PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Pengalaman mengerjakan kuis perkuliahan menjadi pelajaran berharga bagi saya sebagai mahasiswa S2 PAI UM Sumatera Barat. Awalnya, saya mengira memiliki waktu enam hari untuk mengerjakan kuis, ternyata setelah dibuka, waktu pengerjaannya hanya 30 menit. wkkkkk... keren pengkaderan S2 UM Sumbar, sesuai banget dengan materi QS. Ar-Rum Ayat 30, aku masih kecil ilmunya.
Pendahuluan
Al-Qur'an tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan spiritual umat Islam, tetapi juga memberikan landasan filosofis untuk memahami hakikat kita sebagai manusia, ilmu pengetahuannya, dan pendidikannya. Salah satu ayat yang memiliki makna mendalam dalam kajian filsafat pendidikan Islam adalah QS. Ar-Rum ayat 30.
Ayat ini menjelaskan tentang fitrah manusia sebagai bagian dari ketetapan Allah yang menjadi dasar dalam menjalani kehidupan.
Allah Swt. berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).
![]() |
| Mahasiswa S2 PAI Kelas 1C 2026 |
Ayat tersebut mengandung pesan bahwa manusia memiliki fitrah yang menjadi bagian dari penciptaannya. Dalam perspektif pendidikan Islam, fitrah bukan sekadar konsep teologis, melainkan juga landasan untuk memahami potensi manusia dan arah pengembangannya melalui pendidikan.
Fitrah Manusia dalam Perspektif Filsafat Islam
Fitrah manusia dapat dikaji melalui beberapa cabang filsafat Islam. Pertama, filsafat manusia atau antropologi filosofis, yang membahas hakikat manusia dan potensi yang dimilikinya, kemampuan berpikir, belajar, mengenali nilai-nilai kebaikan, serta mengembangkan kesadaran spiritual.
Potensi tersebut perlu dibimbing agar berkembang secara positif.
Kedua, filsafat ketuhanan, hubungan manusia dengan Allah sebagai Pencipta. QS. Ar-Rum ayat 30 mengarahkan manusia menjalani kehidupan sesuai agama yang lurus.
Dalam konteks ini, pendidikan Islam tidak memisahkan pengembangan intelektual dari pembentukan kesadaran beragama.
Ketiga, epistemologi atau filsafat pengetahuan, yang membahas sumber, proses, dan kebenaran pengetahuan. Dalam pendidikan Islam, akal dan pengalaman seperti di atas berperan dalam proses belajar manusia. Wahyu (Al Quran) menjadi pedoman dalam memahami kebenaran keagamaan dan menentukan orientasi kehidupan manusia itu.
Keempat, aksiologi atau filsafat nilai, berkaitan dengan tujuan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak cukup hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga perlu digunakan untuk kebaikan, kemaslahatan umat, dan tanggung jawab moral.
Dengan demikian, QS. Ar-Rum ayat 30 dapat dijadikan titik tolak untuk memahami hubungan antara fitrah, pengetahuan, nilai, dan tujuan hidup manusia.
Fitrah, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan Islam
Dalam filsafat pendidikan Islam, fitrah manusia menjadi salah satu landasan untuk merumuskan tujuan pendidikan. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, melainkan upaya membimbing dan mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh.
Ilmu pengetahuan berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, dan membantu manusia memahami realitas kehidupan. Namun, penguasaan ilmu perlu disertai dengan akidah yang kokoh dan akhlak yang mulia (Islam).
Hubungan tersebut dapat dirumuskan sebagai: pendidikan mengembangkan potensi fitrah dan kemampuan berpikir melalui ilmu pengetahuan, dengan akidah Islam sebagai landasan serta akhlak sebagai pedoman pemanfaatannya (sesuai soal kuis) pilihan A.
Rumusan ini menempatkan aspek intelektual, spiritual, dan moral secara terpadu. Akidah memberikan orientasi keimanan, ilmu pengetahuan mengembangkan kemampuan memahami kehidupan, sedangkan akhlak membimbing manusia dalam menerapkan pengetahuan secara bertanggung jawab (sesuai soal kuis) pilihan A.
Oleh sebab itu, keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari nilai akademik atau prestasi intelektual, tetapi juga dari perkembangan kepribadian, integritas, tanggung jawab, dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari mereka (sesuai soal kuis) bantahan pada opsen C.
Sebuah Kuis dan Pelajaran Pentingnya Ketelitian dalam Menjalani hidup
Pemahaman terhadap filsafat pendidikan Islam tidak hanya berlangsung melalui membaca buku ternyata, mengikuti perkuliahan, atau menyelesaikan tugas akademikpun. Pengalaman sehari-hari dalam proses belajar juga dapat menjadi ruang refleksi yang sangat berharga.
Hal ini terasa dalam sebuah pengalaman saat mengerjakan kuis perkuliahan ini. Pada awalnya, waktu kuis yang tersedia untuk mengikuti kuis terlihat berlangsung selama enam hari. Namun, setelah kuis dibuka, ternyata waktu pengerjaannya hanya 30 menit.
Sayangnya, batas waktu 30 menit tersebut luput dari perhatian. Ketika kuis sedang dikerjakan, berpikir dan dikira koneksi internet mengalami gangguan karena layar laptop tiba-tiba bermasalah hingga kuis tertutup. Akibatnya, kuis selesai nilai yang tercatat adalah nol. Maa sya Allah!
Pengalaman tersebut tentu menimbulkan rasa kecewa sekaligus penasaran dan malu. Terlebih, kejadian itu berlangsung dalam proses perkuliahan jenjang magister. Ternyata menuntut kemandirian, kecermatan, dan tanggung jawab akademik di luar ekspektasi logika.
Namun, jika direnungkan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak kalah penting dari materi perkuliahan. Pemahaman terhadap konsep-konsep ilmiah harus berjalan seiring dengan keterampilan praktis, termasuk membaca instruksi secara teliti, mengelola waktu, mempersiapkan perangkat, dan mengantisipasi kendala teknis. Pengalaman memang guru berharga.
Dalam konteks pendidikan Islam, pengalaman ini juga dapat menjadi bahan refleksi tentang pentingnya sikap tanggung jawab, kesabaran, kejujuran, dan kemauan memperbaiki diri. Mengakui bahwa batas waktu kurang diperhatikan merupakan langkah awal untuk belajar dari kesalahan tanpa harus terjebak dalam rasa malu yang berlebihan.
Tentu, kendala teknis juga merupakan faktor yang patut dijelaskan secara jujur. Apabila diperlukan, mahasiswa dapat menyampaikan kronologi kejadian dan memohon pertimbangan mengenai kemungkinan pengerjaan ulang atau kebijakan akademik lainnya. Keputusan tetap berada pada dosen atau pihak yang berwenang.
Ketika Nilai Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan
Nilai akademik merupakan salah satu indikator pencapaian belajar, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan dan potensi seseorang. Nilai nol dalam satu kuis tidak serta-merta berarti mahasiswa tidak memahami materi atau tidak mampu menyelesaikan studinya dengan baik.
Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri. Mahasiswa dapat memperbaiki strategi belajar, meningkatkan ketelitian, dan mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi penilaian berikutnya. Pengalaman bagian dari proses belajar.
Jika dikaitkan dengan QS. Ar-Rum ayat 30, manusia memiliki fitrah ceroboh dan pelupa maka potensi negatif ini perlu diarahkan serta dikembangkan. Di sinilah pendidikan memberikan ruang bagi proses tersebut melalui pengetahuan, pengalaman, pembiasaan, dan pembentukan karakter.
Karena itu, kesalahan tidak menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi, selama disikapi dengan kesadaran, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki diri.
Bagi mahasiswa pascasarjana, proses menjadi pembelajar yang matang bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Kematangan justru terlihat dari kemampuan memahami penyebab kesalahan, mengambil pelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Renungan
Pengalaman mengerjakan kuis perkuliahan menjadi pelajaran berharga bagi saya sebagai mahasiswa S2 PAI UM Sumatera Barat. Awalnya, saya mengira memiliki waktu enam hari untuk mengerjakan kuis, ternyata setelah dibuka, waktu pengerjaannya hanya 30 menit. wkkkkk
Kurang teliti membaca keterangan batas waktu yang tertera di bagian bawah, saya pun terkejut ketika waktu berjalan begitu cepat. Belum selesai klik-menjawab soal, koneksi internet eror menarik perhatian dan layar laptop mendadak bermasalah hingga kuis tiba-tiba tertutup dengan nilai nol. Ops waktu habis.
Rasanya campur aduk, antara kesal, kecewa, dan malu banget, tetapi kalau diingat kembali, kejadian ini juga mengundang tawa. Hehehe. Inilah barangkali bagian dari pengkaderan mahasiswa pascasarjana yang tidak tertulis dalam RPS: belajar teliti membaca instruksi, mengatur waktu, menghadapi kendala, dan berani mengakui kekurangan diri.
Jika dikaitkan dengan QS. Ar-Rum ayat 30, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa potensi manusia perlu terus dikembangkan melalui proses belajar dan evaluasi diri. Saya menyadari bahwa nilai akademik memang penting, tetapi ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan memperbaiki diri juga merupakan bagian dari keberhasilan pendidikan. Keren.
Meskipun kali ini harus menerima nilai nol, saya berharap pengalaman ini menjadi pengingat agar lebih cermat menghadapi kuis berikutnya. Sebab, nilai boleh nol, tetapi semangat belajar jangan sampai ikut nol! Yusriana*

0 Komentar