Apris Pujikan Anak Panah Muhammadiyah di Sumpur Kudus

ilustrasi anak panah mencapai targetnya.(pixabay/giovannaorlando)

PADANG, kiprahkita.com - Program Anak Panah Muhammadiyah yang dilaksanakan Buya Prof. Syafii Maarif membuahkan hasil menggembirakan. Pola seperti ini, patut pula menjadi contoh bagi pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat.


"Siddiq, salah seorang anak panah Muhammadiyah yang berkiprah di Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, bekerja keras mengembangan persyarikatan, menggerakkan cabang dan ranting dalam tiga tahun ini. Kini dia pamit untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta," jelas Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumbar H. Apris.


Menurutnya, dengan penuh rasa bangga, apresiasi yang sangat tinggi, dan ucapan terima kasih tak terhingga, Siddiq dilepas melanjutkan pendidikan, dengan harapan di masa yang akan datang menjadi pimpinan persyarikatan yang mampu memajukan organisasi.


Sepeninggal Siddiq, menurut Apris, kini masih ada dua Anak Panah Muhammadiyah di Sumpur Kudus, kampung halaman Buya Syafii yang pernah menjadi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, yakni Inggit dan Fakhri.


Apris menjelaskan, Siddiq telah melaksanakan tugas keumatan dengan baik di Sumpur Kudus, antara lain dengan menggerakkan cabang dan ranting, memberikan pengajian, menghidupkan kegiatan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan mengadakan latihan Tapak Suci.


Terakhir, ujarnya, dia ikut terlibat dalam pelaksanaan Musyda Muhammadiyah Sijunjung, dan Muscab Muhammadiyah Kecamatan Sumpur Kudus.


"Istilah Anak Panah Muhammadiyah itu tidak bisa dilepaskan dari sosok Buya Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah dan seorang negarawan. Ketika tamat Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1956, beliau ditugaskan menjadi Anak Panah Muhammadiyah di Pohgading, Pranggabaya, Lombok Timur," jelas Apris yang juga merupakan ketua Badan Pembina Pesantren Muhammadiyah (BPPM) Kauman Padang Panjang.

Apris menjelaskan, dilaksanakannya program pengiriman Anak Panah Muhammadiyah ke Sumpur Kudus itu bertolak dari adanya kerisauan seorang tokoh, terhadap kondisi perkembangan Muhammadiyah di kampung halamannya.


Meskipun beliau sudah tokoh Muhammadiyah tingkat nasional, sebut Apris, memimpin Muhammadiyah tidak hanya di Indonesia bahkan sampai keluar negeri, tetapi merasa ada yang kurang, ketika Muhammadiyah di kampungnya tidak hidup dan tidak berkembang.


Untuk itu, imbuhnya, ada upaya yang dilakukannya dengan mengirimkan kader mewakili dirinya untuk berbuat bagi kampung halamannya, dan ternyata itu berhasil. "Tentu apa yang dilakukan Buya, dapat menginspirasi para pimpinan Muhammadiyah di tingkat apa pun, untuk melakukan hal yang sama seperti yang dicontohkan Buya di atas," katanya.


Apris menegaskan, menghidupsuburkan cabang dan ranting Muhammadiyah bukanlah perkara mudah. Perlu ada tenaga penggerak yang mempunyai semangat, ghirah, pengetahuan, dan keterampilan untuk menggerakkan persyarikatan, mereka sering disebut sebagai kader.


"Keberadaan kader penggerak itu di ranting dan cabang Muhammadiyah sangat diperlukan. Untuk itu, sudah harus ada kesinambungan program Anak Panah Muhammadiyah tersebut, atau program dan kegiatan lain yang semacam itu," sarannya.(mus)

Posting Komentar

0 Komentar