Muhammadiyah Menurut Aku (3) - Kiprah Kita | Nuansa Baru

Breaking News

Sabtu, 25 Mei 2024

Muhammadiyah Menurut Aku (3)

Dengan makin berkembang dan meriahnya kegiatan Muhammadiyah, membuat orang-orang tertentu merasa tidak senang dan khawatir. Sehingga tersiarlah isu, mereka akan menyerang Mushalla Muhammadiyah dan membubarkan kegiatan-kegiatan Muhammadiyah.


Oleh Kasman Katik Sulaiman

Warga Muhammadiyah, tinggal di Kota Sungai Penuh


OPINI, kiprahkita.com - "Sungguh berat jadi kader Muhammadiyah. Ragu dan bimbang lebih baik pulang,“ kata Jendral Sudirman, yang merupakan salah seorang kader terbaik Muhammadiyah, yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional.


Ungkapan Sudirman tersebut benarlah adanya. Untuk menjadi kader Muhammadiyah itu tidak mudah, butuh komitmen dan konsisten tinggi, agar mampu bertahan terhadap berbagai tantangan ketika berdakwah. Kalau tidak nanti akan gugur dengan sendirinya.


Agar mampu dan tangguh serta bertahan menghadapi tantangan berdakwah dalam Muhammadiyah, setiap kader Muhammadiyah harus tahu, dan mengenal lebih jauh apa itu Muhammadiyah. 


Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Begitu pepatah lama menyebutnya. 


Beruntung saya telah mengenal Muhammadiyah sejak masih kecil, dari ayah yang menjadi aktivis Muhammadiyah di kampung kami; Kayu Tanam, Sumbar. 


Muhammadiyah telah berdiri di kampung kami ketika masa perintis kemerdekaan. Sayang, tidak ada catatan resmi, tahun berapa Muhamamdiyah berdiri dan memulai aktifitasnya di sana. 


Di kampungku Kayu Tanam, terdapat sebuah Cabang Muhamadiyah yang bernama Cabang 2 x 11 Kayu Tanam, dan memiliki 5 buah ranting yaitu Kayu tanam, Anduring, Kepala Hilalang, Guguk dan Sicincin. 


Dalam Muhammadiyah ayah dipercayakan sebagai salah seorang Pimpinan Muhammadiyah di tingkat ranting dan cabang.  


Sering saya menyaksikan ayah, aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah seperti pengajian, mengurus sekolah (madrasah) yang dimiliki oleh cabang dan ranting Muhammadiyah. 


Saat-saat tertentu ayah pun senang  membawa saya hadir  dalam pengajian-pengajian Muhammadiyah  tersebut. 

Masjid Muhammadiyah Al-Muttaqien Kayu Tanam.(ist)
Kerap kali terjadi permasalahan-permasalahan dalam Muhammadiyah seperti masalah tanah wakaf, pertentangan dari orang-orang yang tidak senang dengan Muhammadiyah menjadi pembicaraan penting dan serius.


Kalau ada pimpinan Muhammadiyah yang bertamu ke rumah, mendiskusikan permasalahan tersebut dengan ayah, saya pun kadang ikut menyimak pembicaraan mereka, dan sedikit paham apa yang mereka bincangkan tersebut.

 

Ayah juga bercerita, beliau sudah menjadi aktivis Muhammadiyah sejak masih muda. Ketika masih menjadi pelajar Thawalib Padang Panjang, ayah telah bergabung dengan Muhammadiyah.  


Walaupun tidak bersekolah di Muhammadiyah, tetapi ayah sudah ikut serta menggalang dana buat pembangunan kampus Kauman Muhammadiyah Padang Panjang kala itu, sambil menyebutkan nama-nama tokoh Muhammadiyah yang masih diingatnya.


Di antara nama tokoh itu, tersebutlah alm H. Buya Abdullah MS, tokoh Muhammadiyah di Batipuh Baruh. Belakangan saya mendapakan cerita yang luar biasa ternyata, ternyata istri saya waktu masih gadis kecil hingga remaja, tinggal di ini.


Istri Buya bernama Umi Syafiah Majid. Beliaulah yang telah membimbing dan mendidik istri saya itu; Jusmaniar hingga kemudian menjadi kader Nasyiah dan Aisyiyah. Kini dia mejadi aktivis Aisyiyah di Sungai Penuh.

 

Ayah senang  membaca, sehingga banyak majalah Suara Muhammadiyah, Panji Masyarakat yang dibawanya pulang ke rumah untuk dibaca saat mengisi waktu senggang sepulang kerja dari sawah atau lainnya. 


Majalah itu merupakan langganan Pimpinan Ranting Muhammadiyah, sehingga beliau bisa ikut membacanya dan membawa pulang ke rumah. 


Walaupun ayah hanya seorang petani kampung dan kesukaannya berorganisasi, berdiskusi (maota) soal agama dan politik serta membantu orang-orang di bidang kemasyarakatan dan adat, sudah menjadi kebiasaan ayah yang sangat sulit untuk ditagah (dilarang) .  


Banyak orang-orang kampung yang datang ke rumah, sekedar untuk meminta pertolongan dan pendapat dari ayah, untuk penyelesaian persoalan dan perkara-perkara adat dan harta pusaka. 


Karena semenjak ayah pulang dari rantau pada awal tahun 70-an dan menikah dengan ibu, ayah sudah diberi beban di kaum sukunya  menjadi datuk (penghulu suku).


Boleh disebut, pada ayah terhimpun jiwa pejuang agama, terutama jiwa pejuang Muhammadiyah, pejuang kepentingan rakyat dan pejuang adat, karena beliau sangat kuat dalam memegang prinsip dan sangat keras, jika bertemu dengan orang-orang yang coba-coba menariknya dalam melanggar prinsip agama, adat dan undang-undang negara. 


Sejak mula pandai membaca, maka kebiasaan ayah pun saya tiru dengan ikut membaca majalah-majalah Suara Muhamadiyah, Panji Masyarakat dan Media Dakwah yang dibawa ayah pulang ke rumah. 


Ketiga majalah tersebut telah ikut membentuk jiwa dan fikiran saya lebih jauh, untuk mengenal Muhammadiyah serta sepak terjangnya dalam berdakwah di masyarakat. 


Sekitar akhir tahun 1987 di Cabang Kayutanam mulai diaktifkan latihan bela diri Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Pelatihnya berasal dari Pimda Pariaman.  


Saya juga ikut menjadi siswa Tapak Suci dan sempat mendapatkan Sabuk Dasar Melati 1.  Semenjak aktifnya latihan Tapak Suci, kegiatan Muhamamdiyah makin ramai. 


Tua dan muda makin banyak yang ikut di kegiatan Muhammadiyah. Pengajian bulanan yang biasanya diadakan dalam ruangan MDA, akhirnya satu ruangan MDA disulap menjadi mushalla. 


Mushalla ini semakin ramai jamaah yang datang, kegiatan Muhammadiyah makin meningkat, pengajian rutin, penyelenggaraan pengumpulan zakat fitrah, obadah kurban, takziah ke ahli musibah (meninggal dunia) tentu dengan cara ala Muhammadiyah. 


Dengan makin berkembang dan meriahnya kegiatan Muhammadiyah, membuat orang-orang tertentu merasa tidak senang dan khawatir. Sehingga tersiarlah isu, mereka akan menyerang Mushalla Muhammadiyah dan membubarkan kegiatan-kegiatan Muhammadiyah.(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar