Khansa Restu Mahadiya: Mahasiswi Ilmu Hadis UIN Bukittinggi Bedah Fenomena FoMO Idola Korea di Forum Internasional
BUKITTINGGI, kiprahkita.com –Siapa bilang Ilmu Hadis hanya membahas hal-hal klasik? Di tangan Khansa Restu Mahadiya, mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, studi keislaman justru jadi sangat relevan dengan isu kekinian—termasuk fenomena kecanduan K-Pop!
![]() |
Khansa Restu Mahadiya |
Dalam ajang International Student Research Workshop 2025 yang digelar 31 Juli hingga 8 Agustus, Khansa mempresentasikan karya ilmiahnya yang berjudul “Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) Terhadap Idola Korea Perspektif Hadis”. Ia membahas bagaimana rasa takut “ketinggalan tren” di kalangan fans idola Korea bisa memicu perilaku boros, konsumtif, bahkan fanatik, dan bagaimana hadis Nabi bisa dijadikan panduan untuk menghadapinya.
FoMO (Fear of Missing Out) merupakan gejala psikologis ketika seseorang merasa cemas karena tidak ikut dalam momen-momen menarik yang terjadi di media sosial atau lingkungan sekitarnya. Dalam konteks dunia hiburan Korea, FoMO ini sering terlihat ketika penggemar merasa harus selalu update, harus beli album edisi terbaru, atau ikut voting online demi idolanya.
“Kalau tidak beli lightstick resmi, rasanya kayak bukan fans sejati. Padahal bisa jadi itu pengaruh FoMO yang berlebihan,” jelas Khansa saat pemaparannya.
Ia lalu mengaitkan fenomena ini dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang memperingatkan umat agar tidak hidup berlebihan, termasuk dalam hal mengidolakan seseorang. Beberapa hadis yang ia kutip bahkan secara eksplisit menyinggung larangan bersikap fanatik dan boros tanpa alasan yang jelas.
Presentasi Khansa menjadi salah satu yang mencuri perhatian dalam forum internasional ini, yang bertajuk “Bridging Minds: Workshop on AI-Driven Innovations in Academic Writing and Learning”. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai negara dan dibimbing langsung oleh akademisi dari Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Dibuka oleh Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si, workshop ini menjadi ajang kolaboratif untuk memperkuat kemampuan menulis dan berpikir kritis mahasiswa, dengan sentuhan teknologi dan konteks global.
Lewat topik yang kekinian namun tetap berakar pada sumber Islam klasik, Khansa menunjukkan bahwa Ilmu Hadis tidak hanya relevan di masjid dan ruang kajian, tapi juga bisa menjawab persoalan budaya pop dan kehidupan digital anak muda masa kini. Bravo.
Mahasiswi Ilmu Hadis UIN Bukittinggi, FoMO K-Pop Lewat Perspektif Hadis di Forum Internasional
Khansa Restu Mahadiya, Dalam paparannya, menyoroti perilaku konsumtif dan fanatisme berlebihan di kalangan fans K-Pop yang terdorong oleh rasa takut ketinggalan tren (FoMO). Ia lalu mengaitkannya dengan pesan Nabi Muhammad SAW dalam hadis-hadis yang melarang sikap berlebih-lebihan, boros, dan fanatisme tanpa alasan yang syar’i.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai negara dan dibimbing oleh akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Lewat topik yang kekinian dan pendekatan klasik, Khansa membuktikan bahwa studi hadis tetap relevan dalam menghadapi realita digital dan budaya pop masa kini.(IM/KRM/YS)*
0 Komentar