JAKARTA, kiprahkita.com Ketika menyampaikan Pidato Kebangsaan pada Selasa (18/8) di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jakarta, Saya menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang yang melibatkan seluruh komponen bangsa.


Kemerdekaan tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari pengorbanan fisik sekaligus perjuangan pemikiran dan intelektual para tokoh bangsa.




Kecintaan terhadap bangsa harus diwujudkan melalui pengabdian, tanggung jawab, dan kesediaan menjaga kepentingan rakyat, bukan justru mengambil keuntungan dari negara.


Muhammadiyah yang sejak didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 mengembangkan pendidikan Islam modern dengan memadukan agama, ilmu pengetahuan, dan orientasi kebangsaan. Gerakan tersebut kemudian berkembang melalui pendirian sekolah, rumah sakit, poliklinik, media, kepanduan Hizbul Wathan, hingga organisasi perempuan ‘Aisyiyah.


Berbagai gerakan tersebut pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya menyiapkan masyarakat Indonesia agar menjadi bangsa yang sehat, terdidik, dan cerdas sehingga mampu mengisi kemerdekaan.


Saya juga menekankan bahwa kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan dalam sikap memberi, bukan meminta apalagi mengambil dari negara. Bagi seorang pemimpin, politisi, pengusaha, maupun warga negara, kecintaan terhadap bangsa harus mendorong jiwa luhur untuk menjalankan semua kewajiban, serta menghindari tindakan yang merugikan negara dan kepentingan umum. Cinta itu hakikatnya memberi, bukan menuntut apalagi mencuri. *

Posting Komentar

0 Komentar