


Jangan semua sekolah Muhammadiyah harus menjadi sama.


Setiap sekolah harus menemukan keunggulannya sendiri.


Ada sekolah yang unggul dalam akademik.


Ada yang unggul dalam tahfiz.


Ada yang unggul dalam olahraga.


Ada yang unggul dalam seni.


Ada yang unggul dalam teknologi.


Ada yang unggul dalam kewirausahaan.


Ada yang unggul dalam pendidikan karakter.


Yang terpenting adalah sekolah memiliki identitas dan alasan yang kuat mengapa masyarakat harus memilihnya.


Jangan Hanya Menghitung Kekurangan


Kepala sekolah sering kali terlalu sibuk menghitung apa yang tidak dimiliki.


Tidak punya gedung bagus.


Tidak punya laboratorium lengkap.


Tidak punya dana besar.


Tidak punya banyak siswa.


Tidak punya fasilitas olahraga.


Tidak punya komputer yang cukup.


Padahal, sesekali kita perlu berhenti menghitung kekurangan dan mulai menghitung potensi.


Kita punya guru.


Kita punya siswa.


Kita punya alumni.


Kita punya orang tua.


Kita punya Persyarikatan.


Kita punya jaringan Muhammadiyah.


Kita punya masjid.


Kita punya masyarakat.


Kita punya teknologi.


Kita punya media sosial.


Kita punya kreativitas.


Dan yang paling penting:


kita punya semangat untuk berubah.


Itulah modal awal yang sering kali lebih mahal daripada uang.


Sekolah Muhammadiyah Harus Berani Bermimpi Besar


Saya percaya, sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya bercita-cita untuk bertahan.


Kita harus bercita-cita untuk unggul.


Jangan hanya bertanya:


“Bagaimana agar sekolah kita tidak tutup?”


Tetapi harus mulai bertanya:


“Bagaimana agar sekolah kita menjadi sekolah pilihan masyarakat?”


Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan siswa.


Tetapi pikirkan bagaimana membuat orang tua bangga menyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah.


Jangan hanya mengejar jumlah.


Kejar juga kualitas.


Jangan hanya membangun gedung.


Bangun budaya sekolah.


Jangan hanya mengejar prestasi.


Bangun karakter.


Jangan hanya mengejar akreditasi.


Bangun kepercayaan masyarakat.


Karena sekolah yang hebat bukan hanya sekolah yang gedungnya megah.


Sekolah hebat adalah sekolah yang mampu mengubah kehidupan siswanya.


Persyarikatan Harus Hadir


Di sinilah peran Persyarikatan menjadi sangat penting.


Kepala sekolah memang harus bertanggung jawab.


Tetapi kepala sekolah jangan dibiarkan sendirian.


Jika sekolah mengalami kesulitan, harus ada pendampingan.


Jika kepala sekolah membutuhkan strategi pengembangan, harus ada pembinaan.


Jika sekolah membutuhkan jaringan, Persyarikatan harus membantu membuka jaringan.


Jika sekolah memiliki potensi, Persyarikatan harus membantu mengembangkannya.


Kita harus membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang saling menguatkan.


Jangan sampai sekolah yang satu maju sendiri sementara sekolah yang lain tertinggal sendirian.


Sekolah Muhammadiyah harus saling belajar.


Sekolah yang berhasil harus berbagi praktik baik.


Sekolah yang sedang kesulitan harus mendapatkan pendampingan.


Kepala sekolah yang berhasil harus menjadi mentor bagi kepala sekolah lainnya.


Karena kita tidak sedang membangun sekolah untuk kepentingan pribadi.


Kita sedang membangun peradaban.


Guru Adalah Kekuatan Utama


Dalam perjalanan mengubah sekolah, kepala sekolah juga harus menyadari bahwa guru adalah kekuatan utama.


Tidak ada sekolah hebat tanpa guru yang hebat.


Gedung boleh sederhana.


Fasilitas boleh terbatas.


Tetapi jika guru memiliki semangat belajar, kreativitas, keteladanan, dan kepedulian terhadap siswa, sekolah akan tetap memiliki masa depan.


Karena itu, kepala sekolah harus mampu membangun budaya kerja yang sehat.


Guru jangan hanya diberikan tugas.


Guru juga harus diberikan kepercayaan.


Guru jangan hanya dituntut.


Guru juga harus didampingi.


Guru jangan hanya dinilai.


Guru juga harus dikembangkan.


Ketika guru merasa dihargai, ia akan bekerja dengan hati.


Dan ketika guru bekerja dengan hati, siswa akan merasakan manfaatnya.


Siswa Adalah Alasan Kita Berjuang


Pada akhirnya, semua perjuangan kepala sekolah dan guru kembali kepada satu tujuan: siswa.


Mereka adalah alasan mengapa sekolah harus terus bertahan.


Mereka adalah alasan mengapa kita harus terus memperbaiki diri.


Mereka adalah alasan mengapa kita tidak boleh menyerah.


Mungkin hari ini kita melihat seorang siswa yang biasa saja.


Tetapi siapa tahu, sepuluh atau dua puluh tahun lagi ia menjadi pemimpin bangsa.


Mungkin hari ini ia datang ke sekolah dengan seragam sederhana.


Tetapi siapa tahu, suatu hari nanti ia menjadi dokter, guru, pengusaha, ulama, teknolog, birokrat, atau pemimpin Muhammadiyah.


Dan mungkin suatu hari nanti ia kembali ke sekolah dan berkata:


“Saya bisa seperti ini karena dahulu sekolah Muhammadiyah memberikan saya kesempatan.”


Kalimat sederhana itu mungkin menjadi penghargaan terbesar bagi seorang kepala sekolah.


Jangan Takut Menjadi Kepala Sekolah di Sekolah yang Kecil


Kepada para kepala sekolah Muhammadiyah yang sedang berjuang dalam keterbatasan, jangan merasa rendah diri.


Sekolah kecil bukan berarti mimpi harus kecil.


Sekolah miskin bukan berarti gagasan harus miskin.


Fasilitas terbatas bukan berarti prestasi harus terbatas.


Jumlah siswa sedikit bukan berarti masa depan harus sedikit.


Justru mungkin kita sedang berada pada titik awal dari sebuah perubahan besar.


Kita tidak tahu kapan hasil perjuangan itu datang.


Tetapi kita harus yakin bahwa setiap langkah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan meninggalkan jejak.


Teruslah berlari meskipun jalannya penuh kerikil.


Karena mungkin kita tidak akan menikmati seluruh hasil perjuangan itu.


Tetapi generasi setelah kita akan menikmati sekolah yang lebih baik.


Muhammadiyah Jaya Dimulai dari Sekolah yang Berdaya


Kita sering berbicara tentang Muhammadiyah yang berkemajuan.


Tetapi kemajuan itu tidak boleh berhenti sebagai slogan.


Ia harus terlihat di sekolah.


Terlihat dalam cara guru mengajar.


Terlihat dalam cara kepala sekolah memimpin.


Terlihat dalam prestasi siswa.


Terlihat dalam pelayanan kepada orang tua.


Terlihat dalam kebersihan lingkungan.


Terlihat dalam pemanfaatan teknologi.


Terlihat dalam kemandirian sekolah.


Dan yang paling penting, terlihat dalam kepercayaan masyarakat.


Transformasi pendidikan tidak boleh hanya menjadi wacana dalam seminar, lokakarya, rapat, atau dokumen.


Transformasi harus sampai ke ruang kelas.


Sampai ke halaman sekolah.


Sampai kepada guru.


Sampai kepada siswa.


Sampai kepada masyarakat.


Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan seberapa indah kita berbicara tentang perubahan, tetapi seberapa nyata perubahan itu dirasakan oleh peserta didik dan masyarakat.


Penutup: Jangan Biarkan Kepala Sekolah Berjuang Sendirian


Menjadi kepala sekolah Muhammadiyah memang berat.


Ia harus memikirkan siswa.


Memikirkan guru.


Memikirkan orang tua.


Memikirkan keuangan.


Memikirkan fasilitas.


Memikirkan prestasi.


Memikirkan masa depan sekolah.


Dan pada saat yang sama, ia juga harus menjadi wajah Muhammadiyah di tengah masyarakat.


Maka kita harus memberikan penghargaan kepada kepala sekolah yang terus berjuang dalam keterbatasan.


Namun penghargaan saja tidak cukup.


Mereka membutuhkan dukungan.


Kepala sekolah harus berani berubah.


Guru harus berani belajar.


Sekolah harus berani berinovasi.


Persyarikatan harus berani memberikan dukungan.


Dan seluruh warga Muhammadiyah harus berani membangun ekosistem pendidikan yang kuat.


Sebab sekali lagi:


Jika sekolah hebat, Muhammadiyah jaya.


Jika sekolah maju, Persyarikatan semakin dipercaya.


Jika siswa berprestasi dan berakhlak, kader Muhammadiyah akan semakin kuat.


Dan jika sekolah gagal, jangan buru-buru mencari siapa yang salah.


Mari bertanya terlebih dahulu:


“Apa yang sudah kita lakukan untuk membuat sekolah itu berhasil?”


Karena sekolah Muhammadiyah bukan tanggung jawab kepala sekolah seorang diri.


Sekolah Muhammadiyah adalah tanggung jawab kita bersama.


Dan kepada setiap kepala sekolah yang sedang berjuang dalam keterbatasan:


Jangan menyerah.


Mungkin hari ini kita miskin fasilitas.


Mungkin hari ini kita miskin anggaran.


Mungkin hari ini kita kekurangan siswa.


Tetapi jangan pernah kita miskin gagasan, keberanian, keikhlasan, dan perjuangan.


Sebab sekolah yang besar tidak selalu lahir dari modal yang besar.


Kadang-kadang, sekolah yang besar lahir dari orang-orang kecil yang memiliki keberanian untuk bermimpi besar dan tidak pernah berhenti berjuang.


Jika sekolah Muhammadiyah kuat, Muhammadiyah akan kuat.

Jika sekolah Muhammadiyah unggul, Muhammadiyah akan semakin jaya.

Dan jika sekolah Muhammadiyah berkemajuan, insyaallah masa depan Muhammadiyah juga akan berkemajuan.


Oleh: Abril

Posting Komentar

0 Komentar