Mengenal Lebih Dekat Ivoni Munir, Sosok Muda Bersahaja Low Profile dan Peduli

SOLOK, kiprahkita.com Sosok tokoh muda Ivoni Munir, S. Farm, Apt yang juga low profile dan sangat merakyat. Ia merupakan Ketua DPRD Kabupaten Solok periode 2024 - 2029 dari partai Amanat Nasional.

 

Siapa yang tak kenal dengan sosok muda, bersahaja dan merakyat Ivoni Munir, S. Farm Apt, Panduko Sati kini menjadi perbincangan hangat para tokoh masyarakat.

Bukan tanpa alasan, pria kelahiran Kinari, Kabupaten Solok,16 Juli 1982 dengan jiwa kepemimpinannya yang menyentuh hati, berjuang tanpa lelah, berbuat tanpa membedakan dan selalu membela kepentingan masyarakat.

Ivoni Munir terlahir dari pasangan alm H. Munir Manti Datuk Rajo Nan Sati dan Hj. Nurjanis Binti Khalik di Kinari-Kabupaten Solok.

Ayahnya dulu seorang pedagang Sapi, sementara ibundanya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Namun, sebagai seorang ibu rumah tangga tak mencukupi kebutuhan hariannya. Untuk mencukupi kebutuhan ekonominya, sang ibunda juga bekerja sebagai petani di daerahnya

Namun, di balik setelan jas dan safari parlemennya, siapa sebenarnya sosok Ivoni Munir, S. Farm, Apt putra Kinari Kabupaten Solok ini?

Menurut informasi yang dapat dipercaya, Ivoni Munir meruapakan kemenekan kandung dari H. Darlius Khalik yang bergelar Panduko Sati. Ia juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Solok periode 1997-1999 silam.

Ivoni Munir duduk di Parlemen sebenarnya ada bakat dan darah politik sang sang mamak didirinya yang mengalir, sehingga kursi empuk itupun ia jalani.

Menelisik perjalanan karier sang Ketua yang juga pecinta motor trabas.

Semasa kecil ia senantiasa menghabiskan hari-harinya di kampung halaman, mulai dari Pendidikan dasar hingga sekolah lanjutan pertama. Setelah menamatkan SMP di Kinari, Ia melanjutkan studi di SLTA Adabiah Kota Padang dan tamat tahun 2000.

Tidak hanya sampai di SMA, Ivoni Munir pun melanjutkan Studinya di Universitas Andalas Padang, Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Setelah lulus dari Fakultas Farmasi, ia melanjutkan studinya kejenjang profesi Apoteker dan mendapatkan gelar Apt.

Semasa Sekolah dan kuliah di Kota Padang, Ivoni Munir terjun aktif dibeberapa organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Kinari (IPPK), Menjabat Ketua Osis Adabiah. Sedangkan, semasa di perguruan tinggipun ia Pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa FMIPA, selanjutnya Koordunator Kesra BEM FMIPA Unand.

Setelah manamatkan studinya di Farmasi Unand Padang, Ivoni Munir sehari-hari menjalankan Bisnis Suplier dan distributor alat-alat medis/kesehatan dibawah peruhaan CV. Miranti Adilha.

Saat terjun melakoni bisnis, ia tidak sendirian. Ivoni Munir berkolaborasi bersama sang kakak perempuannya Nurlena Munir yang tergabung pada organisasi gabungan perusahaan Farmasi Sumbar dan Gabungan perusahaan Alat Kesehatan Laboratorium (Gakeslab).

Dari dunia bisnis menuju Pengabdian Publik dengan terjun kedunia politik. Pengalaman belasan tahun di perusahaan Alkes memberinya perspektif unik dan memberikan ruang serta pengalaman bagi dirinya.

Namun, Ia mulai melangkah dan melek politik. Kesetiaannya pada garis perjuangan Ivoni Munir yang lebih dikenal Mak Pon bukanlah "orang baru" yang sekadar mencari panggung. Ia adalah kader ideologis yang telah setia bersama Partai Amanat Nasional sejak tahun 2008. 

Dalam kancah politik di Kabupaten Solok dan kader PAN, Ivoni Munir terpilih menjadi Anggota DPRD Kab. Solok pada pemilihan legislatif 2019 sebagai anggota biasa.  Berselang 2tahun kemudian, ia menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Solok.

Sebuah harapan baru bagi masyakat Kabupaten Solok khususnya Nagari Kinari membawa misi besar sebagai menjembatani kepentingan masyarakat dengan kebijakan pemerintah. 

Kepemimpinan dan kepeduliannya ditengah situasi darurat ini, Ketua DPRD Solok, Ivoni Munir, S.Farm.Apt, memastikan bahwa lembaga legislatif tidak tinggal diam.

Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD, ia menyampaikan empati mendalam dan komitmen bahwa DPRD akan berada di garis depan mendampingi masyarakat melewati masa sulit ini.

"Atas nama pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Solok, kami menyampaikan rasa duka dan empati yang mendalam. Mari kita lewati situasi ini bersama-sama. Tidak ada yang berdiri sendiri. Ini saatnya saling menguatkan,” ungkap Ivoni Munir.

Itulah kelebihan yang dimiliki Ivoni Munir, tak kenal lelah, tak kenal waktu dan tanpa membedakan ia berjibaku turun kelapangan memberikan rasa empati terhadap warga yang ditimpa bencana. Bahkan, iapun rela kelapangan dengan motor trail menjelajahi puing-puing reruntuhan, kayu balok, pasir dan tanah longsor.

"Politik adalah jalan pengabdian dan politik adalah seni," sebuah prinsip yang nampaknya benar-benar dijalankan oleh Ivoni Munir, S. Farm, Apt Panduko Sati dalam melayani masyarakat.

Di tengah politik yang semakin bising oleh baliho, pidato berlapis retorika, dan elit yang sibuk mengamankan citra, sosok seperti Ivoni Munir terasa seperti anomali—atau justru pengingat tentang apa seharusnya politik itu bekerja.

Ia tidak datang dari rahim oligarki. Ia lahir dari keluarga yang tahu arti keringat, dari ibu yang bertani demi dapur tetap mengepul, dari ayah pedagang sapi yang mengajarkan bahwa hidup tidak bisa dinegosiasikan dengan janji kosong. Dari latar itulah Ivoni Munir memahami satu hal penting: politik bukan panggung, melainkan ladang kerja.

Banyak politisi bicara tentang rakyat. Ivoni memilih hadir di tengah rakyat. Saat bencana datang, ketika lumpur, kayu balok, dan reruntuhan menjadi pemandangan harian warga, ia tidak menunggu laporan di meja rapat. Ia turun, bahkan dengan motor trail, menyusuri jalur yang tak ramah kamera. Sebuah simbol sederhana, namun keras maknanya: empati tidak bisa diwakilkan.

Dalam konteks politik lokal, ini penting. Sebab yang sering terjadi justru sebaliknya: rakyat dipaksa memahami elite, bukan elite yang belajar memahami rakyat. Ivoni membalik logika itu. Ia tidak memposisikan DPRD sebagai menara gading kebijakan, melainkan sebagai jembatan—kadang rapuh, kadang berlumpur—yang harus dilewati bersama.

Menariknya, Ivoni Munir datang dari dunia farmasi dan bisnis alat kesehatan. Dunia yang menuntut presisi, efisiensi, dan akuntabilitas. Ia membawa logika itu ke politik. Bagi Ivoni, kebijakan publik seharusnya bekerja seperti manajemen yang baik: tepat guna, cepat, dan berdampak langsung. Tidak bertele-tele, apalagi berputar-putar demi kepentingan kelompok.

Namun justru di sinilah tantangannya. Politik yang terlalu manusiawi seringkali kalah oleh politik yang terlalu lihai. Politik yang bekerja diam-diam sering dikalahkan oleh politik yang pandai berisik. Maka pertanyaannya bukan apakah Ivoni Munir peduli—itu sudah terjawab—melainkan sejauh mana sistem politik memberi ruang bagi orang-orang seperti dia untuk tetap jujur tanpa harus menjadi naif.

Ia adalah representasi politik yang langka hari ini: low profile di tengah budaya pamer, bekerja di tengah budaya bicara, dan hadir di tengah budaya absen. Tapi sejarah politik selalu memberi catatan: mereka yang bekerja dengan hati harus lebih kuat dari mereka yang bermain dengan kekuasaan.

Ivoni Munir mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa politik bukan soal siapa paling lantang berbicara, melainkan siapa paling berani bertanggung jawab. Pada akhirnya, rakyat tidak butuh pemimpin yang sempurna. Rakyat hanya butuh pemimpin yang tidak lupa jalan pulang—ke rakyatnya. ASM*

Posting Komentar

0 Komentar