Kasus ISPA di Bukittinggi Meningkat, Tembus 2.410 Kasus pada September 2026

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Bukittinggi terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat 2.410 kasus sepanjang September 2026, di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Kepala Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, Ramli Andrian, Senin (19/10/2026), mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tidak sehat.




“Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih,” ujar Ramli.


Ia juga mengingatkan masyarakat agar memberi perhatian khusus kepada balita dan lanjut usia (lansia), yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Warga diminta memantau kondisi kesehatan anggota keluarga dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila gejala gangguan pernapasan memburuk.


Kasus ISPA Terus Meningkat

Data Dinkes Bukittinggi menunjukkan jumlah kasus ISPA mengalami peningkatan berturut-turut sejak Juli 2026. Pada Juli, tercatat 1.247 kasus, kemudian naik menjadi 1.788 kasus pada Agustus, dan mencapai 2.410 kasus pada September.


Rata-rata kasus harian juga meningkat dari 46 kasus pada Juli menjadi 74 kasus pada Agustus dan 92 kasus per hari pada September.


Memasuki Oktober, tren peningkatan masih berlanjut. Rata-rata kasus ISPA tercatat 98 kasus per hari, dengan jumlah tertinggi mencapai 124 kasus dan terendah 72 kasus.


“Angka tersebut masih berada di atas kondisi normal. Dalam keadaan normal, jumlah kasus ISPA di Bukittinggi biasanya tidak melebihi 70 kasus per hari,” jelas Ramli.


Hingga 15 Oktober 2026, Dinkes telah mencatat 1.285 kasus ISPA. Angka tersebut merupakan data sementara untuk Oktober dan belum mencerminkan jumlah kasus sepanjang bulan.


Balita dan Lansia Rentan Terdampak

Ramli menyebutkan, kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia. Namun, balita dan lansia perlu mendapat perhatian lebih, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.


Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, masyarakat diminta membatasi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.


Masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan dan merasakan kondisinya memburuk diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.


Pemko Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap, Pemerintah Kota Bukittinggi menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi pelajar. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan serta melakukan pembagian masker.


Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan kabut asap, terutama bagi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan.


Dinkes mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan menerapkan langkah pencegahan selama kualitas udara belum membaik. Perkembangan kasus ISPA dan kondisi udara perlu terus dipantau untuk mengantisipasi risiko kesehatan yang lebih luas.*

Posting Komentar

0 Komentar