PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang sukses menggelar kegiatan Jaulah Santri Film Festival (SANFFEST) 2026 bertema “The Verses in Motion” pada Sabtu (17/10/2026). Bertempat di Aula Zainuddin Labay, kegiatan inspiratif ini dihadiri oleh 119 peserta dan 55 pendamping yang berasal dari 57 pondok pesantren se-Sumatera Barat, serta santri utusan MTsS DMP dan MAS KMI Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Rangkaian acara diawali secara khidmat dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta doa bersama.
Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Ibu Fauziah Fauzan El Muhammady, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan kehangatannya menyambut seluruh peserta serta tim SANFFEST 2026. Beliau juga memperkenalkan sejarah pendiri Diniyyah Puteri, Ibunda Rahmah El Yunusiyyah, yang memiliki wawasan seni mendalam sebagai seorang penulis naskah dan sutradara teater di zamannya.
“Selamat datang kepada para sineas internasional dan seluruh tim SANFFEST di Kampus Diniyyah Puteri. Terima kasih telah mempercayakan Diniyyah Puteri sebagai salah satu tuan rumah penyelenggaraan Jaulah ini. Kami sangat mengapresiasi kehadiran para santri dan ustadz/ustadzah pendamping dari pondok pesantren se-Sumatera Barat. Perlu diketahui, Ibunda Rahmah El Yunusiyyah dulu juga merupakan seorang penulis naskah dan sutradara teater. Kami berharap momentum ini dapat membakar kembali jiwa seni dan dakwah para santri untuk melahirkan karya-karya film yang menginspirasi dunia,” ungkap beliau.
Sementara itu, Kak Fadhli Sapawie, Program Director SANFFEST 2026 sekaligus sineas nasional, menjelaskan bahwa Jaulah SANFFEST diselenggarakan di beberapa titik di Indonesia untuk memperluas edukasi perfilman di kalangan santri. Melalui Jaulah ini, SANFFEST menghadirkan sineas-sineas internasional berpengalaman agar ilmu dan proses kreatif pembuatan film dapat diserap langsung oleh para santri. Acara semakin meriah dengan penampilan memukau dari Rahmah Ethnic Orchestra.
Sesi Talkshow: Dari Pengalaman Sineas Palestina Hingga Peluang Ekosistem Pesantren
Sesi talkshow yang dipandu oleh Kak Fadhli Sapawie sebagai moderator menghadirkan Ameen Nayfeh, sutradara dan penulis naskah ternama asal Palestina. Didampingi santri kelas XII sebagai penerjemah, Ameen membagikan kisah perjuangan awal kariernya di dunia film yang penuh tantangan.
Ameen menceritakan bahwa di awal perjalanannya, pilihannya menjadi sineas sempat tidak disetujui oleh keluarga. Ia pun harus menempuh pendidikan di jurusan keperawatan selama 4 tahun terlebih dahulu sesuai keinginan keluarga, sebelum akhirnya berangsur-angsur mendalami perfilman secara perlahan agar keluarganya dapat mengerti. Perjuangannya semakin berat karena sebagai pemula yang belum memiliki rekam jejak pengalaman, proses mencari pendanaan tidaklah mudah. Ketika melakukan pitching ide film ke berbagai calon investor, tidak ada satu pun investor yang mau menanamkan modal pada proyek film yang diajukannya saat itu.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Menurut Ameen, membuat film adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan, terutama dalam tahap riset. Film pendek karyanya yang berjudul 200 Meters membutuhkan waktu riset hingga 8 tahun sebelum akhirnya sukses meraih 27 penghargaan di festival film internasional bergengsi serta ditayangkan di berbagai ajang film dunia.
“Buatlah karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kalian, atau angkatlah tema yang secara personal terasa dekat dengan diri kalian,” pesan Ameen kepada para peserta.
Selanjutnya, Uda Mario Irwinsyah (Aktor & Produser Film) mengajak santri untuk lebih bersemangat menciptakan tontonan Islami berkualitas. Beliau menekankan pentingnya merebut ruang di media sosial sebagai ladang dakwah kreatif.
“Media sosial saat ini menjadi rujukan utama anak muda, tetapi sangat disayangkan banyak konten yang beredar kurang layak untuk ditiru. Di sinilah tugas dan ladang dakwah santri untuk menghadirkan konten-konten edukatif dan inspiratif melalui media sosial, YouTube, maupun film. Konten berunsur dakwah saat ini masih sangat sedikit, dan lewat SANFFEST inilah kita harapkan lahir karya-karya Islami yang menarik dan menjadi panduan positif bagi masyarakat. Ingat, Tontonan menjadi Tuntunan,” ujar Uda Mario.
Kak Fadhli Sapawie menambahkan bahwa pesantren memiliki potensi besar yang sudah siap untuk dikembangkan.
“Di pesantren, kalian sebenarnya sudah punya modal awal yang sangat kuat. Ekosistemnya ada, pasarnya ada, bahkan sarana dan potensinya lengkap. Kalian bisa memberdayakan santri maupun guru sebagai talent, serta mengoptimalkan perangkat yang ada di sekolah. Ini adalah peluang besar jika dikelola dengan serius,” pukas Kak Fadhli.
Diskusi Antusias dan Penutupan
Sesi tanya jawab berlangsung sangat antusias. Para santri aktif mengajukan pertanyaan seputar tips penulisan naskah, teknik membuat film agar penonton tidak merasa terpaksa menyaksikan, hingga
Tips akting bagi santri yang memiliki kepribadian introvert.
Rangkaian acara Jaulah SANFFEST 2026 di Perguruan Diniyyah Puteri ditutup menjelang waktu Ashar dan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh narasumber, tamu undangan, dan peserta.*

0 Komentar