Prof. Abdul Mu’ti dan Dr. Bakhtiar, Ketua PWM Bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam Percakapan Senja dan Jejak Kepemimpinan Kemanusiaan

Di Antara Percakapan Senja dan Jejak Kepemimpinan Kemanusiaan

PADANG, kiprahkita.com Di sela-sela kesibukan dari lapangan kemarin sore, setelah dua hari mendampingi Prof. Abdul Mu’ti—Mendikdasmen yang teguh dengan ketenangan dan keluasan pandangnya—saya mendapat kesempatan langka bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat yang tengah menjadi perbincangan nasional. Pertemuan itu berlangsung di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), yang dalam beberapa pekan terakhir kian fenomenal akibat aksi-aksi kemanusiaan serta keputusan-keputusan spontan KDM yang kerap merekam sisi paling jujur dari kondisi masyarakat di Indonesia.

Prof. Abdul Mu’ti dan Dr. Bakhtiar, Ketua PWM bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM)

Sekitar 25 menit kami berbincang sambil menunggu jadwal keberangkatan Pak Menteri kembali ke Jakarta. Waktunya memang singkat, tetapi gagasan yang muncul di dalamnya terasa pekat—seperti percikan cahaya yang memantul di tengah ruang tunggu yang sibuk. Di situ saya menyaksikan sendiri, bagaimana figur publik yang sering viral itu ternyata menyimpan kedalaman cara berpikir yang tidak selalu tampil dalam potongan-potongan video media sosial.

Diskusi kami tidak hanya berkisar pada kedatangannya ke Sumatera Barat dalam misi kemanusiaan. Ia justru membuka percakapan lebih luas dan lebih dalam: cara ia mengelola pemerintahan daerah, bagaimana ia menata keuangan publik, dan strategi melindungi warganya dari berbagai tekanan sosial maupun struktural. Di balik kesederhanaan bahasa tubuhnya, ada kejelasan visi tentang bagaimana negara seharusnya hadir tanpa membuat rakyat merasa berjarak.

KDM bertutur tentang pengalamannya membangun fasilitas publik ketika ruang fiskal daerah berada dalam situasi terbatas. Menurutnya, efisiensi bukan sekadar memangkas anggaran, tetapi mengubah cara berpikir: bagaimana satu rupiah anggaran publik benar-benar menyentuh kehidupan mereka yang paling membutuhkan. Ia percaya bahwa publik melihat kinerja bukan dari angka, melainkan dari jejak perubahan yang mereka rasakan.

Yang paling menarik, tentu saja pembahasannya mengenai aksi-aksi kemanusiaannya di Sumbar. KDM dengan tegas menepis anggapan bahwa langkah-langkah tersebut didanai oleh APBD. “Tidak sepeser pun,” ujarnya. Seluruh bantuan yang ia bawa, seluruh respons cepat terhadap masyarakat yang ia temui di lapangan, dihimpunnya sendiri dari banyak pihak—kerabat, sahabat, jejaring pribadi, dan dukungan masyarakat luas yang percaya terhadap integritasnya. Di tengah ketidakpastian politik dan skeptisisme publik terhadap pejabat, justru langkah ini menjadi pengecualian yang menyegarkan.

Lebih jauh, ia juga menyampaikan rencananya untuk membangun fasilitas-fasilitas dan intervensi sosial tertentu tanpa membebani anggaran daerah. Baginya, kepemimpinan bukan semata-mata jabatan administratif, melainkan peluang menjadi perantara kebaikan dalam bentuk paling nyata. Ia ingin menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak selalu harus menunggu mekanisme birokrasi yang berbelit.

Pertemuan singkat itu memberi kesan mendalam. Saya melihat bahwa di balik popularitasnya di media, KDM sedang menawarkan model kepemimpinan yang tidak hanya berpijak pada prosedur, tetapi dihidupkan oleh empati. Di tengah banyaknya pejabat yang tersandera formalitas, ia memilih bergerak dengan keberanian dan kedekatan langsung kepada rakyat. Mungkin itu pula alasan mengapa videonya mudah viral—bukan karena sensasi, tetapi karena orang-orang merindukan pemimpin yang benar-benar hadir.

Senja di BIM sore itu menjadi saksi percakapan penting tentang tata kelola, kemanusiaan, dan masa depan kepemimpinan di Indonesia. Dan mungkin, dari pertemuan singkat itulah saya belajar bahwa terkadang, perubahan besar justru dimulai dari niat sederhana: menjadi manusia bagi manusia lain.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga mengunjungi Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatra Utara, Jumat 05 Desember 2025 seteah dariSumbar. KDM tiba di Bandara FL Tobing Pinangsori, disambut Bupati Tapteng Masinton Pasaribu. Informasi diperoleh, KDM dan Masinton Pasaribu sempat melihat kondisi lokasi banjir bandang dan longsor di kawasan Kecamatan Tukka, melalui udara (naik heli).


KDM sempat diagendakan akan mengunjungi pengungsi di GOR Pandan, namun karena kemungkinan faktor cuaca. 
di Tapanuli Tengah tidak jadi. (BM Facebook)*

Posting Komentar

0 Komentar